Buku Rangkuman Disertasi


Kepada para sahabat yang membutuhkan buku rangkuman disertasi, dapat diperoleh pada link berikut BUKU MERAH -7. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

Advertisements

CAESAR VERSUS NORMAL (1)


xm257ASudah lama banget kayaknya blog saya sepiiiii, itu bukan berarti aktivitas menulis saya berhenti total, melainkan hanya mati suri. Maklum lah, saya kan ibu dari tiga anak, dua balita dan yang satu baru lima tahun yang juga sedang sekolah (ssssttt, minta dimaklumi). Tapi tengah malam ini (padahal udah mau pagi jam 2 kurang 15 menit), saya kuatkan mata untuk bisa sekadar menulis, sebagai salah satu upaya saya dalam melatih jari-jari menyentuh keyboard. Maklum sudah tiga minggu lebih saya benar-benar tidak menyentuh lap top, karena pasca melahirkan, lap top sempet opname di SC.

Tulisan ini saya buat karena saya merasa sangat terbantu ketika masa-masa hamil sampai melahirkan dengan membaca tulisan-tulisan yang berisi pengalaman emak-emak seputar kehamilan dan melahirkan. Nah, karena menurut saya pengalaman saya unik (pede pisan euy) jadi saya mau berbagi juga deh, siapa tahu ada yang bermanfaat buat para emak-emak lainnya (sok bijak ya, sebenernya mah mau eksis aja kalee).

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pengalaman saya unik, melahiirkan tiga kali, yang pertama normal, yang kedua dan ketiga caesar. Jadi saya tahu betul bedanya bersalin normal dan caesar. Bisa saya simpulkan keduanya sebetulnya hampir sama, sama-sama menyenangkan, karena semua berakhir dengan mendapatkan bayi mungil yang lucuu dan mencemaskan. Saya bersyukur banget karena ternyata pengalaman yang terbentuk dalam pikiran saya, melahirkan itu menyenangkan aja tidak seperti yang ada di film-film itu (dramatis dan mengerikan) baik normal maupun caesar.

Melahirkan anak pertama, kata orang sih seringnya susah dan lama, alhamdulillah saya melalui dengan cukup mudah dan murah (bisa dibilang gratis sih, karena lahirnya di klinik tante sendiri J). Prosesnya dimulai sejak jam 5 sore hari minggu, saya keluar flek dan lendir, habis magrib saya ke RSI pondok kopi. Katanya baru bukaan satu, menurut tante saya (yang juga bidan yang membantu saya lahiran) yang waktu itu sedang dirawat, sebaiknya saya pulang saja istirahat di rumah. Ya sudah saya pulang, malah sempet mampir di mal buat jalan-jalan (maklum bekasi waktu itu belum banyak taman kaya sekarang, mau jalan-jalan ke stadion, takut saingan sama para waria yang sudah mangkal lebih dulu). Mungkin ada yang mau tanya, emang gak mules tuh masih bisa jalan-jalan? Ya mules lah, mules-mules enak he..he..he..

jam 8 pagi saya mau ke rumah sakit, eh kata tante saya mampir aja ke rumah yang juga klinik bersalinnya, beliau udah sembuh (kayaknya dia lebih antusias mau ketemu bayi saya, jadi cepet banget sembuhnya ;)). Jadi kami serombongan (saya, suami, ortu, ade plus sopir) menunggu di klinik tante. Jam 10 ternyata tiba-tiba seperti seperti naik kora-kora terus diikuti air deras mengalir seperti ompol, ternyata ketuban pecah. Saya langsung disuruh berbaring di kamar bersalin dan di infus, nah mules bertambah deh. Suami saya dengan setia ngelus-ngelus pinggang yang aduhai rasanya, trus dia sempet nyuapin saya pakai sayur lodeh (heran juga, ternyata nasi, sayur lodeh dan sepotong ayam goreng habis, lapar apa doyan ya? Ha..ha..ha…) nah, sambil menaham mules saya diajari mengejan yang benar sama tante. Eh, pas adzan dhuhur sempet ditinggal suami sholat di masjid depan klinik. Pas dia kembali, saya bilang haduh mules banget nih pingin ee, kata tante saya ya keluarin aja, eh beneran itumah bukan bayi. Nah pas mules yang ke dua, saya disuruh mengejan sesuai petunjuk,tiba-tiba bayi langsung keluar lho, dan suami yang langsung menyambut si bayi berdua tante saya. Wah lega banget rasanya. Tidak lama kemudian, bayi sudah rapi dan bersih dibawa ke ruang tamu, eh sopir yang menunggu di ruang tunggu klinik bengong, lho kok udah keluar bayinya perasaan enggak denger teriakan atawa suara gaduh orang melahirkan. Beberapa jam kemudian, saya sudah bisa jalan terus dimandiin sama tante sendiri. Sama sekali tidak se-tegang dan se-seram yang sering dilihat pada adegan melahirkan di film-film itu.

Kata ibu saya, mungkin karena saya suka banget jalan kaki semasa hamil jadi lebih lancar dan mudah, selain itu juga saya merasa pikian-pikiran positiflah yang banyak membantu saya dalam menghadapi ketegangan proses bersalin. Begini maksudnya, saya mengamati dan sering bertanya-tanya, mengapa ibu-ibu jaman dulu anaknya banyak, mereka melahirkan normal, bahkan kebanyakan cuma di rumah atau di dukun saja. Saya jadi berpikir bahwa melahirkan pasti sakit tapi inshaAllah masih bisa diatasi dan sekarang jaman lebih maju, obat lebih manjur jadi jangan terlalu khawatir yang penting usaha maksimal (ikuti petunjuk dokter) sisanya berpasrah diri dan bayangkan bayi lucuu mungil yang akan hadir.

Ditulis tanggal 6 desember 2015 – to be continued

Hati Momo Ikutan Basah di Outing Pertamamu di Kelas 2


Gambar 2Cerita ini sudah beberapa waktu berlalu, namun baru sekarang saya tuliskan, sebagai selingan ketika saya sudah jenuh karena sejak pagi buta sudah berkutat di depan laptop. Selain itu, menitipkan kisan ini di halaman blog atau facebook agar nanti agar dapat dibaca kembali dan dikenang oleh anak-anak ketika mereka dewasa.

Anak pertama saya sudah kelas 2. Sejak kelas 1 dulu, saya memang memlilih tidak memberinya uang saku, saya membekalinya makanan dan minuman yang dibutuhkan. Hanya bila ia ingin beli makanan atau keperluan lainnya di kantin, saya akan memberinya uang secukupnya. Kebijakan ini masih berlaku hingga ia kelas 2.

Selepas ujian sekolah lalu, dia mengikuti acara outing ke salah satu waterboom di Bandung. Sesuai kebijakan sekolah orangtua dilarang ikut agar mereka lebih mandiri. Dia sangat bersemangat mengikuti acara ini. Dia mempersiapkan semua keperluannya sendiri, saya ajak dia belanja dan memilih sendiri makanan dan minuman yang akan dibawanya saat outing.

Hari yang dinanti tiba, saya mengantarnya sendiri ke tempat berkumpul sebelum masuk ke dalam bus. Saya memberinya uang saku sebesar Rp. 30.000 sebelum meninggalkan rumah. Saat di perjalanan ia tiba-tiba bilang, “hm,.. Mo eneng kira-kira suka apa ya? Aku nanti mau beli sesuatu untuk eneng ah”.  Saya menjawabnya dengan santai, “Makanan bisa Mas”. Kalau “makanan sih, sudah pasti dede juga suka ya Mo, kan dia paling suka makan”.  Seketika saya pun tertawa mendengarnya “ha..ha..ha… Mamas tau aja deh”

Setibanya di lapangan dekat sekolah, saya mendapat kabar bahwa makanan dan minuman bekal nanti tidak boleh dibawa ke lokasi berenang, melainkan harus ditinggal di bus. Saya menjadi khawatir, karena biasanya habis renang, anak-anak lapar dan haus, dan suka makan. Begitu kira-kira pikiran saya. Akhirnya saya berinisiatif untuk memberinya lagi uang Rp. 20.000, yang saya selipkan dalam saku celananya. .

Ketika saya menjemputnya hari itu, saya dikejutkan dengan cerita yang membuat saya terharu. Sepanjang perjalanan pulang, dia bercerita betapa serunya ia bermain air, tidak pakai pelampung selama berenang dan hal-hal lucu yang dilakukannya dengan teman-teman. Sampai ketika tiba saya bertanya, lalu kamu makan apa setelah berenang? Dia bilang hanya makan nasi box yang diberikan guru. “Lalu untuk apa uang sakumu?” saya bertanya masih sambil nyetir.  “Aku belikan strawberry mo, karena eneng sama dede kan suka” begitu katanya. Saya penasaran, “lalu sisa uangnya kamu belikan apa Mas?”

“Tadi waktu aku beli strawberry, ada anak perempuan yang mau beli juga Mo, tapi uangnya kurang lima ribu, jadi aku kasih uangku Mo, udah itu aja, sisanya masih ada kok di tas”.  “Wah, mamas baik sekali, apa yang membuat Mas Mote ingin menolongnya?” saya penasaran. “Habisnya aku kasihan Mo, mungkin dia juga ingin beli oleh-oleh untuk adiknya seperti  Mote, Mo tapi sayang uangnya tidak cukup”.  Dan hati saya basah seketika.

Hasrat Ingin Hebat


 

Super-heroes-

Sumber gambar: http://www.bachelorbangkok.com/cevent/super-heroes/

 

Sewaktu saya kecil, saya seringkali berimajinasi menjadi orang hebat. Dulu imajinasi saya, hebat itu jika kita punya kekuatan super seperti Superman, Sailormoon, ataupun Wonderwoman (ketahuan deh, saya angkatan berapa). Saya bahkan pernah berkhayal kalau saya jadi wonderwoman dengan kostum kebaya lengkap pake sanggul, trus saya tidak dapat ditembus peluru, atapun tersayat benda tajam, dan sayapun pandai beladiri memakai kebaya , wah betapa hebatnya saya! (ha..ha..ha… padahal kalau saya pake kebaya, jangankan bisa petakilan berkelahi, lha wong jalan aja susah!). Tapi kadang-kadang kalau lagi sedikit rasional, hebat dalam benak saya waktu itu adalah saya menjadi seorang anak yang punya nilai akademik tinggi, plus jago mengaji, jago cas cis cus pakai bahasa inggris, jago menggambar, piawai main musik dan menyayi, gemulai menari, jago olahraga dari renang, badminton, lari, basket, sampai sit-up, plus saya bisa jadi pemenang gadis sampul trus jadi model. Ha…ha..ha…ha…. yang kayak gini masih disebut sedikit rasional ya?! iya karena menurut saya masih mungkin untuk dicapai dengan usaha. (boleh percaya boleh tidak, selain jadi gadis sampul, yang lain pernah saya coba lhoo dan saya menyerah kalau sudah urusan bernyanyi)

Saya perhatikan anak-anak kecil memang suka dengan tokoh-tokoh fiktif yang terlihat hebat. Jadi sebenarnya pencipta tokoh-tokoh fiktif yang terlihat hebat  itu berpikirnya sederhana aja, barangkali mereka hanya menggunakan imajinasi mereka ketika mereka kecil. Film dengan tokoh-tokoh fiktif yang hebat itu banyak peminatnya lho, termasuk orang dewasa juga oleh karenanya sekarang tokoh itu semakin banyak. Kalau dulu cuma ada Superman, Batman, wonderwoman, dan Spiderman, sekarang muncul teman-temannya ada Ironman, green lantern, Antman, dan masih banyak lagi lainnya. Saya menduga barangkali ini menggambarkan bahwa pada dasarnya keinginan menjadi “hebat” itu sebenarnya ada pada tiap individu, barangkali hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. eh, ngapain sih saya cerita ngalor-ngidul tentang “keinginan menjadi hebat”? sebenarnya cuma mau bahas dua kasus yang lagi heboh aja baru-baru ini.

Baru- baru ini sedang marak dua berita terkait akademisi yang cukup miris. Berita pertama terkait kasus diberhentikannnya sementara seorang pemimpin tertinggi sebuah universitas di negeri imaji yang konon katanya membuka program doktoral yang tidak masuk akal. Berita kedua, terkait terbongkarnya kebohongan seorang peneliti muda dari negeri imaji yang sedang kuliah di luar negeri dan ia mengklaim bahwa dirinya hebat karena telah memenangkan kompetisi dalam bidang space craft dan teknologi tingkat dunia. Klaim prestasi tersebut kemudian ditanggapi oleh media dengan meriah. Sayang, ternyata itu semua hanya kebohongan belaka.  Syukurlah pada akhirnya si pemuda ini menyadari kesalahannya dan dengan rendah hati memohon maaf kepada publik.

Saya sendiri merasa heran, mengapa di era serba digital ketika informasi begitu mudahnya mengapa masih ada orang berani berbohong, padahal kebohongan akan dengan mudah terdeteksi di era informasi ini. Terlebih lagi ketika kebohongan itu dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, yang dianggap lebih “berilmu”. Di mana letak akar permasalahan ini sebenarnya?

Nah, barangkali jawabnya adalah “hasrat menjadi orang hebat” yang tak kuasa terhambat, jadi perlu lewat jalan darurat agar lebih cepat.

Siapa yang ingin hebat tentu harus lewat banyak tahap, mungkin memang bisa sedikit lambat, jika ingin cepat ya bisa melompat saja, tapi kalau gagal melompat bisa jatuh di tempat yang tidak tepat.

Ini tulisan hanya selingan, ketika saya sudah pusing buat paper ataupun disertasi, sedikit berpaling untuk  segera kembali.

Normal versus Caesar?


Akhir-akhir ini ramai sekali bahasan tentang melahirkan secara normal versus caesar, khususnya di media sosial facebook. Ada ang pro, ada ang kontra, ada yang merasa bangga bisa melahirkan normal, ada juga yang sebalikna merasa bangga telah melahirkan secara caesar, ada pula yang berusaha untuk menjadi penengah diantara kedua kubu, wah pokoknya seru sekali membaca berbagai komentar ibu-ibu dalam setiap postingan. Saya sendiri memilih menjadi penikmat suasana tersebut saja, tapi lama-lama rasanya ingin berbagi pengalaman dengan para ibu-ibu ini.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saya, kebetulan saya sudah mengalami melahirkan normal dan caesar. Pengalaman lahir normal sekali, dan caesar dua kali. Jika ada ang bertanya pada saya, mana yang lebih enak? saya akan menjawab “tergantung”. Iya, tergantung banyak hal, tergantung dari sudut pandang mana mau dicermati, yang jelas selama bunda dan bayinya sehat, bagaimanapun cara lahirnya harus banak-banyak bersyukur, karena masih banyak sahabat-sahabat di luar sana yang masih menantikan kehadiran buah hati, atau yang masih harus berjuang agar baby atau bundanya bisa sehat kembali.

Anak pertama saya lahir normal, kebetulan lahirnya juga di klinik tante saya di bekasi. Diawali pada minggu sore, ketika keluar lendir dan flek, malam itu juga saya periksa ke rumah sakit islam, di mana tante saya yang bidan itu bertugas. Kebetulan pula, saat itu tante saya sedang dirawat karena gejala DB (bidan juga bisa digigit nyamuk lho ya…) namun kondisinya sudah membaik. Setibanya di rumah sakit, saya di USG, di rekam jantung, dan diperiksa sudah bukaan berapa. Hasil USG, dan rekam jantung bagus, baru bukaan satu katanya. Tante saya memberikan saran untuk pulang saja ke rumah, dari pada tidur di rumah sakit, nanti kembali lagi ke rumah sakit jika mulasnya sudah semakin sering. akhirnya malam itu kami langsung pulang ke rumah, tidur di rumah (lebih enak tidur di rumah, bisa minta dipeluk suami kan). Sekitar pukul 8.00 pagi, saya telpon tante, rupanya dia sudah di rumah, sebelum ke rumah sakit, saya mampir ke rumah yang bersebelahan dengan klinik beliau, diperiksa baru bukaan dua. katanya sih kalau anak pertama memang suka lama nunggunya, jadi diputuskan untuk menunggu dulu di rumah tante saya, kami sudah menyiapkan segala sesuatunya, driver sudah stand by, perlengkapan bayi dan perlengkapan persalinan juga sudah ada di mobil. Eh, tiba-tiba pukul 10 pagi, air ketuban saya pecah dulu, nah oleh tante saya langsung diminta tiduran di kamar bersalin, kemudian di infus (saya baru tahu kalau itu ternyata di induksi). Sejak itu mulesnya mulai intens, saya ditemenin suami dan keluarga. Sempet makan dulu pake sayur lodeh, dan habis sepiring. Saya memang tipenya kalau sakit tidak teriak-teriak, tapi pilih menggigit handuk kecil. Hm,..mulai mendekati waktu dhuhur sakit mulai terasa lebih intens. Yang saya rasakan sebenarnya sih lebih ke punggung yang pegal, pinggang pinginnya di elus-elus dan dipijit. Mulesnya juga ya seperti kalau mau buang air besar saja. Begitu juga ketika saya mules, saya bilang tante saya, duh saya enggak kuat nih  pingin “ee” trus tante saya bilang, tunggu tahan dulu,diajarinya saya mengejan. setelah itu baru dia bilang, ya keluarin aja “ee”-nya, daaaaaan ya ampun, memang keluar lho. Setelah itu, saya mengejan lagi eh,…. baby saya keluar, langsung ditanggapi poponya. Masaallah,… leganya ya seperti kalau habis BAB. Setelah itu, saya diminta mengejan lagi untuk mengeluarkan ari-ari. Alhamdulillah, pukul 14.00 saya sudah bisa turun dari tempat tidur, mandi, dan menggendong bayi yang lucu yang bermata jeli sejak lahir itu. Pengalaman itu, menyadarkan saya bahwa ternyata melahirkan normal tidak sehoror yang saya lihat difilm-film. Bahkan driver saya saja sampai heran, karena tidak mendengar suara teriakan di klinik yang tidak seberapa besar itu, kok tiba-tiba bayinya sudah keluar dari ruang bersalin.

Anak kedua saya, kebetulan lahir caesar. Sebenarnya saya sejak awal berniat lahir normal lagi, sudah cari rumah bersalin yang cukup nyaman, bahkan sudah ikut program akupuntur juga di klinik tersebut. Saya juga rajin jalan pagi untuk mendukung niat ini, namun pada saat akhir, saya baru menadari bahwa kehamilan ke dua saya merupakan hamil menggantung, jadi si baby bisa betah banget di dalam perut dan baru masuk panggul kalau benar-benar sudah mau keluar. Meskipun saya rajin banget jalan pagi, tetap saja sang baby belum mau masuk-masuk ke panggul sampai minggu ke 40 karena ketubannya juga masih banyak banget. Karena konstrain waktu, akhirnya saya dan suami sepakat untuk memilih caesar pada hari itu juga karena besok adalah hari libur. Caesar pertama ini meskipun dilakukan sebelum saya merasakan mulas, tapi yang saya rasakan setelah operasi selesai sungguh luar biasa. Saya bilang, sakitnya masyaallah, ketika operasi saya juga muntah beberapa kali karena puasanya kurang lama (kami putuskan caesar jam 8 pagi dan operasi dilaksanakan habis ashar). Masa setelah operasi adalah masa terberat, bergerak sedikit saja, sakit rasanya, ngilu di bagian jahitan, jantung saya rasanya berdetak lebih cepat, menyusui juga susah. Belum lagi pas hari ketiga setelah caesar, saya diajari berjalan pertama kali, ya Allah, rasanya minta ampun deh, untungnya perawatnya sangat sabar dan telaten. Nah, perjuangan belum usai lho,.. masih harus merawat perban sampai kering di rumah, dan kembali lagi membuka perban tersebut. Saat itu, saya tahu bahwa melahirkan secara caesar jauh lebih berat daripada sewaktu normal. Alhamdulillah, dua minggu pasca melahirkan caesar saya sudah bisa kembali ke kampus, dan mengikuti kuliah Prof. Utari waktu itu.

Karena pengalaman caesar pertama agak horor, dan saya kurang puas dengan hasil jahitan yang kurang mulus (he..he..he.. secara ini sangat menyebalkan buat saya setiap kali melihatnya) sehingga ketika hamil anak ke-tiga, kami mencari Rumah Sakit yang berbeda, dengan dokter yang lebih berpengalaman dan lebih senior. Rupanya hal ini memberikan pengalaman caesar yang berbeda pula. Caesar anak ke tiga, alhamdulillah saya rasakan sangat nyaman. Bahkan saat operasi berlangsung, saya dalam kondisi yang sepenuhnya sadar, malah bisa berbincang-bincang dengan tim medis dan dokter. And you know what?! ada tim medis yang diminta sang dokter mengabadikan detik-detik proses keluarnya sang baby ganteng pakai HP beliau lho, sempet photo-photo juga hi..hi..hi… Suasananya tidak mencekam, dan alhamdulillah proses berjalan lancar. Sehari setelah operasi, saya sudah bisa jalan ke kamar mandi sendiri. Ketika belajar bergerak, duduk, dan jalan saya bisa lalui tanpa bantuan perawat. Hasil jahitan juga tidak terasa ngilu, dan ketika dibuka hasilnya sangat memuaskan, seperti yang saya harapkan :).

Dari ketiga pengalaman melahirkan tersebut, hal yang paling penting dicermati adalah bahwa bagaimanapun prosesnya yang paling penting adalah baby dan bundanya selamat dan sehat. Ketika melahirkan anak pertama saya, saya memotivasi diri sendiri dengan berkata “jaman dulu saja ketika proses bersalin masih sangat primitif, banyak ibu yang punya banyak anak, jadi walaupun mungkin sakit tapi InsyaAllah sudah terukur kok” dengan memikirkan hal ini membantu saya berpikiran positif dan melewati rasa takut ketika bersalin normal. Sedangkan ketika bersalin via caesar, saya memotivasi diri dengan mengatakan bahwa”Tenang saja, bukankah sekarang teknologi medis sudah sangat maju, dan kita sudah ikhtiar maksimal dengan memilih dokter dan rumah sakit yang terbaik menurut kita, sisanya tinggal berdoa kepada Allah agar prosesnya dipermudah dan dilancarkan”.

Saran saya, jika memang sudah memutuskan untuk caesar atau ada indikasi harus caesar, sebaiknya sejak awal sudah memilih tempat, dan dokter yang memang sesuai dengan kondisi kita, baik kondisi keuangan maupun kondisi psikologis.

Bagaimanpaun cara kita melahirkan,yang paling penting adalah bunda dan bayi nya bisa selamat dan sehat selalu. Menjadi ibu bukanlah perkara mudah, dan proses melahirkan barulah awal perjalanan panjang, jadi jangan habiskan waktu hanya untuk berdebat tentang proses melahirkan saja, namun proses menyususi juga tidak kalah penting (Nah, untuk yang ini, saya memang cenderung memihal ASI ekslusif minimal 6 bulan, lain kali saya akan berbagi pengalaman juga soal ini)  dan proses mendidiknya tentunya.