In The Beginning and The End of My Class


Pada setiap kuliah perdana, bisa dipastikan saya selalu memulai pertemuan dengan melakukan kontrak perkuliahan dan memberikan gambaran umum tentang matakuliah yang saya ampu terkadang dengan sedikit tes mengenai prasyarat yang diperlukan pada mata kuliah itu. Namun satu hal yang menurut saya tidak kalah penting adalah mengetahui motivasi masing-masing mahasiswa ketika mengambil kelas saya. Saya selalu bertanya “Mengapa Anda mengambil kelas ini?” , “Apa yang Anda harapkan dari kelas ini?” atau “tahukan Anda tujuan dari perkuliahan ini?” Biasanya saya meminta mahasiswa untuk menuliskan jawaban-jawaban mereka pada selembar kertas untuk dikumpulkan. Dengan langkah ini saya berharap dapat membawa mahasiswa menyadari pilihan yang telah dibuatnya, saya ingin mengetahui apakah dengan sadar mereka membuat pilihan dengan dasar yang cukup kuat. Beberapa jawaban umum yang sering muncul antara lain;

· Ingin mendapatkan nilai A

· Ingin lulus pada mata kuliah itu (terutama bagi yang mengulang)

· Ingin mendapatkan nilai yang lebih baik (bagi yang remedial)

· Ikut-ikutan teman

· Tidak tahu

Ternyata, hanya sedikit saja yang membuat jawaban ingin mencari ilmu yang belum memiliki atau belum kuasai, mayoritas mereka mereka bahkan tidak tahu dengan pasti mengapa mereka harus mengambil mata kuliah tersebut selain karena yang tertulis dikurikulum memang harus mereka tempuh. (kebetulan di tempat kami memang belum terdapat mata kuliah pilihan). Apakah dengan demikian motivasi untuk mendapatkan nilai A pada suatu matakuliah menjadi salah atau tidak baik? Saya tidak bermaksud demikian. Tentu saja boleh mempunyai tujuan mendapatkan nilai A pada setiap kelas, namun alangkah lebih baiknya jika nilai “A” itu tidak sekadar nilai saja hingga tidak peduli dengan proses memperolehnya, dengan motivasi nilai itu maka proses memperolehnya menjadi terabaikan, bagaimanapun caranya asalkan dapat nilai A halal untuk ditempuh. Hal inilah yang sedapat mungkin diingatkan sejak awal perkuliahan. Saya mengibaratkan nilai itu seperti rumput yang tumbuh ketika proses menanam padi. Jika padi yang ditanam otomatis rumput akan tumbuh dengan sendirinya, namun jika rumput yang ditanam maka kemungkinan padi akan tumbuh sangat kecil sekali. Padi itulah analogi dari ilmu yang sesungguhnya. Sejak awal saya ingin meluruskan niat mahasiswa yang mengambil kelas saya dan dengan senang hati saya akan melepaskan mereka untuk keluar dari kelas saya* jika merasa tidak nyaman dengan teknik dan gaya saya mengajar karena mereka memang berhak membuat pilihan yang sesuai dengan idealisme mereka tentunya.

Sedangkan pada kuliah penutup biasanya saya memberikan pertanyaan-pertanyaan “Apa saja yang Anda dapatkan dari perkuliahan kita selama ini?” , “Apakah Anda merasa puas dengan apa yang Anda dapatkan di akhir perkuliahan?” atau “Menurut Anda, berapa nilai yang pantas untuk anda?”(untuk pertanyaan terakhir ini biasanya saya ajukan pada saat ujian akhir, mahasiswa saya menuliskannya dilembar jawab mereka). Tentu saja selain kritik dan saran bagi saya selama perkuliahan. Saya berharap mahasiswa dapat merefleksi apa saja yang sudah mereka dapatkan selama perkuliahan. Bukankah salah satu indicator terjadinya proses belajar terjadinya perubahan baik pengetahuan maupun tingkah laku?! Nah, dengan begitu mahasiswa diajak melakukan proses metakognitif terhadap proses pembelajaran selama satu semester di kelas. Saya mendapati beberapa mahasiswa memang sesuai menilai dirinya berdasarkan hasil pekerjaan mereka pada lembar ujian akhir.

Kemudian, saya akan melalukan triangulasi data hasil jawaban pertanyaaan pada kuliah perdana dan jawaban pada kuliah penutupan. Dari sana banyak hal yang bisa diperoleh. Berdasar pengalaman, jawaban yang linear dapat memberi informasi bahwa mahasiswa yang bersangkutan memiliki integritas yang cukup baik, sedangkan jawaban yang tidak selaras ternyata dapat memberikan sedikit informasi tentang kondisi psikologis sang mahasiswa.

Saya sadar betul bahwa saya mendidik calon-calon guru, terlepas dari apapun motivasi awal mereka masuk jurusan ini. Walaupun sudah masuk ranah andragogi, namun menurut saya proses pendidikan nilai dan pembentukan karakter tidak dapat diabaikan begitu saja. Saya sefaham dengan DR. Illah Sailah dari IPB yang memperomosikan pentingnya soft skill bagi mahasiswa. Saya percaya bahwa perubahan dapat terjadi kapanpun dan dimanapun, sehingga upaya membuat perubahan harus selalu dilakukan. Dapatkah Anda bayangkan jika saya melakukan sebuah kesalahan mendidik sehingga menciptakan guru yang mengabaikan nilai dalam proses pembelajarannya? Kelas saya minimal terdapat 40 mahasiswa, yang itu berarti setidaknya jika mereka menjadi guru masing-masing guru akan mengajar setidaknya 40 siswa dapat dibayangkan?! Bahwa kesalahan saya akan menular pada setidaknya 1600 orang bukan? Itu baru dari satu dosen dengan satu kelas, bagaimana jika saya mengajar di sana sini dengan jumlah mahasiswa yang banyak? Apa jadinya bangsa ini?! Dalam sekejap dosa saya membentuk kurva eksponensial yang potensial membuat bangsa ini menjadi sial,… he..he..he…

Hal ini juga akan berlaku sebaliknya, seandainya saya dapat membentuk satu karakter yang baik pada seorang mahasiswa saja maka setidaknya ia akan menularkan pada minimal siswanya kelak di kelas. Inilah harapan besar yang tersimpan dalam rangka membangun bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa besar dengan sumber daya manusia yang unggul. Inilah yang sangat disadari oleh bangsa Jepang ketika bom atom meluluhlantakkan negeri mereka. Akh,…. Mungkin terlihat terlalu idealis, tapi yah inilah adanya saya,……

*) Ya Rabb tuntun dan bimbinglah selalu hamba dalam mengemban amanah ini. Amien,…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s