Computer dan Ketuhanan


computerHampir setiap hari berinteraksi dengan computer, walaupun saya sudah mengenal computer bertahun-tahun lamanya (setidaknya sejak saya duduk dibangku SMU) semakin hari saya semakin terkagum-kagum dibuatnya. Semakin hari perkembangan inovasi computer memang luar biasa. Dari sekedar mesin hitung yang berbody besar hingga saat ini menjadi sebuah perangkat multifungsi dengan desain yang simple, elegant dan menarik. Inilah salah satu hasil inovasi yang memiliki banyak sekali kemungkinan aplikasi sehingga memungkinkan terjadinya proses re-invention, begitu kata Roger dalam bukunya “Diffusion of Innovation” edisi ke-tiga halaman 180 dalam topic “re-invention”

Bukan sekedar kagum pada benda elektronik ini namun kagum pada begitu pesat perkembangan inovasi ini. Kagum pada orang-orang dibalik layar karya manusia yang monumental ini. Dapatkah kawan bayangkan betapa rumit kerja dari hardware dan software dalam computer yang tersusun dalam terstruktur yang begitu rapi bahkan semakin hari semakin teliti. Hampir semua aspek dalam perkembangan intelektual manusia terakomodasi dalam computer ini. Coba lihat pada program yang penggunaannya sederhana saja, misalnya MS Word yang sedang saya gunakan ini. Bukan hanya detail fungsi menulis yang mendapat perhatian seperti aturan margin, paragraph, spasi, dan lain-lain namun dari segi estetika seperti jenis huruf dan warnanya juga mendapat porsi yang cukup besar sehingga memungkinkan penggunanya berkreatifitas dengan semua fitur yang diberikan. Kedua belahan otak kanan-kiri dapat terakomodasi di sini. Semakin kreatif pengguna, maka semakin bagus dan menarik hasil yang diperoleh. Ini sungguh luar biasa bukan?

Seringkali saat-saat menggunakan berbagai fitur yang berada di notebook, terpikirkan oleh saya orang-orang hebat dibalik hasil karya ini. Bagaimana mereka dapat membuat semua ini? Bagaimana mereka bisa merealisasikan ide-ide yang berada dalam pikiran mereka? Apa yang pertama kali mereka lakukan untuk membuat sebuah program luar biasa ini? Bagaimana mereka belajar menguasai semua kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk dapat membuat program-program yang memiliki kemampuan mengagumkan ini? Bagaimana perasaan mereka setelah berhasil membuat program ini? Lingkungan seperti apa yang mendukung berkembangnya daya pikir dan imagi mereka? Dan,.. akh.. masih banyak pertanyaan yang rasanya tidak habis-habisnya keluar dari benak saya kawan. Mungkin terdengar kampungan ya?! But that’s me, Buddy! Always like that. It does seem the question never stop from my mind. Barangkali untuk sebagian besar orang, kebiasaan menjadikan diri mereka menjadi tidak mudah terpesona pada hal-hal yang tidak tampak mata dengan jelas dan menonjol sehingga pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki menjadi tidak seberapa menarik, karena orang hanya akan berpikir praktis saja. Yang penting kan keberadaannya serta dapat menggunakannya. That‘s it! ngapain repot-repot memikirkan latar belakang keberadaan benda ini. Sudahlah jangan sok filosofis deh, pragmatis aja atuh,….. he..he…he…

Saya rasa, benarlah apa yang ditulis dibanyak buku-buku motivasi bahwa impian atau hayalan sebetulnya dapat menjadi pemantik untuk sesorang dalam berkarya. Seperti karya monumental lainnya manusia yaitu, pesawat terbang yang tercipta karena keinginan mewujudkan hayalan. Dan khayalanpun tlah menjadi kenyataan. Hanya saja, saya masih terus bertanya-tanya proses seperti apa yang dilalui oleh para innovator ini sehingga melahirkan karya-karya besar. Saya pernah berhayal bahwa pada suatu saat saya memiliki computer yang dapat mencatat apa-apa yang saya ucapkan, jadi saya tidak perlu mengetik melaui keyboard melainkan hanya mendiktenya saja. Namun,… tentu saja sepertinya tidak mudah untuk saya dapat mewujudkan mimpi itu. Dari mana harus memulainya?! Padahal dibelahan bumi lain, tepatnya di Jerman sudah tercipta sebuah computer yang dapat mengejawantahkan perintah langsung dari pikiran manusia. Subhanallah,…..

Demikian pula ketika saya membaca sejarah para tokoh innovator, baik dalam bidang matematika ataupun para ilmuwan lainnya. Euclid, Plato, Descrates, Enstein, Leonardo da Vinci hingga Harun Yahya dan kawan-kawannya. Pertanyaan saya, bagaimana mereka mengoptimalkan kemampuan berpikirnya hingga dapat menghasilkan karya-karya yang pada akhirnya memberikan banyak manfaat dalam kehidupan manusia dari generasi ke generasi. Mereka bukan Nabi atau Rasul yang oleh Tuhan diberikan Mukjizat, bukankah mereka manusia biasa dengan potensi sama dengan kita?! Jadi apa yang membuat mereka bisa melakukannya?

Ketika pertama kali saya belajar pemrograman BASICA pada semester II, sepertinya untuk membuat satu program sederhana saja, misal mencari akar persamaan kuadrat rumitnya bukan main, itupun tampilannya masih jauh dari unsur estetika. Karena kegagalan berulang seringkali saya dan kawan-kawan frustasi. Padahal kita hanya pengguna program saja. Nah, bagaimana mereka yang menciptakan programnya? Semakin besar saja kekaguman saya pada orang-orang ini. Hingga berujung pada, pertanyaan siapa yang menciptakan orang-orang ini? Yang mengatur pikiran-pikiran mereka? Yang mengkondisikan lingkungannya? Yang membuat pikirannya bekerja? Jika mereka saja memiliki kemampuan yang amat menakjubkan dalam membuat karya apalagi Penciptanya. Maka Maha Besar Allah yang tlah menciptakan manusia dengan segala potensi luar biasanya. Semakin terasalah betapa kerdilnya diri ini. Dapatkah kita bersyukur dengan mengoptimalkan segala nikmat yang telah Tuhan anugrahkan pada diri untuk kemaslahatan umat manusia di dunia?! Sebuah PR besar yang mungkin tak kan pernah kelar. Akh,….

6 thoughts on “Computer dan Ketuhanan

  1. Assalamu’alaikum. Saya guru SMA yang setelah berpuluh tahun ngajar, nyempetin untuk kuliah S2. Kebetulan sayapun aktif di MGMP. Saya bermaksud mengadakan kegiatan untuk guru-guru tentang penanaman nilai-nilai pendidikan melalui pelajaran Matematika. Mba siap jadi pembicara ya. kapan kita bisa ketemu langsung. Saya ada jadwal kuliah Senin, rabu dan Jum’at. Makasih.

  2. Alaikumsalam Wr.Wb

    Terima Kasih atas tawarannya Pak Cipto. IA jika jadwalnya memungkinkan dengan senang hati Kita dapat berbagi ilmu. Oya, IA rabu depan pasca libur Iedul Adha Saya bisa bertemu Bapak, mohon dikabarkan lewat email saya: f4121da_n@yahoo.com tempat dan waktunya.

  3. Iya Mbak Ida, memang kemajuan teknologi luar biasa,
    namun yang patut disayangkan oleh kita semua adalah Indonesia hanya baru bisa sebagai penonton dan penikmat, bukan pemainnya. Terus terang saya cukup sedih dengan kondisi ini, mental konsumerisme kita (sebagian besar bangsa Indonesia) menjadikan kita hanya cukup puas sebagai penikmat (konsumen). Saya sering menyindir temen2 saya yang suka banget maen game2 besar hingga begadang begini: “Kasihan banget ya bangsa ini, anak2 Jepang sekarang sedang mikirin mau buat game apa lagi, tetapi kita2 di sini puas hingga begadang2 buat mainin game yang mereka buat, mesakke tenan (kasihan banget).”😦

  4. Setuju Mas Jarwo, oh alangkah beratnya amanah pendidikan bangsa ini ke depan, harus dapat mencetak anak negri yang berkarakter inovator dan bermental wirausahawan agar tidak hanya puas menjadi sebagai pengguna melainkan senantiasa terpacu untuk mencipta.

    Namun, tentu saja ini bukan perkara mudah khan,…. dibutuhkan kerjasama banyak pihak untuk mewujudkannya, tapi paling tidak ya kita mulai dari diri sendiri dan yang terdekat…..🙂

  5. O iya Mbak, saya juga agak ‘curiga’ dengan pemerintah Jepang. Kalo kita lihat bantuan mereka ke sektor pendidikan di Indonesia cukup besar. Kita lihat saja bagaimana bantuan Jepang kepada UPI. Sementara mereka enggan untuk membantu kita dalam hal teknologi (dengan kata lain pelit). Saya membaca ini sebagai siasat Jepang untuk terus menjadikan Indonesia sebagai pasar dan ladang pemasaran produk2 teknologi mereka, sebab dengan semakin terdidiknya seseorang, maka akan semakin besar pula konsumsi teknologinya.

    Jika tidak dibarengi dengan penguatan sektor teknologi, maka orang-orang yang dihasilkan dari pendidikan kita akan selamanya menjadi penikmat, bukan pencipta.

    Memang tugas yang sangat berat Mbak, apalagi bagi Mbak Ida dan mereka2 yang terlibat dalam dunia pendidikan secara langsung, harus benar2 waspada.

  6. Masuk akal juga kecurigaan Mas Jarwo, memang jiwa kapitalis itu rasanya tak kan pernah mati total kan? hanya bentuknya saja yang mengalami transformasi.

    Oleh karenanya, kita tidak boleh lena walau sekejap. Hm,… amanah yang tidak sederhana. Mohon doanya agar dapat tegar mengembannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s