Hemat Energi yang Tak Sinergi


stop-kontakKrisis energi yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini rupanya baru terasa dampaknya akhir-akhir ini di kampus saya. Berkaitan dengan hal tersebut, terus terang saya sedang keki berat dengan fasilitas kelistrikan yang tersedia di tempat saya belajar sekarang ini. Setelah beberapa hari tidak ngenet di kampus, awal minggu ini saya sengaja membawa lap top untuk mengakses internet di lantai 2 gedung pasca baru yang memang disediakan khusus hot spot untuk mengakses internet menggunakan wifi. Fasilitas meja dan kursi yang cukup nyaman disediakan pihak kampus bagi seluruh mahasiswa pasca, hanya saja sejak beberapa hari ini ada fasilitas lain yang jauh lebih penting yang ditiadakan oleh pihak kampus. Hal inilah yang membuat saya keki.

Sejak awal disediakan, di tempat tersebut terdapat dua soket stop kontak untuk mendapatkan asupan listrik bagi kami pengguna lap top. Namun, kemarin ternyata aliran listrik ini diputus dari pusatnya, beberapa pengguna sempat beberapa kali mencoba-coba hingga akhirnya beberapa kawan memberikan info bahwa sejak beberapa hari yang lalu aliran listriknya sudah diputus sehingga kami hanya bisa mengandalkan baterai lap top untuk dapat mengakses internet di tempat tersebut. Kebijakan ini juga diberlakukan di Unit Pelayanan Informasi dimana lab computer dan pusat hot spot kampus berada. Kebijakan inipun tidak disosialisasikan terlebih dahulu, secara diam-diam pihak kampus memutus aliran listrik ke semua stop-kontak yang berada di tempat tersebut.

Jika ditinjau dari sudut pandang penghematan listrik yang dilakukan pihak kampus, menurut saya kebijakan ini kurang tepat. Kenapa? pertama, karena lab computer yang khusus untuk mahasiswa pasca belum dioperasikan dan kedua karena sebetulnya penggunaan lap top pribadi mahasiswa di kampus itu secara tidak langsung sudah menjadi bagian penghematan energi listrik di kampus. Konsumsi listrik lap top jauh lebih sedikit di bandingkan konsumsi listrik dari Personal Computer, jadi jika mahasiswa menggunakan lap top dengan mengambil energi listrik kampus berarti dia tidak menggunakan jatah penggunaan listrik yang sejatinya memang sudah dialokasikan kampus berdasarkan biaya yang sudah dibayarkan oleh mahasiswa pada setiap semester.

Jikapun memang ada kebijakan demikian semestinya ada sosialisasi dari pihak kampus kepada mahasiswa sebelum diberlakukan. Jika kebijakan tersebut diberlakukan maka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengakses internet di tempat tersebut rata-rata mungkin hanya 1,5 jam saja, padahal kebutuhan akses informasi kami untuk sekedar menyelesaikan berbagai tugas ataupun meningkatkan kualitas diri begitu besar hingga terkadang kami harus mengakses internet lebih dari 2 jam.

Kondisi saat ini di tempat kami kuliah sebetulnya juga sudah cukup memberi keuntungan bagi kampus, pasalnya prosentase mahasiswa pasca yang memanfaatkan fasilitas teknologi informasi yang disediakan kampus sebagai kompensasi dari biaya yang kami keluarkan setiap semester cukup kecil. Sebagai contoh, pada kelas saya, baik kelas A ataupun kelas B, mahasiswa yang menggunakan account internetnya tidak lebih dari 50% saja. Hanya dua orang yang kehabisan account di setiap semester yaitu saya dan Pak Tata. Bahkan pada semester I dan II yang lalu beberapa orang bahkan tidak melakukan aktivasi sama sekali yang berarti pihak kampus diuntungkan karenanya.

Jadi kesimpulannya, menurut saya pihak kampus mengambil kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan pendidikan dalam usaha penghematan energi yang dilakukan dengan memutus pasokan listrik untuk para pengguna lap top di kampus. Langkah penghematan listrik dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan dispenser atau penggunaan pendingin ruangan. selain itu membuat setting kelas yang cukup pencahayaan dan udara juga dapat dijadikan alternatif penghematan energi listrik sehingga penggunaan lampu dan AC di siang hari dapat diminimalisir.

Dari kejadian ini, saya menjadi berpikir lebih jauh apakah kampus-kampus ataupun lembaga pendidikan pemerintah dapat membuat pembangkit listrik sederhana sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik domestiknya. Seperti yang dalam tayangan yang pernah saya saksikan di Metro TV, sebuah sekolah dasar di suatu negara eropa membuat pembangkit listrik sendiri sebagai bagian dari proses pembelajarannya. Sehingga siswa sejak dini telah mengetahui prinsip kerja dari beberapa pembangkit listrik bahkan dapat mengoperasikannya serta memiiki sikap hemat energi sebagai salah satu hasil tidak langsung pengintegrasian konsep pembelajaran dengan aplikasinya dalam kehidupan. Alangkah baiknya bila hal ini juga dapat diterapkan pada tingkat perguruan tinggi di Indonesia, sehingga selain kampus memperoleh manfaat langsung dari keberadaan pembangkit listrik yang sesuai dengan sumber daya yang terdapat pada daerah tersebut, para mahasiswanya pun dapat langsung terjun mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari bangku kuliah plus pembentukan sikap positif terhadap lingkungan. Bahkan mungkin tidak hanya pembangkit listri saja, namun kampus-kampus dapat membuat sendiri fasilitas-fasilitas umum lainnya seperti penyediaan air bersih, pelayanan pendidikan ataupun kesehatan dan lain-lain, setidaknya untuk kebutuhan domestik kampus bahkan akan lebihbaik jika dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar juga. Memang mungkin pada awalnya program ini membutuhkan biaya yang cukup besar namun, ini adalah investasi jangka panjang yang nilainya juga cukup menjanjikan keuntungan jangka panjang yang dapat diperoleh dapat lebih banyak. Tapi, apakah hal ini mungkin dilakukan ya?

Untuk kasus kelistrikan, Saya sendiri belum paham tentang seluk beluk “kelistrikan” ini, namun keprihatinan atas pengambilan kebijakan yang tidak berpihak pada kemajuan pendidikan memantik saya untuk mencoba mencari solusi yang mungkin lebih baik. Hemat itu perlu namun harus logis dan proporsional, terlebih lagi pada tataran tingkat perguruan tinggi, jangan sampai justru penghematan menimbulkan kerugian yang lebih besar bukan untung malah buntung!

2 thoughts on “Hemat Energi yang Tak Sinergi

  1. Hemat Energi yang Tak Sinergi => Alergi

    Dari masalah ulasan dapat saya rangkum menjadi :
    1. Penghematan energi itu sendiri
    2. Account Internet
    3. Alternatif sumber energi

    Akan saya mulai dari topik yg ke 2 dahulu “Account Internet”, setahu saya tidak ada satuan untuk menghitung berapa cost yg harus dikeluarkan per-unit untuk internet. Tidak seperti pada listrik per-KwH, air per-m3. Karena internet baik itu Dial-up, DSL ataupun Broadband merupakan frekwensi bebas. Untuk internet bisa dibebankan cost nya berdasarkan paket/waktu. Untuk menghitung itu pihak institusi menghintung berapa jumlah investasi yg ditanam yg kemudian secara kseluruhan bisa di hitung : biaya penyusutannya + loyalti ke provider + operation cost + maintenence cost + Biaya2 lainnya lalu bisa diketahui berapa cost yg layak untuk setiap mahasiswa mendapat account tersebut.

    Dari mana anda bisa ketahui pihak kampus diuntungkan dari pemakaian account yg tidak maximal itu?, sedangkan banyak macam paket2 yg ditawarkan di masyakakat, ada yg Xn jam/bln, unlimitted jam/bln, ada juga yg sistem voucher dan kebetulan yg anda punya adalah yg Xn jam/smtr. Jadi meskipun semua mhsw tidak menggunakan account ataupun seluruh mhsw menghabiskan jam account tersebut pihak kampus tidak merasa untung maupun rugi secara financial. Lain halnya anda pergi ke warnet dengan membayar uang untuk 3 jam dengan otomatis komputer running selama 3 jam, tapi tiba2 baru 1/2 jam anda harus pulang maka pihak warnet akan untung karena sisa 21/2 jam tadi tidak akan dikembalikan kepada anda lalu diberikan kepada orang lain yg sudah menunngu.

    Untuk topik Hemat Energi, adalah memang bukan maslah anda sendiri tapi sudah masalah nasional. Krisis energi adalah dampak yg kita rasakan akibat Pembangunan Infrasruktur yg tidak koperenhensif selama 6 Repelita. Tapi kita tidak bisa menyalahkan terus menerus kepada pemerintah terdahulu. Yg penting sekarang kita dengan berbagai cara melakukan penghematan energi itu. Janganlah tendensius su’udhon mengatakan pihak kampus tidak berpihak pada pendidikan. Seharusnya anda bersyukur bisa seperti sekarang ini. Bagaimanpun mereka ( usaha kecil, home industri, dan lain2 yg berhubungan usaha rakyat kecil, sekolah2 kecil dll) juga perlu listrik. Kebijakan kampus sudah tepat, itu bukan saja soal menekan biaya2 pengeluaran kampus tapi lebih dari itu yakni Pemerataan Distribusi Listrik.

    Anda itu Cantik tapi agak sedikit aleman… Menurut saya antara anda&kawan2 dengan pihak kampus hanya terjadi miskomunikasi, diskomunikasi dan komunikasi+less. Saya ada beberapa solusi bisa anda coba :

    1. cara Dewasa
    Anda dan kawan2 anda secara kolektif menemui pihak kampus untuk minta jadwal hari dan jam supaya saluran listrik yg anda maksudkan bisa berfungsi, agar energi listrik itu bisa di gunakan secara efektif sesuai kebutuhan. Coba secara jujur saja dari setiap 2 jam yg dibutuhkan meng-akses internet berapa % untuk browsing study,brapa % untuk cek/kirim email, brapa % untuk nge-blogg FS/wordpress/Hi5(buat puisi dll), dll.

    2. cara Sangat Dewasa
    Anda bawa saja accu yg kecil dan ringan ke kampus dengan adaptornya.

    3. cara Tidak Dewasa.
    Anda dan kawan2 serta seluruh mahsw S2 adakan unjuk rasa langsung ke pihak kampus, atau tidak mau bayar lagi account internet untuk periode berikutnya.

    Untuk apa anda susah2 buat uneg2 di blog. yg para Pembuat Keputusan tidak ada waktu untuk baca bogg. Blogg hanya sarana bagi kita untuk meng-aktualisasi diri.

    Kemudian tentang topik terakhir yg anda maksud yakni Alternatif Energi, ini saya tidak berkompeten untuk kasih jalan keluarnya

    *)Karya yg selektif dan bermanfa’at bagi banyak orang adalah bagian dari Dewasa.

  2. **) aktualisasi diri dalam : unjuk kemampuan, unjuk kekuatan, unjuk prestasi, unjuk aktivitas, unjuk pengalamanan, unjuk hati, dan unjuk-unjuk lainnya termasuk unjuk diri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s