Setahun Sudah Menjadi Mahasiswa Pasca Sarjana


Semester II telah berakhir, saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saja yang sudah saya dapatkan selama satu tahun ini? Pada semester I dari seluruh matakuliah yang ada yang paling mengesankan adalah “Aljabar Abstrak” walaupun materinya lebih sempit daripada saat kuliah S1 dulu namun dapat mengasah kemampuan analisa lebih jauh, saya jadi lebih mudeng inti dari mata kuliah ini yaitu “kesimetrian” selain itu, memandangnya dari sudut pandang berbeda memberikan wawasan yang luas tentang aplikasinya dalam banyak bidang kehidupan sehari-hari. Tidak kalah mengesankan adalah “Filsafat dan Sejarah Matematika” dimana saya bertemu dengan dosen yang wawasannya seluas samudra. Di kelas ini saya bertemu dengan Plato, Zeno, Euclid dari Alexrandria, Pythagoras, Cardano, Huygen dan matematikawan-matematikawan lainnya. Saya melihat bagaimana matematika berevolusi dan ber-revolusi. Sedangkan dari kelas Psikologi, saya mendapatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan psikologi kognitif, selain itu, sebuah primbon dalam psikologi kognitif juga sudah saya khatamkan “Cognition” milik Matlin. Saya sungguh terkesan bagaimana “Slip of the tongue” dapat terjadi selain bagainama sesungguhnya psikologi sangat berpengaruh besar dalam proses belajar seorang anak manusia. Seharusnya setiap pendidik memiliki bekal pengetahuan psikologi kognitif yang cukup dalam mengajar sehingga mampu memahami apa yang terjadi dalam diri anak didiknya sehingga dapat memilih model atau metode yang paling tepat untuk mengatasinya.

Yang paling berbeda adalah dari kelas “proses berpikir matematik”, dimana yang didapatkan bukan sekedar pengetahuan teoritis melainkan teknik-teknik dalam bermatematika, bersama dosen yang kritis dan bersemangat otak kami berkerja berpacu dengan jantung yang naik turun karena ketegangan luar biasa. Seru sekali! Membuat adrenalin bekerja sesuai porsinya J. Sedangkan dari kelas geometri, walaupun porsinya sangat sedikit namun materi geometri non Euclid cukup membangkitkan semangat saya selain software geometer skechpad yang menarik untuk diujicobakan di kampus. Selain dari yang saya ceritakan di atas, maka matakuliahnya tidak menarik atau tidak banyak yang bisa saya dapatkan.

Pada semester II, walaupun banyak kehilangan minat pada awal perkuliahan namun pada akhir semester saya menemukan beberapa hal yang dapat memberi kontribusi keilmuan bagi saya. Analisis Real, masih merajai ketertarikan saya walaupun materinya jauh-jauh lebih sedikit daripada S1 dulu, namun kelas ini tidak kehilangan pesonanya. Masih saja menggoda, saya tertarik menggunakan konsep-konsep kekonvergenan pada dunia spiritualitas. Masih dengan primbon yang biasa digunakan hampir disetiap jurusan matematika “Elements of Real Analysis” dalam mempelajari mata kuliah ini, satu persatu konsep dikupas dengan seksama, materi hanya sampai pada kekonvergenan seragam sebuah fungsi. Sedikit sekali ya materinya?! Padahal saya berharap bisa sampai pada differential dan integral. Kelas Diskrit dimana saya sempat kehilangan selera, menyodorkan konsep sangkar burung merpati dan automata yang menggoda saya kembali tertarik, tentu saja, selain humor sang dosen yang entah mengapa seringkali hanya membuat saya seorang diri tergelak-gelak di kelas. Humor-humor cerdas dan lugas yang yang disampaikan dengan ekspresi datar sangat saya senangi (ups! Jadi ingat kelas Pak Gatut waktu S1 yang sering membuat saya tersenyum).

Kelas Metode Penelitian, saya mendapatkan sebuah buku yang bagus sebagai pegangan untuk melakukan penelitian pendidikan “How to Design and Evaluate Research in Education” karya Jack Fraenkel dan Norman E Wallen, menurut saya selain buku “Cognition” buku ini juga merupakan salah satu buku yang mudah dicerna, mengunakan bahasa Inggris yang sangat mudah dipahami, setiap konsep dipaparkan dengan struktur yang jelas dan diberikan contoh yang relevan. Di kelas ini juga dibahas dengan mendetail tentang Penelitian Tindakan Kelas. Sedangkan dengan dosen yang sama pada mata kuliah “Reviuw Journal Internasional” saya mendapatkan sebuah jurnal menarik tentang konsep “belajar spontan” dalam matematika serta konsep tentang “kemampuan abstraksi” yang mengantarkan sebuah pujian sang dosen saat presentasi tiba (sebuah kehormatan karena hal ini hanya terjadi satu kali sepanjang perkuliahan). Tidak ada kelas yang lebih tidak menyenangkan selain kelas “strategi belajar matematika”. Ups! Saya benar-benar tidak suka kelas ini L.

Yang jelas sepanjang tahun pertama banyak hal yang saya dapatkan, baik dari kelas perkuliahan di kampus ataupun lingkungan sehari-hari, dari mempelajari tingkah laku teman-teman di kelas. belajar memahami dan menghormati perbedaan prinsip. Belajar memanage waktu lebih baik. Belajar meyelesaikan konfik dan ber-rekonsiliasi. Belajar berevolusi melawan cuaca yang sering tak bersahabat. Belajar membuat pilihan dalam keadaan sulit. Satu hal yang juga meninggalkan kesan adalah belajar menumbuhkan motivasi pada orang dewasa untuk belajar dan belajar menyakinkan orang lain untuk percaya pada kemampuan dirinya. Selain itu,… saya juga belajar dialeg melayu melalui kawan-kawan dari sumatera lho,…. Dari mahasiswa S3 yang sempat beberapa kali satu kelas, saya belajar bagaimana membuat sebuah persiapan yang maksimal dalam setiap pekerjaan, selain itu perilaku mereka juga memberikan saya pelajaran untuk sering-sering bercermin diri “Apakah label yang melekat pada diri sudah sesuai dengan kualitas diri yang sesungguhnya?!” kemampuan menilai diri sendiri agar tak terlampau tinggi atau terlalu rendah namun pas sesuai dengan porsinya. Selain itu pelajaran yang tak kalah berharga dari mahasiswa S3 adalah semangat belajar yang tinggi pada usia yang tidak muda lagi. Belajar sepanjang hayat memang tepat bagi beberapa mahasiswa S3 di kampus.

Jika biasanya hasil pembelajaran dilihat score semata pada akhir semester, namun jarang sekali refleksi dilakukan sejauhmana score yang merupakan label itu sudah sesuai dengan kualitas diri yang diperoleh sebagai hasil dari proses belajar selama satu semester? Bukan berarti score tidak penting, namun ada esensi yang jauh-jauh lebih penting dan penuh makna dari hanya sekedar score belaka. Sesungguhnya inti penting dari proses belajar adalah belajar menemukan diri.

6 thoughts on “Setahun Sudah Menjadi Mahasiswa Pasca Sarjana

  1. 🙂 menarik.

    ´aljabar abstrak´ ? memang ada aljabar yang tidak abstrak ? ;)) Hehe, jadi ingat Analisis Real, Aljabar I, II, III… Semua abstrak.

    Kalo saya lebih suka bentuk aljabar yang lain: Kriptografi. Lebih ´manusiawi´ dan ´mendunia´.

    salam
    .tYo

  2. Oh,.. jika saya bilang mudah, rasanya kok terlalu angkuh ya! namun jika dibilang sulit, pada kenyataannya Saya dapat lulus dengan nilai tertinggi bung, jadi silahkan simpulkan sendiri saja.
    Soalnya diambil dari mana? ya yang jelas dari materi yang telah disampaikan Sang Dosen donk.🙂

    Btw, memangnya saudara studi di tempat yang sama dengan Saya?

  3. buku How to Design and Evaluate Research in Education nya..
    masih ada gak???
    susah bner nyari buku tu,,
    harganya kisaran berapa ya??

  4. Iya betul. hm,… wah kalau harga buku asli saya kurang tahu mas Ferry,… saya juga hanya punya copy-annya saja. Kalau Anda berdomisili di Bandung, beberapa tempat fotocopy daerah Gerlong (belakang UPI) punya buku itu. Atau kalau berkesempatan di solo, boleh pinjam milik saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s