Dongeng Morteza

All posts in the Dongeng Morteza category

A LITTLE BOY AND HIS DADDY

Published October 27, 2011 by Momo Morteza

Setting: on a sunny day, a little boy are having a hot discussion with his daddy who are an engineer who are businessman.

LittLe Boy : “ Daddy, why you have to work almost everyday Dad?
Daddy : “ Of Course for collecting money, my boy”
Little Boy : “Why you should collect money dad?”
Daddy: “For buying everything that we want, boy”
Little Boy : “Ohw Daddy,…. Is that bad your condition Dad? I thought that you are still an engineer and doing your business very well, Dad . Oh,.. don’t worry Dad, I will help you to collect more money so you can work as an engineer again.”
Daddy : “….^o^….” (confused)

HUKUM DI NEGERI KABAYAN

Published August 13, 2011 by Momo Morteza

Suatu hari ketika seorang maling sedang beraksi di sebuah rumah, terjatuh dari plafon sehingga meninggal di tempat. Keluarga sang maling tidak terima atas kematiannya. Keluarga sang maling menuntut si pemilik rumah yang disatroni itu. Si pemilik rumah dihadapkan ke pengadilan. Dihadapan si hakim, pemilik rumah berargumentasi bahwa ia tidak bersalah, yang salah adalah si tukang pembuat rumah yang ceroboh memasang plafon. Lalu, sang hakim memanggil si tukang pembuat rumah untuk dihadapkan di meja hijau. Sang tukang pun, berargumentasi bahwa ia memang teledor ketika memasang kayu untuk plafon, namun hal itu dikarenakan ketika ia sedang memasang plafon, lewatlah seorang perempuan cantik berbaju kuning, sungguh menggoda sehingga ia tak dapat berpaling darinya. Dari argumentasi sang tukang, si hakim memerintahkan untuk segera menghadapkan si perempuan berbaju kuning. Di depan hakim, si perempuan berbaju kuning, berargumentasi bahwa ia tidak bersalah, karena ia sebenarnya ingin memakai baju pink, namun sang tukang wenter ternyata tidak memenuhi keinginannya, justru mewarnai bajunya dengan warna kuning. Hakim pun memerintahkan petugas untuk mencari tukang wenter. Ketika tukang wenter diadili, ia mengakui bahwa ia melakukan kesalahan telah mewarnai baju si perempuan dengan warna kuning bukan warna pink, atas pengakuannya tersebut ia dijatuhi hukuman mati.

Ketika algojo sudah siap di tempat jagal, sang wenter siap dihukum gantung. Kebetulan si tukang wenter adalah pria bertubuh tinggi, tingginya hampir dua meter. Si algojo yang otaknya hanya pas-pasan ini, berkali-kali berusaha menggantung si tukang wenter, namun tidak berhasil karena tiang gantungan kurang tinggi. Kemudian si algojo melapor kembali ke sang hakim.

“Wahai tuan hakim, saya tidak bisa mengeksekusi si tukang wenter karena tiang gantungnya kurang tinggi”
“Dasar Bodoh! Kalau begitu cari dong tukang wenter yang pendek”
“baik yang mulia”

Sang algojo pun mencari tukang wenter yang tingginya pas dengan tiang gantungan. Setelah dapat, segera dihadapkan ke hadapan si hakim. Dengan penuh keyakinan sang hakim membuat keputusan dan mengetok palu,
“saya putuskan tukang wenter bertanggung jawab dan bersalah maka harus dihukum gantung!”
Sang algojo dengan percaya diri akan melakukan eksekusi. Sesaat sebelum dieksekusi, sang algojo memberikan kesempatan pada tukang wenter pendek untuk berbicara. Tukang wenter hanya mengucapkan sebuah kalimat saja,

“Wahai algojo, apakah kesalahan saya sehingga saya harus mati ditiang gantungan ini”
Dengan yakin dan penuh wibawa sang algojo menjawab,
“kesalahan terbesar kamu adalah menjadi tukang wenter yang pendek!”

(Saduran cerita kang Ibing yang dituturkan kembali oleh Popoku)

Tikus oh Tikus

Published January 20, 2011 by Momo Morteza

Habis lihat berita tentang vonis untuk Gayus, kok saya jadi ingin menulis tentang “tikus” ya. Hush! Sembarangan! Sedikit kurang ajar ya! Memang apa hubungannya Gayus dengan tikus? Mana saya tahu… :) pokoknya tiba-tiba saya ingin menulis tentang tikus saja. Titik! Hati-hati nanti “beliau” bisa tersinggung lho… Eh, karenanya saya sapa Gayus dengan sapaan “beliau”  dengan tujuan “memuliakannya” sehingga “beliau” tak akan mengancam saya.

Tikus. Ya tikus! Itu loh satu-satunya binatang yang bisa pakai dasi. Eiitt… tunggu dulu! Masih ada satu lagi kok binatang yang pakai dasi. Itu tuh “Badak” sahabat saya sejak SMU, sekarang kan dia dah jadi ……. Di kantornya, jadi pasti dia juga suka pakai dasi. (hi..hi… bercanda lho …  duh takut….Ibu Dian marah nih….^_-). Eh,.. kembali ke topic semula, Tikus! Binatang yang satu ini benar-benar membuat saya gemas. Gemas, bukan karena lucu dan imutnya seperti yang diilustrasikan dalam tokoh kartun Tom and Jerry ataupun Mickey Mouse, tapi gemas ingin membinasakan dengan segera! Heran juga saya, mengapa binatang yang satu ini cukup banyak dijadikan tokoh kartun, padahal masih banyak hewan lain yang tidak menjengkelkan yang lebih menarik. Misalnya, kupu-kupu yang lucu, anjing laut yang menggemaskan atau undur-undur sekalian! :)

Selain terkenal sebagai salah satu musuh petani, tikus merupakan hama dalam rumah. Ia mengerat apa saja yang ada di rumah, dari sampah, kayu, karet, plastik, pakaian, sampai makanan manusia. Dasar hewan pengerat yang rakus! Apa saja bisa masuk ke dalam perutnya! Biasanya tikus senang tinggal di loteng rumah, dan menimbulkan suara gaduh di malam hari. Jaman dahulu, tikus biasanya hanya berani keluar dari sarangnya pada malam hari, ketika penghuni rumah sudah tertidur lelap. Namun, tidak demikian dengan tikus jaman sekarang, tidak lagi peduli, siang, malam, pagi, atau sore, dengan ringannya mereka mondar-mandir di sekitar rumah. Bahkan, seradak-seruduk ke segala arah untuk mencari makanan yang bisa diambil(bukan lagi dicuri). Lebih menjengkelkan lagi kalau tikus kecil alias mencit sudah mulai menjarah lemari pakaian. Duh,… mana tahan baunya bukan main, belum lagi pakaian bisa rusak dikerikitinya… Menjengkelkan pangkat dua!

Konon kabarnya, tikus bisa berani dan kurang ajar seperti sekarang ini, salah satu faktor penyebabnya adalah karena tikus adalah salah satu hewan cerdik yang cukup senang belajar. Tidak mengherankan jika beberapa pakar psikologi behavioristik juga menggunakan tikus untuk bahan penelitiannya. Bukan sekadar sebagai bahan percobaan yang baik, ternyata populasi tikus yang banyak dan senang nimbrung dengan manusia telah turut menciptakan lowongan pekerjaan yang tidak sedikit. Hingga saat ini banyak produk diciptakan untuk membasmi tikus ini. Eh, malah saya pernah tahu dari suatu film di negeri barat sana bahkan ada yang mempunyai profesi sebagai pembasmi tikus. Pembasmi tikus menjadi salah satu pekerjaan professional di sana.

Berurusan dengan racun tikus, pada akhirnya saya bertemu dengan beberapa jenis racun tikus. Ada yang berjenis lem, ada yang berjenis perangkap, ada yang berjenis makanan, bahkan ada juga yang berjenis alat dengan menggunakan gelombang. Bayangkan berapa banyak tenaga dan pikiran yang dicurahkan hanya untuk mengusir hewan yang satu ini. Semua ini tidak lain, karena ternyata para tikus itu adalah pembelajar.

Ada suatu jenis racun tikus yang amat mancur, jangka waktu lima menit setelah menelan, tikus langsung mati. Namun, ternyata hal ini dapat menimbulkan kecurigaan pada tikus-tikus yang lain, selain itu dalam waktu lima menit, tikus dapat kembali masuk ke dalam sarangnya sehingga mati disana dan menjadi bangkai yang sulit untuk di temukan. Ya tentu saja sulit ditemukan, pasalnya sarang tikus kan biasanya di tempat-tempat terpencil. Hal ini tentu menjadi masalah baru.

Singkat cerita akhirnya, Pilihan hati saya dan suami jatuh pada racun tikus dengan nama merk dagang “Dora” (he..he.. bukan tokoh kartun lho) dari Fumakilla. Racun tikus ini agak unik. Pasalnya racun tikus ini berjenis makanan, berbentuk butiran kecil-kecil dengan warna mencolok. Tikus tidak langsung mati setelah makan racun ini. Perlu  waktu 3 hingga 4 hari bagi tikus untuk mati setelah makan racun ini secara kontinu. Hal ini, dapat menghindari kecurigaan tikus-tikus lain atas sebab musabab kematian rekannya. Yang menarik, pada saat akan mati, sang tikus akan mencari tempat yang terang, karena penglihatannya sudah kabur bahkan buta. Dengan demikian bangkainya, dapat ditemukan dengan mudah ditempat-tempat yang terang. Tidak heran, di kemasannya tertulis bahwa racun tikus itu adalah hasil kerja sama RI dengan Jepang. Weh,..weh,… untuk soal racun tikus begini saja,… canggih juga. Praduga saya, ini hasil kerjasama riset.

Rupanya pilihan kami cukup tepat. Karena hingga saat ini sudah beberapa tikus menjadi korban. Satu per satu tikus tumbang, mayatnya di temukan di halaman depan rumah. Tikus-tikus yang masih hidup juga terlihat tidak curiga, mereka masih menghabiskan racun yang saya taburkan. Namun, kelemahannya racun ini adalah membutuhkan jumlah racun yang banyak untuk membunuh banyak tikus, harus berhati-hati dalam meletakkan racunnya, alih-alih bisa dimakan hewan lain, atau dijadikan mainan oleh anak-anak, yang tentu sangat berbahaya.

Produk pembasmi tikus lain, yang kami beli adalah lem tikus. Lem berikut papan perekatnya. Dengan merk dagang “Gadjah”. Pembasmi ini efektif untuk tikus yang berukuran agak kecil, hanya saja jika sudah dipasang disuatu tempat, maka perangkat selanjutnya harus dipasang di tempat yang berbeda. (ingat! Bahwa ikus itu hewan pembelajar!…) alat ini juga cukup efektif. Hanya saja satu perangkat hanya bisa mendapatkan satu ekor tikus. Sehingga jika dihitung-hitung cukup mahal juga. Selain itu, tidak bisa ditempatkan pada daerah-daerah terpencil karena ukurannya yang cukup besar.

Hal yang justru mengejutkan saya terjadi setelah saya mendapatkan tikus-tikus yang terperangkap, ataupun dalam keadaan sekarat. Entah mengapa tiba-tiba saya menjadi merasa iba padanya. Dalam sekejap hewan yang “awalnya” menjengkelkan tersebut tiba-tiba menjadi hewan imut dan lucu. Parahnya lagi, saya sampai lupa dengan kekurangajaran mereka yang senang membuat ulah dari menjarah makanan, pipis sembarangan, merusak pakaian, membuat gaduh, mengotori rumah, dan lain-lain. Saya pandangi matanya baik-baik, dan tidak sadar saya bilang begini “andai saja kamu tidak melakukan hal-hal kurang ajar, tentulah saya bersedia menjadikan kamu hewan peliharaan”. Hiks..hiks… lebay! Tapi, dengan lantang ibu saya memperingatkan! “Menjijikkan! ayo segera singkirkan tikus-tikus itu, dasar tikus yan memang begitu! Jangan tergoda oleh tatapan mengibanya, kalau dilepas ya dia akan kembali menjadi hama, dan tambah menjengkelkan!” mendadak saya kembali ingat dosa-dosa sang tikus dan menjadi semangat untuk segera memusnahkannya…. Hi..hi..hi…

Hingga saat ini, meskipun saya sudah menggunakan racun dan lem tikus, namun hama tikus belum benar-benar habis. Kedua pembasmi tersebut baru sebatas mengurangi populasi tikus saja.

Hm.. kalau dipikir-pikir untuk membasmi tikus saja begitu banyak formula yang dibuat agar efektif. Berangkat dari fakta tersebut, tidak heran jika begitu sulitnya membasmi tikus-sikus berdasi yang tentunya jauh lebih cerdik dari para tikus original yang bisa belajar. Hm,…. Mungkin para pembasmi tikus-tikus berdasi punya pengalaman yang sama dengan saya ya ketika memusnahkan tikus-tikus rumah, hanya saja tidak ada Ibu yang mengingatkan kembali, atau mungkin telingannya tuli sehingga peringatan “sang Ibu” nyaris tak terdengar :)

 

Doyus, Domba Jayus

Published November 19, 2010 by Momo Morteza

Pada suatu masa, terkisahlah seorang anak muda yang memilih untuk menjadi gembala. Ia menggembala ratusan ekor domba. Domba tersebut di gembala hingga ke berbagai penjuru dunia.

Domba-domba tersebut di gembala ke padang-padang rumput yang rimbun, untuk memperoleh makanan yang banyak. Bukan hanya itu, agar domba-dombanya merasa nyaman selalu, sang gembala pun tak segan untuk bernyayi untuk mereka. Sang gembala juga senantiasa mencarikan tempat berteduh yang layak, agar domba-dombanya merasa aman ketika tidur.

Tidak heran jika domba-dombanya gemuk dan berbulu lebat. Bila tiba waktunya, sang gembala akan mencukur bulu domba yang sudah lebat untuk di jual. Bulu-bulu domba tersebut akan diolah menjadi benang-benang wol, dan di sulam menjadi baju-baju hangat.

Dari ratusan domba yang dimiliki sang gembala, terdapat seekor domba yang memiliki bulu lebat, halus, dan putih. Nama domba tersebut adalah “Doyus”.  Awalnya, dari ratusan domba-domba sang gembala, Doyus bukanlah salah satu domba terkenal, namun satu peristiwa telah membuat Doyus menjadi selebritis mendadak di kalangan para domba.

Peristiwa tersebut berawal, ketika sang gembala mulai memilih domba-domba yang bulunya sudah lebat untuk di cukur. Hal ini merupakah salah satu upah bagi gembala yang telah menjamin makanan dan keamanan bagi domba-dombanya. Bagi sang gembala, bulu-bulu domba tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjadi upahnya, toh ia tidak memakan daging dombanya, selain itu, bulu-bulu domba akan tumbuh kembali seiring dengan berlalunya waktu.

Biasanya, saat-saat pemilihan ini menjadi sekidit gaduh, pasalnya sang gembala tidak mendata dengan baik, mana saja domba yang sudah pernah dicukur dan mana yang belum pernah dicukur. Sang gembala memilih dombanya, cukup dengan melihat ketebalan bulu dombanya saja. Kebiasaan sang gembala adalah  memilih  tepat 30 ekor domba untuk dicukur.

Selama ini, Doyus, yang memiliki bulu halus, lebat dan putih bersih, belum pernah sekalipun dicukur bulunya. Ia selalu saja dapat bersembunyi di antara semak-semak yang tinggi agar tidak terlihat oleh sang gembala. Ia tidak mau bulu-bulu yang indah itu dicukur, karena dengan begitu, akan terlihat warna kulitnya yang merah muda, menurutnya,  itu amatlah jelek. Selain itu, tidur tanpa bulu yang lebat, terasa tidak nyaman karena ia dapat merasakan, permukaan tempat tidur yang kasar, dan tentu saja hilangnya kehangatan tidur malamnya.

Sayangnya, pemilihan kali ini dilakukan di lapangan terbuka dengan rumput yang amat tipis, sehingga tidak ada tembat bagi Doyus untuk bersembunyi. Akhirnya Doyus terpilih menjadi salah satu domba yang bulunya harus dicukur.

Sang gembala, membawa domba-domba yang dipilihnya ke desa terdekat, sedangkan sisa dombanya ia biarkan merumput di sana. Karena ia pergi tak akan lama.

Di separuh perjalanan ke desa, tiba-tiba Doyus menjatuhkan diri tepat di atas lumpur. Selepas hujan semalam, memang beberapa badan jalan tertutup lumpur, dan  terlihat beberapa genangan air dipinggir jalan, walhasil beberapa bagian tubuh Doyus dipenuhi lumpur kotor.

Melihat salah satu domba pilihannya berbulu kotor, sang gembala bingung, tentu saja pembeli tidak ingin membeli bulu-bulu domba yang kotor. Untuk kembali ke padang rumput dan memilih domba yang lain, membutuhkan waktu setengah perjalanan, tentu terlalu lama, hanya untuk menukar seekor domba saja.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencuci bulu Doyus saja. Sayangnya di dekat situ, tidak ada aliran sungai, yang ada hanya genangan-genangan air  yang kecil saja. Tanpa pikir panjang, sang gembala membawa Doyus ke salah satu genangan air dipinggir jalan. Ia langsung menceburkan Doyus ke dalam kubangan air itu. Apa yang terjadi kemudian? Keluar dari kubangan air itu, ternyata seluruh tubuh Doyus bahkan bertambah kotor, tertutuo dengan lumpur.

Sang gembala menjadi semakin bingung. Mengapa tubuh Doyus justru semakin kotor?

Sedikit air di permukaan genangan memang terlihat jernih, namun perlu diingat bahwa di bagian bawah, tanahnya telah menjadi lumpur karena tekanan air hujan. Sehingga ketika Doyus diceburkan ke dalam kubangan, yang terjadi lumpurnya tertekan dan naik ke permukaan, sehingga air bercampur dengan lumpur. Tentu saja, mana mungkin bisa membersihkan sesuatu yang kotor dengan air kotor?!

Sejak saat itulah, Doyus menjadi amat terkenal di kalangan domba-domba pengembala. Karena kelicikannya, sang gembala mengalami kerugian tenaga dan waktu.

Kartasura, 14 November 2010

Special for my cute baby: Morteza

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.