Pemahaman Baru Tentang Pengertian “Kontekstual”


Mata Kuliah       : Matematika Realistik

Dosen                   : Prof. Jozua Sabandar, M.A.

Pertemuan         : 1/ 10 September 2012

Hari ini adalah hari pertama, mata kuliah Matematika Realistik dengan Prof. Jozua Sabandar. Diawal kuliah beliau memberikan beberapa buku rujukan yaitu:

1. Developing Realistic Mathematics Education (Keano Gravemeijer)

2. Realistic Mathematics Education in Primary School (Lyn Strefland)

3. Marja van den Heuvel van Huizen

Sejarah singkat RME (Realistic Mathematics Education) atau di Indonesia di kenal dengan PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) berasal dari Belanda  yang dicetuskan oleh tokoh pendidikan Freudenthal dan John de Lange. Ketika pada era 60-70 an Amerika Serikat dikejutkan dengan peluncuran Sputnik oleh Soviet, rupanya matematika modern menjadi pusat perhatian para peneliti di Amerika saat itu. Namun konsep tentang matematika modern ini belum sepenuhnya diujicobakan dan dinyatakan berhasil.  Merasa tersaingi oleh Soviet, maka ide matematika yang belum paripurna ini langsung diterapkan di Amerika, dan bahkan dibawa jug ake Indonesia. Nah, pada masa ini di Belanda para pendidik matematika tidak tergoda untuk mengadopsi matematika modern pada kurikulum mereka.

Ide dasar dari matematika realistik adalah pembelajaran matematika dimulai dari situasi kontekstual. Yang dimaksud dengan situasi kontekstual adalah situasi yang dapat dipahami anak sesuai dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki (prior knowledge). Situasi kontekstual diberikan dalam beberapa bentuk, namun tetap mengacu pada satu konsep yang ingin diajarkan. Yang jelas, konsep tidak disajikan dalam bentuk jadi dan ditransfer sebagai pengetahuan belaka melainkan dibangun dalam pikiran anak.

Setelah diberikan situasi sesuai dengan konteks yang dipahami anak, lalu diberikan masalah yang berkaitan dengan konteks tersebut. Anak didik pada awalnya diminta untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan berbagai cara sesuai dengan bekal prior knowledge masing-masing anak. Pada proses ini berlangsung suatu pembentukan  strategi yang dilakukan siswa. Siswa akan menngunakan pengetahuan informal yang mereka miliki untuk menyusun strategi dalammenyelesaikan masalah.

Setelah masalah dapat dipecahkan, maka guru bertanggung jawab untuk mulai membuat hubungan pengetahuan informal siswa yang masih berada pada tataran matematika horizontal menuju bentuk formal dari konsep yang akan diajarkan.  Bentuk matematika formal ini sering jug adisebut sebagai matematika vertical. Dalam bentuk ini penggunaan notasi matematika formal dikenalkan pada siswa. Selain itu, proses generalisasi juga memainkan peran penting.

Nah, salah satu hal yang menarik pada pertemuan pertama ini adalah pengertian tentang kontekstual atau situasi kontekstual. Selama ini  saya sendiri masih bimbang tentang pengertian kontekstual. Dulu tahun 2006 ketika saya masih aktif di PMRI saya sering bertanya apakah yang dimaksud dengan situasi kontekstual harus sesuai dengan kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari yang terjadi disekitar siswa? Karena menurut pengamatan saya, anak kecil itu suka dengan kartun dan khayalan yang itu jauh dari konteks kehidupan sehari-hari mereka namun anak-anak kecil ini dapat memahami situasi yang terjadi dalamd dunia dongeng atau kartun yang tidak nyata tersebut. Berangkat dari asusmsi itu, saya pribadi beranggapan bahwa kontekstual memang tidak harus melulu berhubungan dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari siswa melainkan suatu konteks yang sesuai dengan alam pikiran siswa.

Pada kuliah pertama ini akhirnya saya mendapat jawabnya dari Prof. Jozua Sabandar, MA. Ternyata situasi kontekstual itu ada tiga jenis, yaitu:

1. Pure context

2. Camouflage context

3. Mathematical context.

Nah, meskipun ketiga jenis ini belum sempat dijelaskan namun saya sudah dapat menduga bahwa sebetulnya yang disebut kontekstual itu tidak melulu harus berhubungan dengan situasi nyata atau kehidupan sehari-hari yang dekat dengan siswa.

Catatan:

Catatan ini tidak sama persis seperti yang disampaikan dosen melainkan sudah bercampur dengan pegetahuan yang saya miliki dan sudah mengalami proses asimilasi dan akomodasi hingga tersaji utuh. Selain itu contoh-contoh situasi nayata belum dapat diketik dalam cacatan ini, masih dalam catatan kasar. Contoh konteks nyata adalah tentang konsep pembagian pada siswa sekolah dasar dan konsep jumlah deret 1/x^n , untuk x tidak sama nol dan tidak sama dengan 1 untuk mathematical context

Tugas untuk minggu depan: buat kajian 3-5haldari bab Instructional desing as a learning process page 17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s