Pengukuhan Guru Besar UPI


Hari ini, Kamis 23 Oktober 2003 Drs. H. Yaya S Kusumah, M.SC., P.hD. salah satu dosen saya dikukuhkan sebagai salah satu guru besar dalam bidang Pendidikan Matematika, sedangkan kemarin Rabu 22 Oktober 2008 dua dosen saya yang lain, DR. Didi Suryadi M.A dan DR. Jozua Sabandar,P.hD telah mendahuluinya. Memang tiga hari berturut-turut sejak selasa lalu UPI mengukuhkan 8 guru besar sekaligus dan tiga diantaranya berasal dari bidang Pendidikan Matematika. Tidak heran bila seluruh keluarga besar UPI khususnya Pendidikan Matematika merasa bangga atas capaian ini.

Jabatan sebagai guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi seorang dosen. Untuk mencapainya seorang dosen harus memenuhi angka kredit minimal 1000 poin, yang terdiri dari kegitan mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Namun yang menarik bagi saya tentu bukan semata hanya teraihnya jabatan tertinggi tersebut bagi mereka para guru saya melainkan apa yang disampaikan dalam pidatonya sebagai salah satu indicator “kesesuaian predikat yang melekat dengan kapabilitas keilmuan yang dimiliki” besar harapan saya dapat memperoleh “pencerahan-pencerah” baru dalam bidang pendidikan matematika yang dapat berkontribusi besar bagi perkembangan dunia pendidikan di bumi Pertiwi tercinta.

Prof. Yaya menyampaikan pidato pengukuhannya dengan judul “Konsep, Pengembangan, dan Implementasi Computer–Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Mathematical Thinking” yang menguraikan dengan singkat bagaimana Peng-implementasian Computer-Based learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti ; penalaran Matematis, komunikasi matematis, koneksi matematis, problem solving, critical thinking dan creative thinking baik pada siswa dengan kemampuan yang rendah, sedang ataupun tinggi. Secara umum beliau mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi computer dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu computer mandiri (stand alone) dan computer dalam jaringan (network). Keduanya berbeda dalam aspek interaktivitas. Dalam pembelajaran melalui computer mandiri interaksi siswa hanya terbatas pada bahan ajar saja sedangkan pembelajan dengan computer jaringan interaksi dapat terjadi lebih luas, baik dengan bahan ajar, guru atau tutor bahkan teman-temannya serta terbukanya akses informasi yang bebas ruang dan waktu. Dengan kata lain, jika saya kaitkan dengan konsep yang diutarakan oleh Pak Didi tentang metapedadidaktik adalah pembelajarn dengan model stand alone tidak mencakup terjadinya proses pedagogic sedangkan dengan menggunakan system jaringan selain aspek didaktik maka aspek pedaggogik tetap masih dapat dilaksanakan meskipun dengan keterbatasan-keterbatasan.

Pendidikan berbasis computer, selain bermanfaat luas dalam pembelajran Matematika khususnya untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sepertinya dapat digunakan menjadi salah satu alternative dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indoensia secara umum berkaitan dengan kondisi geografis yang berupa Negara kepulauan, dengan system jaringan pembelajaran dapat dilakukan tanpa harus mendatangkan langsung sang pengajar, selain itu pemerataan akses informasi dapat dibangun dengan membuat jaringan computer yang baik di setiap pelosok nusantara sehingga diharapkan tidak terjadinya kesenjangan yang terlalu jauh antar daerah di Nusantara tercinta ini. Memang patut diakui pembangunan infrasturktur pelengkapnya tidaklah murah namun demikian jika ditinjau kembali, hal tersebut merupakan investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya, karena keuntungannya adalah meningkatnya kualitas manusia Indonesia tentunya sejalan dengan akses pendidikan yang tersedia. Kebetulan, di UNS telah beberapakali melakukan pembelajaran dengan teleconference yang dimotori oleh Pak Sutanto, entahlah untuk UPI sendiri.

Sedangkan prof. Didi seperti saya utarakan pada postingan sebelumnya menyampaikan pidato pengukuhannya dengan judul “Metapedadidaktik dalam Pembelajaran Matematika: Suatu strategi Pengembangan Diri Menuju Guru Matematika Profesional” . kurang lebih paparannya adalah sebagai berikut, metapedidaktik diartikan sebagai kemampuan untuk dapat memandang situasi didaktis dan pedagogis yang terjadi dalam suatu pembelajaran secara komprehensif, mengidentifikasi dan menganalisis hal-hal penting yang terjadi serta melakukan tindakan tepat sehingga tahapan pembelajaran berjalan lancar dan sebagai hasilnya siswa belajar secara optimal. Metapedadidaktik meliputi tiga komponen yang terintegrasi yaitu kesatuan, fleksibilitas dan koherensi. Oya, sebelumnya perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang situasi pedagogis yang dimaksud dalam tulisan ini adalah situasi yang terkait dengan hubungan guru dengan siswa, sedangkan situasi didaktis yang disadur dari Kansanen (2003) adalah hubungan antara siswa dengan materi dalam segitiga didaktis yang juga dikemukakan oleh Kansansen. Segitiga didaktik yang diungkapkan oleh Kansansen ini hanya memuat hubungan didaktis antara siswa-materi serta hubungan pedagogis antara guru-siswa, dalam hal ini menurut Pak Didi perlu adanya satu hubungan lain yang juga penting yaitu hubungan antara guru-materi. Nah,.. hubungan antara Guru-materi serta guru-siswa yang dikemas dalam sebuah konsep “metapedadidaktik”.

Kembali pada tiga tiga komponen dalam metapedadidaktik yaitu, komponen kesatuan yang diartikan sebagai kemampuan dalam memandang seluruh komponen (dalam segitiga didaktis termodifikasi) secara utuh dan saling berkaitan erat. Fleksibilitas adalah kemampuan yang berkaitan dengan pembuatan prediksi respon siswa serta antaisipasinya dalam peristiwa pembelajaran. Nah disinilah letak pentingnya kemampuan improvisasi, seperti saya utarakan pada postingan sebelumnya. Sedangkan komponen terakhir adalah koherensi atau pertalian logis. Situasi yang diciptakan guru sejak awal pembelajaran tidaklah bersifat statis karena pada saat respon siswa muncul yang dilanjutkan dengan tindakan didaktis atau pedagogis yang diperlukan, maka akan terjadi situasi didaktis atau pedagogis baru.

Jika dikembalikan pada judul yang ditulis, jelaslah hal ini berkaitan erat dengan peningkatan profesionalisme guru yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan di Nusantara kita. (Ups,.. sepertinya Saya tershibgoh oleh momen Sumpah Pemuda ya,… jadi lebih nasioalis euy,…J). Tentulah untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik harus diawali dengan membentuk pribadi-pribadi guru berkualitas tinggi baik dari sudut pandang didaktis ataupun pedagogis. Hal ini berkaitan dengan peran utama guru sebagai pengajar dan pendidik. Peran sebagai pengajar yang berkaitan erat dengan konsep situasi didaktis sedangkan peran guru sebagai pendidik berkiatn erat dengan situasi pedagogis. Walaupun secara keseluruhan, konsep “metapedadidaktik” diungkapkan oleh seorang Guru Besar bidang pendidikan Matematika namun ini adalah sebuah konsep pendidikan yang bersifat general, untuk lebih lanjut dapat dikaji dari sudut pandang didaktik berkaitan dengan ke-khas-an Matematika sebagai ilmu yang abstrak yang bukan tidak mungkin juga berpengaruh pada situasi pedagogis yang menarik.

Nah, untuk pidato yang diungkapkan oleh prof. Jozua Sabandar yang berjudul “Pembelajaran Matematika Sekolah dan Permasalahn Ketuntasan Belajar MatematikaInsyaAllah saya ulas pad apostingan berikutnya.

2 thoughts on “Pengukuhan Guru Besar UPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s