Pembelajaran Matematika Menurut NCTM


NCTM adalah salah satu organisasi profesional yang terdiri dari para pendidikan metematika baik praktisi maupun profesional. Organisasi ini terdapat di Amerika Serikat, dan sangat aktif dalam merumuskan berbagai teori-teori pembelajaran dan pemelajaran matematika yang juga banyak menjadi rujukan dari negara-negara lain.

Berikut file-file yang terkait degan standar proses dan prinsip menurut NCTM:

  1. MENGAJAR MATEMATIKA MENURUT STANDAR NCTM
  2. PENALARAN DAN PEMBUKTIAN
  3. KONEKSI DAN PROBLEM SOLVING
Advertisements

Teori Belajar


Semester ini, saya mengampu mata kuliah “Pembelajaran Matematika Inovatif” pada jenjang S-1 dan “Pembelajaran Matematika” pada jenjang S-2. Awalnya saya menduga, tidak perlu mengulas lagi teori-teori belajar, namun ternyata mahasiswa masih menginginkan topik tersebut dibahas. Berikut sekilas uraian teori belajar menurut Piaget, Vygotsky, Skemp, Bruner, Dienes, dan van Hiele.

  1. Teori belajar Piaget dan Bruner Pertemuan 2 Pembelajaran Matematika kelas B
  2.  eori belajar Skemp dan Vygotsky Pertemuan 3 kelas B Pembelajaran Matematika 
  3. Teori Belajar Dienes dan van Hiele Pertemuan 4 PMI

Adapun contoh video tentang eksplorasi kemampuan anak berdasarkan teori Piaget dapat ditemukan di link https://www.youtube.com/watch?v=gnArvcWaH6I dan video contoh permanan Dienes dapat diakses pada link https://www.youtube.com/watch?v=NXCsEkMLWtY

 

 

Awal Perkuliahan Tahun Ajaran 2018/2019


Semester ini, adalah kali pertama saya kembali mengajar. Saya mendapatkan lima kelas, tiga kelas di S-1 prodi  pendidikan matematika dan dua kelas di S-2 prodi pendidikan matematika UNS. Sebenarnya pertemuan perdana untuk seluruh kelas, sudah dimulai sejak dua minggu yang lalu, namun karena minggu lalu, saya mendadak mendapat tugas untuk menghadiri ToT untuk program Tanoto Foundation, baru minggu ini saya bisa mengunggah slide pada pertemuan pertama. Berikut adalah slide presentasi pertemuan pertama untuk mata kuliah:

  1. Geometri Datar Pertemuan 1 Gometri
  2. Metodologi penelitian kuantitatif Pertemuan 1 Metodologi Penelitian Kuantitatif
  3. Pembelajaran matematika inovatif Pertemuan 1 Pembelajaran Matematika Inovatif

 

Oleh-oleh dari Earcome 8, Taiwan


Setelah lama vakum dari kegiatan mengisi blog ini, kali ini saya kembali dengan sebuah cerita baru. Lebih kurang seminggu lamanya pada bulan Mei 2018 saya mengikuti serangkaian acara mulai dari sesi seminar, presentasi, working group discussion dan juga jalan-jalan.

Konferensi earcome kali ini mengangkat tema yang sangat menarik namun cukup kotroversial  “Flexibilities in Mathematics Education”. Kenapa saya bilang “kontroversial”? ya karena bahkan sampai detik penutupan kesepakatan tentang definisi “Flexibilities in Mathematics Education” tidak jua diperoleh. Para peserta pulang masih bersama dengan rasa keingintahuan tentang apa dan bagaimana sesungguhnya tema tersebut.

Ini adalah kesempatan ke dua bagi saya berpartisipasi dalam konferensi Earcome. Konferensi earcome pertama saya, adalah earcome-6 di Phuket ketika saya hamil anak ke dua. Pada konferensi ke 7 pulai Cebu Filipina, saya tidak bisa ikut serta karena alasan habis melahirkan anak ke 3. Pada saat mengikuti Earcome 6, saya mengandeng dua sahabat saya, Puji Lestari dari STKIP Garut dan Ibu Maria Kleden dari Undana, Kupang. Kami bertiga disupport dan ditemani oleh promotor kami, Prof. Yaya S. Kusumah, Ph.D. Masih terbayang pertama kali mempersiapkan paper untuk submit ke konferensi ini, lumayan berkesan karena salah satu dari kami harus rela hanya bisa mempresentasikan poster saja.

Saya pribadi sebenarnya sudah sangat terkesan dengan penyelenggaraan Earcome 6 di Phuket, yang diselenggarakan oleh Khon Kaen University berkerja sama dengan ICMi dan pelaksanaannya di Prince Songkla University, namun saya sungguh terpana pada pelaksanaan Earcome 8, bahkan salah satu pembicara utama, Prof. Niss, dari Denmark yang duduk bersebelasan dengan saat berwisata berkomentar bahwa “sepanjang hidupnya ini adalah konferensi paling mewah dan meriah yang pernah diikutinya”. “Mewah menurut beliau dan saya terkait dengan jamuan makan yang disediakan panitia” sedangkan “meriah terkait dengan beragamnya peserta dari 45 negara dengan berbagai tema yang menarik”.

Peserta dari Indonesia tidak bisa dibilang banyak, ada 4 peserta yang mendaftar sebagai pembicara yang asli orang indonesia, saya dan Prof. Yaya dari UPI, Dr. Tatag dan Wahid dari Unesa.  Ada satu ekpatriat yang berasal dari salatiga, beliau adalah guru di salah satu sekolah internasional. Sedangkan seorang teman saya yang cantik, Teresia, orang Indonesia tetapi berafiliasi ke NIE, tempatnya menempuh program master.

Saya bermimpi suatu hari bisa membawa Earcome dilaksanakan di Indonesia. Event ini sangat potensial sekali, selain dapat memberikan wawasan bagi para pendidik matematika, juga menjadi ajang promosi wisata yang efektif karena dilaksanakan selama satu minggu dan tentu saja bisa mendatangkan devisa untuk negara.