Ujian yang Sesungguhnya


“Ujian”. Setiap siswa biasanya langsung melenguh panjang jika mendengar kata ini , baik siswa SD, SMP, SMU bahkan mahasiswa sekalipun. Ujian sebagai salah satu alat ukur dalam evaluasi pembelajaran pada hakekatnya memang memiliki banyak arti dan tujuan. Pekan ini, saya dan teman-teman sekelas baru saja menyelesaikan episode ujian akhir yang cukup menegangkan. Tiga hari berturut-turut ujian 3 matakuliah yang cukup berat( Proses berpikir Matematika, Sejarah dan Filsafat Matematika dan Aljabar Abstrak) harus kami lalui.

Nah, pada hari terakhir, saat ujian matematika ada sebuah kisah klasik tentang ujian yang menggugah saya untuk menuliskan cerita ini.

Hari ketiga, Kamis 17 Januari pukul 9.00 , kami ada jadwal ujian mata kuliah “Aljabar Abstrak” atau “Struktur Aljabar(SA)” Sudah umum diketahui bahwa mata kuliah ini sering kali menjadi momok dalam jurusan “matematika”. Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa yang dipelajari dalam mata kuliah ini pasti sesuatu yang abstrak.Struktur Aljabar itu pada dasarnya cabang matematika yang berkaitan erat dengan kesimetrian, kajiannya meliputi, konsep grup, konsep ring, konsep field, serta strukturnya yang didifinisikan dan diajarkan secara aksiomatik. Dalam mata kuliah ini, memang sudah tidak ditemukan lagi hitung-menghitung yang selama ini selalu diidentikkan dengan matematika. Menurut saya, untuk dapat mempelajari mata kuliah ini dengan baik dibutuhkan kemampuan analisis yang cukup tinggi dan juga kemampuan logika dan semantik yang cukup baik, kemampuan berhitung saja tidak cukup untuk dapat mengerti setiap konsep dalam SA.

Dalam kelas kami, SA ini menjadi mata kuliah momok yang cukup menakutkan, padahal dosennya paling baik, obyektif dan menyenangkan. Sepanjang proses perkuliahan, sang dosen menggunakan dua metode mengajar. Pada awal perkuliahan, metode diskusi menjadi pilihan untuk menjelaskan konsep-konsep dasar himpunan hingga konsep grup. Namun setelah UTS, Dosen mengganti metode pengajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab(mungkin karena hasil UTS kami yang mengecewakan). Sejak awal perkuliahan, diskusi seringkali hanya menjadi milik segelintir siswa yang memahami saja. Karena kejadian seperti ini, maka kami sering kali diskusi bersama teman sekelas diluar jam kuliah, teman yang sudah faham tentang konsep yang sedang kami pelajari berjuang untuk menyampaikan pada teman-teman lainnya dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar teman-teman yang lain dapat ikut faham juga.

Rabu sore, pukul 16.30 pasaca ujian Sejarah dan Filsafat (Yang membuatku kecewa karena tidak sempurna menyelesaikan seluruh soal) pak Urman dan Rafiq menghampiriku.

Mba Farida, kalau nanti malam kami ke rumah bisa?”. Pak Urman membuyarkan konsentrasiku pada soal ujian tadi.

oh, boleh pak” aku menjawab otomatis tanpa berpikir dulu.

iya, mba aku ma rafiq minta tulung ya,….

Aku hanya menjawab dengan seulas senyum saja. Pasalnya aku sendiri masih kecewa berat dengan ujian sebelumnya dan hari itu, yang tidak aku selesaikan dengan sempurna. Bukan karena aku tidak bisa, tapi lebih karena faKtor psikis yang membuatku tidak focus pada ujian.

eh,. . mau belajar kelompok ya?” Yanri, ahkwat sahabatku ini menyela.

iya Yan, ini Pak Urman sama Rafiq mau ke kos. Yanri mabid tempatku Yuk,…

Punten Teh, Yanri belum belajar semua. Mau belajar sendiri dulu aja deh. Lagian, Yanri gak bawa persiapan buat mabid” . Jawaban Yanri membuatku tersentak, sadar bahwa aku pun belum mempelajari semua materi SA, karena waktunya habis untuk menyelesaikan tugas makalah beberapa mata kuliah. Aku tersadar….. “Astagfirullahal Adzim, aku ceroboh sekali”

“Fiq, Fiq,…. Punten Fiq nanti malam ndak jadi ya,….. sepertinya Ida ndak bisa deh belajar bareng…..” Aku memanggil Rafik yang sudah nangkring di atas motor.

“Tolong bilangin Pak Urman sekalian ya…”

“Ok deh, ….. kenapa da?”

“Ida juga belum siap Fiq, punten yah…”

——–**********————————

Setibanya di kos, aku menangis…. kecewa dengan ujian kemarin dan hari ini yang tidak utuh sempurna. Hari pertama, aku tidak dapat menyelesaikan soal ujian sebanyak 11 soal dalam waktu 120 menit dengan sempurna, bukan karena aku gak bisa semata! namun saat ujian ada hal-hal yang diluar dugaan, dari salah baca soal hingga tidak teliti dalam menghitung. aku memang tidak optimal dalam belajar, sejak semalam sebelumnya, karena ada beberapa hal diluar dugaan, printerku macet ketika digunakan mencetak tugas yang akan aku kumpulkan pagi harinya sehingga harus dioprek-oprek dulu, sakit perut gara-gara beli makan di tempat yang baru, ditambah harus menyelesaikan masalah berkaitan dengan relasi antar manusia yang melibatkan rasa yang tiba-tiba muncul tanpa diduga.Padahal soal yang muncul tersebut mirip dengan soal sehari-hari yang biasanya tanpa kesulitan berarti dapat aku selesaikan.

Aku sempatkan untuk merenung sejenak. Di ujung perenungan, aku mendapatkan kesimpulan yang indah, bahwa ujian sesungguhnya untukku bukan sekedar ujian akhir semester namun ujian tentang kesabaran, ujian tentang pengendalian amarah, ujian tentang keberanian mengambil keputusan, ujian tentang manajemen emosi dan diri untuk mencari hikmah dari setiap kejadian. Mungkin Allah sedang mempersiapkan “materi” baru untukku dalam menjalani episode-episode kehidupan, oleh karenanya aku harus dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi prasyaratnya, melalui serangkaian “ujian”. Sedangkan skenario kedua, mungkin melalui kejadian-kejadian ini Allah menegurku atas, “kesombongan, keangkuhan, kemalasan, keacuhan dan sikap-sikap burukku lainnya” baik yang sadar ataupun tidak sadar telah aku lakukan selama ini. Lega rasanya….. mendapatkan kesimpulan yang indah, hingga aku bisa mempersiapkan diri, menyusun strategi, dan mengambil langkah-langkah yang terbaik untuk esok hari. Akhirnya malam itu aku tutup dengan keyakinan esok hari adalah hari yang lebih baik. Dan aku mendapatkannya…… J Terima kasih Allah

—————-*******————————

Malam itu Pak Urman sms, dan kami sepakat besok pagi pukul 6.00 akan belajar bersama.

Sejak kembali dari mesjid untuk shubuhan, saya berkutat terus dengan beberapa soal hingga pukul 6.15, pak Urman tiba di tempatku. Tidak terasa kami diskusi hingga tiba pukul 7.45(dan beliau masih dengan canggung mencatat beberapa konsep dan jawaban soal-soal seperti enggan beranjak, hingga saya harus mengingatkan berkali-kali bahwa sudah pukul 8.30 lebih) berangkat ke kampus berlari-lari karena masuk pukul 8.00.

Setibanya di kampus, Pak Urman tidak langsung masuk tetapi mampir ke toilet dulu. Ternyata itu berlanjut hingga beberapa menit setelah ujian dimulai, beliau bolak balik ke toilet, bahkan sempat terdengar suara muntah-muntah dari dalam kelas kami. Kontan, semua teman-teman tersenyum bahkan tertawa (terdengar kejam memang, tapi sungguh lucu melihat langsung orang stres karena ujian, diare plus muntah-muntah, terlebih terjadi pada orang seusia pak urman yang notabene juga seorang guru yang sudah mengajar bertahun-tahun dan tersbiasa memberi ujian) demikian juga Asisten yang mengawas ikut geli karenanya. Saya tidak tega melihatnya, walaupun tadi sempet sebel juga waktu berangkat karena ditinggal, beliau kan tinggi besar, sehingga langkahnya panjang-panjang jadi saya harus berlari-lari untuk mengimbanginya, itupun masih ketinggalan jauh hingga masuk kelas ngos-ngosan karena berlari-lari dan naik tangga hingga 4 lantai. Pada awalnya suasana memang sangat tegang, jika tidak ada kejadian stersnya Pak Urman. Menurut saya, ujian untuk Pak Urman pada hakekatnya bukanlah soal-soal SA yang dibuat Sang Dosen, melainkan ujian mengatasi kepanikan dan ketegangan yang terjadi saat berhadapan dengan situasi-situasi yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan.

Sepertinya ujian hari itu, teman-teman memang sedikit kesulitan walaupun soalnya relatif jauh lebih mudah dari pada ujian UTS dulu. Mungkin karena sudah stres dan panik lebih dulu sehingga berpengaruh pada waktu ujiannya. Tapi bagi saya, hari itu rasanya ujian yang paling menyenangkan untuk mata kuliah paling sulit dibanding dengan 2 ujian sebelumnya yang sepertinya bagi teman-teman jauh lebih mudah.

Minggu ini ujian semester berakhir, namun bagiku “ujian” yang sesungguhnya masih panjang.

(ditulis pada akhir semester I, Alhamdulillah,…. semester I penuh hikmah)

3 thoughts on “Ujian yang Sesungguhnya

  1. ooo iya aku ingat saat itu setelah ujian filsapat aku ngumpulkan hasil ujian agak duluan dan mbak ida kelihatan bingung dan bilang no 4 belum. saya bilang no 4 di gambar dulu nanti ada dua bentuk yaitu persegi dan persegi panjang dan dibuktikan luasnya sama. dan saat itu waktunya dah hampir selesai. dan kalau tdk salah selang berapa lama pada hari itu juga saya denger2 mau ada belajar bersama sa termasuk temen saya rafiq. ernyata malam kata bak ida ga bisa dan mbak ida bikin janji supaya pagi aja. ya udah malamnya saya belajar sendiri sampe jam 12an dan jam 5 subuh dah belajar lagi akibatnya aku masuk angin apalagi cuaca di gerlong tidak mendukung (dingin banget) akhirnya aku masuk angin. karena udah janji jam 6 mau datang ke kost mbak ida akhirnya aku datang. lumayan lah disana saya dapat menulis dan mengingat kembali teorema2 belajar sendiri. berangkat ke kampus hampir kesiangan setengah lari kita menuju kampus. Akibatnya aku tambah pusing udah masuk angin ditambah setengah lari ya akhirnya daku muntah juga saat ujian tentu di toilet hehehe ya karena masuk angin itu bukan semata-mata stres karena ujian ok
    TAPI MAKASIH YA ATAS`SEMUANYA DAN BANTUANNYA TERNYATA MBAK IDA BAIK DECH
    wassalam….URMAN

  2. To : Rio

    Thanks Rio, blog kamu juga bagus kok. Muda dan idealis. terus berkarya ya….

    To :Pak urman

    he..he..he.. masuk angin karena stress atau stress karena masuk angin ya Pak?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s