Sekedar Ingin atau Sudah Siap ?


Alin sedang membenahi jilbabnya di depan cermin sedang Sari menunggu sambil membolak balik “tarbawi” edisi baru yang tadi tergeletak di atas meja ketika dialog sedang berlangsung.

“Lin, aku dengar kamu ingin pergi haji ya?”

“ya iya donk, masa kamu gak ingin sih menunaikan ibadah haji Ri”

“Enak aja! Ya Aku juga ingin donk Lin. Maksudku, kamu jadi pergi haji tahun ini?”

“Wah, kalau gitu pertanyaanmu yang kurang tepat non.”

“Kurang tepat gimana maksudnya?”

“ya, mestinya pertanyaanmu itu ‘Lin, aku dengar kamu dah siap berangkat haji ya tahun ini’ gitu donk,…”

“Ah,.. sama aja kan Lin ‘ingin’ atau ‘siap’ maksudnya kan sama,…”

“Ya beda donk non, ‘ingin’ itu ungkapan hati yang belum diikuti persiapan-persiapan matang sehingga siapapun bisa bilang ingin contohnya ungkapan ‘ingin jadi presiden, ingin pergi atau ingin menikah’ sedangkan ‘siap’ itu ungkapan hati yang sudah diikuti dengan rencana-rencana yang cukup seperti sekarang ‘aku hampir siap pergi’ sehingga esensinya berbeda non”

“Oh,… iya ya Lin ternyata tidak sama ya. Kalau aku bilang ‘aku ingin jadi presiden’ sekarangpun sah-sah saja kan, tapi kalau sekarang aku bilang ‘aku siap jadi presiden’ kamu pasti terbengong-bengong mendengarnya ya khan?!”

“yup begitulah adanya non”

“Eh,… balik ke pertanyaanku tadi Lin. Apa kamu sudah siap pergi berhaji?”

“InsyaAllah non, semua perencanaanya sudah 80% matang , mohon doanya ya bisa berangkat tahun ini”

“Iya semoga Allah memberi kemudahan bagimu, eh tapi nanti aku boleh titip doa ya Lin,…”

“Beres non, mau titip doa apa? Minta jodoh khan?.. he..he..he… dari wajahmu yang warnanya kayak tomat aku dah tahu kok, betul khan,…”

“he.he..he.. ukh,….udah tau pake tanya segala!”

“he..he.e. Aku kangen lihat gradasi wajahmu! He..he..he.. Udah ah,… yuk berangkat nanti pulangnya kesorean lho,…. Kamu kan kalau belanja lamaaaaa banget non”

Derai tawa terdengar seiring dua gadis keluar dari kamar kos yang terletak di sudut sebuah rumah dua lantai di sebuah komplek sore itu.

*) Dalam sebuah renungan tentang keinginan hati. Sebatas keinginan sajakah atau sudah menjelma menjadi sebuah kesiapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s