Lokakarya Penulisan Karya Ilmiah


lokakaryaHari Satu kemarin, 14 Februari, dikala sebagian orang memperingati hari kasih sayang, saya menghadiri acara lokakarya penulisan karya ilmiah yang diselenggarakan oleh Program Pendidikan Matematika Pascasarjana UPI. Ketika saya membaca judul lokakarya tersebut, saya pikir materi yang akan dipaparkan oleh para pembicara berkisar tentang langkah-langkah menulis sebuah karya ilmiah, jenis-jenis karya ilmiah, dan prosedur pengajuan sebuah karya agar dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal khususnya jurnal internasional. Ternyata, dugaan saya meleset.

Materi yang disampaikan oleh dua pembicara yaitu, Ibu Eni Karlieni dari Fakultas Sastra UNPAD dan Prof. Yaya S. Kusumah, salah satu dosen favorit saya di UPI, berkaitan dengan peningkatan kemampuan Berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis sebuah karya ilmiah. Jadi, saya kemarin mendapatkan materi tentang bagaimana membuat sebuah kalimat dan paragraph yang baik sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Selain itu, dibahas pula beberapa kesalahan-kesalahan yang sering ditemui dalam penulisan karya ilmiah baik tesis maupun disertasi.

Ibu Eni sebagai pembicara utama memaparkan tentang bagaimana membuat sebuah kalimat dan paragraf yang baik dan benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Hm,…. Rupanya tidak mudah juga lho membuat sebuah kalimat yang baik. Sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia sebuah kalimat yang baik dan benar setidaknya harus mempunyai sebuah subyek dan sebuah predikat (Saya pikir ini sih sama dengan aturan pada Bahasa Inggris). Nah, yang menjadi masalah adalah, jenis kata apa saja yang dapat menduduki kedua posisi tersebut? yang jelas, posisi subyek haruslah ditempati oleh “Kata Benda”. Bagaimana dengan posisi predikat? Hal ini membuat saya sedikit bingung. Ternyata posisi dari predikat bukan hanya dapat ditempati oleh “kata kerja” saja namun dapat ditempati oleh jenis kata yang lain. Nah lho?! (ini agak berbeda dengan Bahasa Inggris). Beberapa bentuk berikut dapat diterima sebagai sebuah kalimat yang benar yaitu;

Subyek+ Predikat = => Contoh

Kata Benda + Kata Benda ==> Pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran tradisional*)

Kata Benda +  Kata Sifat ==> Penerapan model pembelajaran kooperatif sangat efektif*)

Kata Benda+ Kata Keterangan ==> Ketidakbehasilan penbelajaran ini karena perencanaan yang kurang mantap.


Menurut pembicara, kalimat-kalimat yang digunakan dalam sebuah karya ilmiah harus merupakan kalimat efektif. Kalimat efektif yaitu, kalimat yang disusun sesuai kaidah-kaidah bahasa yang berlaku yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada pada pikiran penulis. Dari pengertian tersebut, saya menyimpulkan bahwa kalimat efektif memiliki dua syarat utama yaitu, yang pertama kalimat tersebut harus benar sesuai kaidah bahasa dan yang kedua harus tepat menggambarkan gagasan sang penulis agar sampai kepada para pembaca atau pendengar. Jika demikian, syarat yang kedua ini haruslah memperhatikan audience dari tulisan tersebut. Agar gagasan yang ingin disampaikan tepat sasaran dan diterima dengan baik oleh pembaca atau pendengar bahasa yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan mayoritas audience. Namun sayangnya hal ini tidak disinggung sama sekali oleh Pembicara, barangkali karena karyatulis yang dimaksud oleh pembicara cenderung tendensius hanya berupa skripsi atau tesis saja yang memiliki audience tetap para akademisi dengan tingkat berpikir yang relatif sama.

Menurut saya pribadi walaupun sama-sama dilingkungan akademik, tetap saja pemilihan bahasa berdasarkan karakteristik audience harus diperhatikan. Misalnya, bahasa yang digunakan dalam makalah dengan audience guru tentu tidak sama betul dengan bahasa yang digunakan dalam makalah dengan audience dosen serta peneliti. Demikian pula bila menulis jurnal. Membuat tulisan matematika untuk dimuat dalam jurnal pendidikan tentu pemilihan kata-katanya tidak sama dengan membuat tulisan matematika untuk dimuat pada jurnal matematika atau pendidikan matematika.

Selain kedua syarat tersebut, kalimat efektif memiliki beberapa ciri-ciri yang berbeda dengan kalimat yang tidak efektif yaitu; (1) kesatuan gagasan atau kesepadanan, (2) koherensi atau keterpaduan, (3) kesejajaran bentuk atau paralelisme, (4) ketegasan atau penekanan ,(5) kehematan, (6) kevariasian, (7) kecermatan, dan (8) kelogisan atau penalaran. Nah, banyak kan syaratnya…. Ck..ck.. ternyata tidak mudah ya membuat kalimat efektif.

Baru pada penjelasan point (1) saya sudah membuat masalah J (sebetulnya saya tidak bermaksud membuat masalah lho,… benar-benar bertanya! Perihal ini sungguh membuat saya bingung).

Pada pembahasan perihal penggunaan kata penghubung, Ibu Eni memberikan contoh kalimat yang salah yang diambil dari tesis orang lain.

“Adapun sebagian mahasiswa subkelompk rendah menyatakan bahwa terkadang penjelasan dari dosen dirasakan terlalu cepat, karena waktu yang tersedia cukup sempit”

Menurut beliau kata penghubung “karena” pada kalimat tersebut kurang tepat. Kemudian, salah seorang peserta mengajukan kata “meskipun” dan ini dibenarkan. Tapi bagi saya, kata hubung tersebut menyebabkan kalimat menjadi tidak logis. Menurut saya, kalimat tersebut mencoba menjelaskan data hasil penelitian. Hal yang logis apabila dosen memberi penjelasan dengan cepat dalam waktu yang sempit. Dan menjadi sebaliknya bila penghubung “karena” diganti dengan “meskipun”. Menurut saya, akan lebih tepat bila penghubung “dan” atau “serta” yang digunakan untuk memaparkan dua fakta. Memang jika dilihat dari struktur kalimat kedua kalimat yang digabungkan tidak setara namun hal tersebut merupakan hasil pengamatan yang mengungkapkan fakta di lapangan.

Pembahasan ini, rupanya cukup menarik para peserta untuk mengemukakan berbagai pendapat sehingga diskusi menjadi lebih seru. Panjang, rumit, dan tidak berujung! He…he..he.. diskusi masalah ini dihentikan di jalan karena sudah menghabiskan sebagian besar waktu presentasi. Sayangnya kami tidak mendapatkan jawaban yang jelas untuk masalah ini. Pertanyaan inti dari masalah ini pada hakekatnya adalah, bagaimana membuat kalimat yang logis dan tepat susuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Karena seperti pada contoh tersebut, kalimat tersebut benar sesuai kaidah bahasa namun jelas tidak logis. Oya,.. satu lagi kritik dari saya berkaitan dengan contoh tersebut adalah, tidak dikonfirmasikannya kalimat tersebut dengan sang penulis sehingga sebetulnya tidak diketahui pasti apa yang hendak disampaikan oleh sang penulis kepada pembaca. Pada forum itu, baik Ibu Eni maupun kami hanya menduga gagasan sang penulis. Kami hanya dapat mengetahui bahwa kalimat tersebut tidak efektif, karena menimbulkan berbagai interpretasi yang berbeda bagi pembacanya.

Dalam makalah yang ditulis oleh Ibu Eni, terdapat pendapat Keraf (1980 : 36) yang menyatakan bahwa terdapat dua syarat yang harus dipehuni oleh sebuah kalimat efektif yaitu;

1. Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.

2. Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan pembicara atau penulis.

Dari uraian di atas, pada dasarnya ke-efektifan sebuah kalimat berkaitan dengan proses komunikasi. Kalimat berperan sebagai salah satu sarana komunikasi untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain. Secara langsung tidak dikaitkan dengan penggunaan kaidah bahasa. Sehingga pada dasarnya kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa namun dapat berperan tepat dalam menyampaikan gagasan penulis kepada audience dapat dikatakan sebagai sebuah kalimat efektif.

Berkaitan dengan penulisan karya ilmiah, kaidah Bahasa Indonesia memang tidak mudah diterapkan secara tepat untuk menyampaikan gagasan-gagasan penulis. Bahkan beberapa konsep tidak ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Hal ini tentu menyulitkan bagi penulis. Seperti contoh konsep “rigor” dalam teori belajar geometri Van Hiele. Tidak ada satu katapun dalam Bahasa Indonesia yang dapat mewakili konsep ini. Alangkah lebih baiknya bila kami diberikan teknik-teknik untuk mengatasi masalah seperti ini. J. (hm,.. sepertinya saya agak meloncat-loncat dalam menulis ya… menurut teori penulisan paragraf, hal ini tidak baik lho,….oleh karena itu, mari kita lanjutkan ke topic selanjutnya tentang pembuatan paragraf yang baik dalam rangka mengimplementasikan ilmu yang baru saja saya peroleh J).

Sebuah paragraph yang baik harus memenuhi dua ciri utama yaitu, koherensi dalam isi dan kohesi dalam bentuk. Demikianlah paparan yang disampaikan oleh Ibu Eni. Koherensi adalah kesatuan isi atau kepaduan maksud, terdapat tiga hal pokok yang harus diperhatikan berkaitan dengan konsep kepaduan ini yaitu, kelengkapan, kesatuan dan keruntutan. Maksudnya adalah, sebuah paragraf dengan sebuah gagasan utama harus didukung oleh kalimat-kalimat yang berkaitan dan saling mendukung dengan gagasan utama tersebut yang disusun secara runtut. Hm,… begitulah kira-kira yang saya pahami dari penjelasan beliau. Sedangkan makna kohesi dalam paragraph memiliki arti adanya hubungan yang erat dan perpaduan yang kokoh antar kalimat. Untuk mewujudkan hal ini terdapat beberapa saran yang dapat digunakan secara tepat diantaranya; kata transisi, kata ganti, repetisi, sinonim, hiponim, paralelisme dan elipsasi. Hm,… jangan tanya satu persatu apa maknanya ya,… karena beberapa konsep belum saya pahami seperti makna hiponim dan elipsasi. Pada sesi ini mood saya sempat menguap dan ulasan dalam makalah kurang menggigit.

Setelah presentasi tersebut, kami diminta untuk menelaah beberapa kalimat dan paragraf kemudian dilanjutkan dengan mencoba membuat kalimat dan paragraph yang benar. Tapi sayang, kegiatan ini tidak efektif. Hm,… seringkali kegiatan lokakarya yang seharusnya disertai dengan latihan memang berakhir hanya pada tataran seminar semata. Seperti sudah budaya saja, para pesertapun seringkali menyepelekan tugas-tugas yang diberikan. Saya tidak tahu mengapa hal ini sepertinya sudah membudaya di lingkungan akademik. Semestinya, lokakarya itu memang menghasilkan sebuah karya kan,…. Bukan sekedar sertifikat saja. Ups,… ngelantur lagi kan,…

Kembali ke bumi! (Ups! Ini sebuah kalimat yang baik atau bukan ya? ^0^)

Prof. Yaya pada kesempatan ini memaparkan tentang penulisan karya ilmiah secara lebih umum. Sayangnya makalah yang diberikan bukan berisi paparan yang disampaikan dalam lokakarya ini. Makalah yang diberikan pada peserta hanya sebagai sebuah contoh karya ilmiah yang ditulis oleh beliau. Beberapa hal yang saya peroleh antara lain sebagai berikut;

1). Pengertian tentang karya ilmiah.

Karya ilmiah itu, berbeda dengan karangan biasa. Karangan adalah tulisan hasil ciptaan sendiri yang berasal dari gagasan, pendapat atau pernyataan seorang pengarang. Sedangkan karya ilmiah ditulis berdasarkan tulisan, karangan, pernyataan atau gagasan orang lain yang tidak merupakan fiksi atau fantasi. (Ups,.. ini salah satu kelemahan saya seringkali sulit membedakan mana fakta dan mana fantasi ha..ha..ha…). sedangkan tulisan dalam skripsi, tesis atau disertasi itu yang juga merupakan salah satu bentuk karya ilmiah, dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk tesa. Apa itu tesa? Tesa adalah sebuah rumusan yang berupa kalimat yang dibuat sendiri dari kumpulan pendapat-pendapat orang lain. nah, seringkali banyak ditemukan dalam skripsi, tesis bahkan disertasi yang hanya berisi tulisan-tulisan orang lain tanpa dibuat sebuah tesa. Begitu paparan Pak Yaya yang disampaikan dengan guyonan-guyonan khas beliau dengan logat sunda yang kental dan ekspresi datar yang amat sangat saya gandrungi. Wah,.. pipi saya sampai pegal karena terus-terusan tertawa, sayangnya saya belum dapat menuliskan guyonan-guyonan tersebut dalam versi tulisannya L. Beliau punya referensi anekdot dan humor yang luar biasa banyaknya. Dan banyak dari humor dan anekdotnya yang merupakan humor cerdas, sehingga jika tidak paham konsepnya tidak akan tahu dimana letak lucunya. Seru deh!

Beliau banyak memberikan contoh dari tesis serta disertasi yang ada. Banyak ditemukan kecerobohan dalam penggunaan tanda baca dan pemanfaatan tabel atau gambar. Hal-hal kecil yang sering disepelekan ini terkadang sampai berulang sehingga dapat membentuk sebuh pola. Maksudnya pola “ketidaktahuan” he..he…he… oya beliau memberikan sebuah kat mutiara lho berkaitan dengan ketelitian ini. “Dengan memperhatikan hal-hal kecil itu berarti sedang menuju kepada kesempurnaan. Namun kesempurnaan itu bukanlah hal yang kecil”. Hm,…. Dalam kan maknanya……

2).Tahapan penyusunan karya ilmia

  • Pencarian fakta
  • Pencarian solusi yang mungkin tehadap permasalahan
  • Analisis secara obyektif dan mendalam berdasarkan teori dan metode yang sudah baku
  • Penyajian tulisan (laporan) secara ilmiah, mudah dipahami, runtun susunan bahasanya dan didukung referensi yang luas dan akurat.

Kata beliau kalau sulit mencari masalah dan fakta yang pertama dilakukan adalah membuat daftar pustaka lebih dulu. he…he..he.. iya, dengan membuat daftar pustaka lebih dulu berarti membaca banyak sumber sehingga dapat memantik untuk memunculkan masalah. Jadi logikanya terbalik ya,…. Bingung ndak?!

3). Pola penyusunan tulisan

Terdapat lima pola yaitu;

  • Pola pemecahan topic
  • Pola masalah dan pemecahan
  • Pola kronologii
  • Pola pendapat dan alasan pemikiran
  • Pola pembandingan

4). Jenis Penutursan tulisan

Terdapat 4 jenis penuturan tulisan karya ilmiah yaitu;

  • Deskripsi atau gambaran tertulis
  • Narasi atau kisah
  • Eksposisi atau penjabaran
  • Argumentasi atau penyajian alasan

5). Menyusun intisari informasi

Untuk dapat menyusun intisari informasi diperlukan teknik membaca yang baik yaitu skimming dan scanning. Pak yaya memberikan tips cara membaca untuk mengumpulkan fakta dan informasi, yaitu;

  • Memilih dan mengumpulkan pokok-pokok isi tisi bacaan
  • Mencari jawaban atas permasalah yang dimiliki (ajukan pertanyan 5 W 1H, what, who, when, where, why and How)
  • Mengenali bacaan secara seksama dan menguji kebenaran informasi
  • Mengenali karakteristik masalah dan langkah pemecahan yang mungkin serta menganalisis hubungan antara keduanya.

Materi selanjutnya adalah sistematika penulisan karya ilmiah, nah untuk ini tentu harus menyesuaikan dengan aturan yang berlaku di masing-masing institusi, sehingga tidak perlu saya tulis di sini.

Oya, pada sesi tanya jawab terdapat satu point penting yang saya garisbawahi yaitu;

“Sebuah judul tidak boleh berbentuk kalimat, judul harus berbentuk frase. Hindari penggunaan kata kerja pada judul sepanjang apapun judul itu!”

Hm,… walaupun belum semua detail hasil lokakarya saya ungkapkan, sepertinya paparan di atas sudah cukup banyak. Jadi tulisan ini saya akhiri sampai di sini saja ya. Semoga bermanfaat. Oya, jika menemukan kalimat atau paragraf yang kurang tepat, mohon saya diberitahu :).

*) Contoh Saya buat sendiri

12 thoughts on “Lokakarya Penulisan Karya Ilmiah

  1. Mbak, saya tertarik dengan tulisan tersebut, terutama yang menyebutkan:
    “Sebuah judul tidak boleh berbentuk kalimat, judul harus berbentuk frase. Hindari penggunaan kata kerja pada judul sepanjang apapun judul itu!”
    Kebetulan saya bekerja di BPK-RI, sering membuat judul temuan pemeriksaan.
    Kalau mbak tidak keberatan, saya ingin berkonsultasi lebih jauh tentang bentuk frase di atas.
    Saya berharap Mbak berkenan untuk menjawab permintaan saya ini dengan mengirim email ke agungswastika@yahoo.com. Untuk melihat profile saya sekilas dan hasil pekerjaan saya, bisa Mbak lihat di akisambudi.wordpress.com.
    Terima kasih.

  2. Pak Agung,

    Sebetulnya saya bukan pakar Bahasa Indonesia, hanya sebagai peserta saja pada lokakarya tersebut.

    Namun demikian, dengan senang hati saya akan berusaha membantu sedapat mungkin. Untuk berdiskusi lebih lanjut silahkan kirimkan email ke f4121da_n@yahoo.com.

    Wah,.. Bapak memiliki pekerjaan yang cukup menantang dan menarik ya. :)

    Ditunggu tindak lanjutnya. Terima kasih

  3. Aduh,.. Bu….

    Ternyata semakin banyak belajar justru semakin sadar bahwa masih banyak yang masih harus dipelajari lagi…..hick..hick..hick
    Nah lho…. bingung kan?! :)

  4. ‘Alaikumsalam,….

    Mau download apa bung Ferry?
    kalau tulisan saya silahkan saja diunduh, asalkan jangan lupa untuk menyertakan sumbernya ya,… :)
    Kalau ndak bisa di DL boleh dicopy kok :)

  5. Contoh kalimat dengan kata keseratus apa sich?
    Dan Makna nya juga dunz’s?
    Maksudnya makna kata keseratus?
    Makasich,,,,,,,,,,

  6. 1. Indonesia berada dalam urutan ke-100 dari 100 negara yang terkorup di dunia.
    2. Keseratus anak sekolah tersebut berangkat menuju eropa dalam rangka pertukaran pelajar.

    Pada contoh 1) kata ke-100 mnunjukkan urutan sedangkan pada contoh 2) kata keseratus mempunyai arti cacah anak sekolah.

    Mudah-mudahan tidak salah nih menjelaskannya. kbetulan saya bukan orang bahasa. :)

  7. Aduh maaf Hadi saya tidak berkecimpung di bidang ketatabahasaan dan kebetulan saat ini juga belum punya karya ilmiah tentang itu. Coba saja search sendiri lewat Mbah Google ya …:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s