Menjaga Prinsip


MATERI : MENJAGA PRINSIP

DOSEN : BAPAK

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Gubuk kami yang sederhana sudah hampir satu bulan ini sedang direnovasi. Menambah satu kamar tidur, beberapa sahabat saya bilang orangtua saya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut anggota keluarga yang baru. Mungkin memang begitu adanya, walaupun mereka tidak terus terang mengatakan hal itu pada saya. (Diam-diam, rupanya mereka sudah ingin punya mantu, he..he..he..)

Rencana renovasi rumah memang sudah dibahas sejak setahun yang lalu, namun kami harus bersabar mengantri tukang yang hendak merealisasikan rancangan yang sudah kami buat. Bulan berganti bulan Pak tukang yang kami pesan tidak kunjung memberi kabar, sampai akhirnya kami kehabisan kesabaran, kami khawatir nanti ketika Ramadhan agung tiba, proses renovasi belum selesai sehingga kekhusukan beribadah menjadi berkurang. Walhasil kami cari tukang yang lain.

Kebetulan tukang kami mulai bekerja berbarengan dengan naiknya harga BBM, hal ini tentu saja berpengeruh pada anggaran yang sudah kami persiapkan. Semua harga material naik, terutama untuk komponen besi dan kayu. Awalnya cukup membuat kepala bapak, mama dan saya berkerut-kerut. Namun, dengan keyakinan penuh diniatkan sebagai wujud tanggung jawab orangtua pada anaknya maka kami bulatkan tekad untuk terus maju. (kaya mau perang aja ya,.. he..he..he…)

Alhamdulillah,…. Sampai saat ini semua berjalan lancar dan pengerjaan sudah 50% selesai. Ada hal menarik yang menjadi pelajaran buat saya. Suatu hari, datanglah seseorang kepada bapak menawarkan material berupa semen dengan harga Rp. 30.000,- . Jika melihat selisih harga yang cukup signifikan, kurang lebih Rp. 20.000,- rasanya siapa yang tidak tergiur dengan tawaran ini ya,…. Namun, Bapak saya tidak demikian. Beliau bertanya dulu tentang asal muasal semen tersebut, bagaimana bisa memiliki selisih harga begitu besar dan beliau mendapatkan jawaban yang berbelit-belit sehingga beliau urung membelinya.

“Gimana Pak, jadi beli semennya?” mama mengkonfirmasi keputusan akhirnya

“enggak mah, Bapak gak mau ah”

“kenapa Pak? Kan selisih harganya jauh lebih murah”

“Justru itu, Bapak enggak mau karena hal itu kan enggak logis mah. Jangan-jangan itu bukan barang legal mah”

“Memang kalau bukan barang legal kenapa Pak?”

“Yah,… bisa jadi enggak halal kan Mah. Padahal rumah itu kan akan kita jadikan tempat tinggal. Nanti bisa ndak barokah mah, ditempatinya juga rasanya panas. Untungnya tidak seberapa tapi akibatnya bisa luar biasa Mah”

“Oh gitu ya Pak, iya juga ya Pak padahal kan rumah ini mau jadi tempat tinggal keluarga ya. Iya mama juga setuju Pak. Terus Bapak bilang apa sama yang nawarin itu?”

“Ya,.. bilang saja ‘maaf Bang saya sekarang ini tidak butuh semen itu’ makasih ya udah nawarin. Beres kan Ma”

Seperti itulah Bapak mengajarkan keluarga untuk berhati-hati dengan sesuatu yang belum jelas asalnya apalagi berkaitan dengan rizki untuk keluarga. Keadaan sesulit apapun, sedapat mungkin harus menjaga prinsip ini.

Saya jadi teringat, ketika dulu hendak melamar kerja, banyak yang menawari jasa untuk memasukkan saya menjadi PNS dengan sejumlah uang pelicin yang menurut saya sangat tidak masuk akal! Dalam proses menunggu pengumuman hasil seleksi PNS Dosen, mereka meragukan bahwa saya tidak akan diterima karena saya tidak mau mengeluarkan uang pelicin sepeserpun.

Dengan tegas saya katakan, “Maaf cita-cita saya bukan jadi PNS! Lagi pula, lah wong saya mau mencari rizki untuk kehidupan sehari-hari kok caranya tidak halal begitu, apa nanti kalau saya dapat gaji, bisa dijamin uang gaji saya halal? Dari pada buat uang pelicin mendingan saya pake untuk modal usaha, jelas hasilnya”. (walaupun sekarang pada akhirnya saya menjadi PNS, Alhamdulillah…… tidak satu perakpun saya keluarkan untuk uang pelicin)

Begitulah bapak mengajarkan pada kami, untuk menjaga prinsip. Bapak tidak hanya bicara namun bapak juga memberikan contoh nyata dalam keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s