Kuliah Umum


photo-barengJumat 31 Oktober 2008 kemarin, di kampus SPS UPI dilaksanakan kuliah umum bersama dengan Prof.Takashi Itoh dari Department of Mathematics, Faculty of education Gunma University Japan. Beliau menyampaikan materi tentang bilangan paling terkenal dalam dunia matematika, π, yang dibaca Pi. Beliau memang salah satu anggota “The friends of Pi” yang lima tahun lalu dapat menghafal 20 bilangan sedangkan sekarang telah mampu menghafal lebih dari 100 bilangan. Hari sebelumnya juga terdapat kuliah umum bersama Prof. Masaru Nabisa dari Department of Mathematics, Faculty of education Chiba University Japan di Jurdikmat gedung JICA dengan materi Phytagoras.

Kebetulan saya hanya bisa menghadiri kuliah umum hari jumat saja, Prof. Itoh selain mengulas tentang sejarah bilangan π beliau juga menjelaskan beberapa metode untuk menemukan Pi, yaitu metode klasik, metode analitik dan metode modern menggunakan mesin komputer. Pada kesempatan kali ini, saya tidak menuliskan secara utuh pemaparan Prof. Itoh tentang Pi, karena beliau hanya diberikan waktu sekitar 80 menit untuk memaparkan semua point tersebut sudah plus dengan tanya jawab. Namun lain kali saya ingin membuat ulasan tersendiri tentang bilangan Pi ini. Oya,… dalam kesempatan itu prof. Itoh juga berkesempatan memberi penjelasan singkat tentang pembuktian bahwa Pi adalah bilangan irrasional lho,… pembuktian yang beliau jelaskan adalah pembuktian dengan teknik reductio ad absurdam paling sederhana di dunia karena cukup menghabiskan satu lembar kertas saja walaupun untuk menjelasakannya beliau membutuhkan 70% lebih waktu yang disediakan panitia 🙂(Sepertinya,.. justru ini materi intinya he..he..he..). Dalam sesi Tanya jawab, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk bertanya pada beliau. “Apa gunanya menghafal begitu banyak angka decimal dari bilangan Pi, jika pada prakteknya hanya dua bilangan saja yang sering digunakan dalam proses-proses perhitungan?” Jawab beliau adalah karena 3,14 itu hanyalah bilangan aproksimasi dan bukan Pi yang sebenarnya, semakin banyak angka decimal dari Pi yang digunakan maka semakin kecil errornya.(Ugh,.. itu sih saya juga sudah tau Prof…^_^) Yah,… jawabnya kurang memuaskan bagi saya, karena maksud saya sesungguhnya adalah bertanya secara pragmatis manfaat dari mencari dan menghapal begitu banyak angka decimal dari Pi untuk ditularkan pada mahasiswa atau siswa agar dapat membangun motivasi mereka untuk berpartisipasi pada klub-klub seperti “friends of Pi”🙂.

Minggu-minggu ini UPI sedang banyak tamu dari luar negri rupanya, hari senin ini, saya kembali mengikuti ceramah ilmiah tentang Pendidikan secara umum di auditorium JICA yang disampaikan oleh Prof. Bill Atweh dari Curtin University, Australia. Ajang seperti ini sungguh bermanfaat selain untuk menambah wawasan dapat pula melatih kemampuan listening dan speaking berkaitan dengan penguasaan kemampuan bahasa Inggris. Materi hari ini jauh lebih menarik bagi saya karena topiknya tentang pendidikan dan disampaikan oleh seorang Prof yang berlatar belakang pendidikan Master dalam bidang Matematika dari Libanon dan P.hD dalam bidang pendidikan dari Wisconsin University, USA. Hari ini, Mr. Bill mengungkapkan tentang konsep pembelajaran yang menurut beliau tidak hanya dapat dipandang dari salah satu sudut pandang saja seperti pada teori pendekatan student centered, teacher centered atau curriculum centered. Memang banyak kasus terjadi, ketika salah satu komponen pembelajaran menjadi pusatnya maka komponen-komponen yang lain menjadi sedikit terabaikan. contoh kasusnya adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung melupakan aspek kemampuan guru sehingga hasil yang diperoleh tidaklah maksimal. Sesungguhnya aspek guru, siswa, konten dan konteks merupakan satu kesatuan yang utuh yang keseluruhannya menjadi pusat secara parallel. Dalam sesi tanya jawab, saya bertanya berkaitan dengan konsep yang beliau jelaskan tentang guru, siswa, kontens dan konteks. Berkaitan dengan pembelajaran yang sesuai dengan konteks, matematika seringkali tidak mudah dikompromikan dalam konteks terutama untuk materi-materi yang sudah sangat abstrak, bagaimana pengalaman beliau dalam mengatasi masalah ini. “What an excellent question!” Beliau memuji pertanyaan saya. Sayangnya jawaban yang diberikan kali ini juga belum memuaskan, masih terlalu umum, yaitu dengan memberikan contoh sebuah kasus di Australia dimana guru menyediakan waktu lebih untuk memberi penjelasan-penjelasan bagi materi yang masih sulit. Wah,… rasanya masih kurang sreg deh jawabnya tapi ini saya maklumi karena saya adalah penanya pertama dari tiga penanya pada sesi ke-3 dan sang moderator tidak mendokumenkan pertanyaan-pertanyaan dengan baik ditambah lagi dengan terbatasnya waktu yang disediakan. Tapi jangan khawatir,…… sang Profesor berjanji akan menyediakan waktunya bagi kami untuk berdiskusi selama tiga hari mendatang. Alhamdulillah,…. Diberikan kesempatan emas untuk berdiskusi dengan sang pakar, semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat yah…

Beliau juga mengungkapkan kondisi pendidikan yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat, yaitu terdapatnya gap antara apa yang menarik bagi siswa dan apa yang baik buat siswa. Saya jadi teringat sebuah film “I’am Not stupid” yang jargonnya adalah “this is for your own good!” begitulah kalimat yang senantiasa disenandungkan para orang tua kepada para anak-anaknya untuk memaksa anak melakukan hal-hal yang menurut orang tua baik bagi mereka dalam berbagai sendi kehidupan. Begitu pula yang terjadi dalam dunia pendidikan, yang baik menurut aturan norma dan etika yang berlaku secara umum di dalam berbagai sendi kehidupan belum tentu yang membuat siswa tertarik untuk melakukannya. Dalam konteks bahasa inggris-nya diistilahkan dengan “students interested versus students’ best interest”. Ada hal yang sangat menarik dalam kajian beliau, bahwa pendidikan tidak hanya sekedar mencetak siswa untuk siap kerja namun menyiapkan siswa menjadi seorang warga Negara yang baik. Pendidikan harus dapat menumbuhkan identitas siswa, demikian pula pendidikan matematika. Hmm,… sepertinya ini sejalan dengan pemikiran saya bahwa pendidikan harus dapat membentuk karakter siswa. Saya berharap, dengan mempelajari matematika siswa dapat membentuk karakter diri yang kuat, haus akan pengetahuan, tak pernah takut mencoba, optimis, gigih, senang bekerja keras, kritis dan kreatif, memiliki pendirian yang kuat dan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ya,.. dalam meyelesaikan masalah matematika, siswa secara tidak langsung pada dasarnya menempa diri dengan mengasah soft skill yang dapat memperkuat karakter kepribadian mereka. Ini sesuatu yang menurut saya baik bagi mereka, namun apakah mereka setuju bahwa hal ini memang baik bagi mereka? Ugh,…. untuk membuat mereka tertarik dengan hal ini bukanlah pekerjaan mudah bagi para pendidik matematika tapi itulah yang semestinya kami lakukan bukan?🙂

Kegiatan ilmiah seperti ini memang sebaiknya dilaksanakan rutin, agar dapat saling bertukar informasi untuk memperluas wawasan para praktisi pendidikan. Namun, dalam hati kecil saya juga terbersit sebuh cita-cita dan harapan bahwa suatu saat kelak para pakar pendidikan Indonesialah yang berdiri di depan forum untuk menyampaikan hasil pemikiran-pemikirannya baik di bumi Pertiwi ini ataupun di seluruh penjuru bumi. Saya pikir tidak mustahil ini dapat terwujud karena pada dasarnya negri inipun memiliki potensi untuk melahirkan para pendidik kelas dunia. Mari berdjoeang bersama demi kemajuan pendidikan Indonesia! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s