Menolong Seorang Wanita Misterius (bag.1)


lady-muslimSuatu siang di hari Jumat, tanggal 21 November 2008 kos kami kedatangan seorang tamu, akhwat seorang pengurus DKM masjid dekat kos. Saat itu beliau menanyakan perihal seorang wanita sebut saja Yasmine. Kebetulan teman saya yang pertama membukakan pintu tidak mengenal wanita ini, sehingga Ia bertanya pada saya. Setelah mendengar ciri-ciri yang diuraikan oleh akhwat tersebut rupanya saya mengenalinya. Saya sendiri tidak kenal langsung dengan yasmine, hanya saja pernah bertemu dengannya dua kali. Yang pertama ketika Ia berkunjung ke kos, waktu itu ia mencari Mba Tika dan atau Mba Emma yang kebetulan tidak ada di kos. Waktu itu, saya memanggilnya dengan sapaan “Ibu” tapi beliau protes karena beliau belum menikah. (padahal Saya juga belum menikah,.. tapi sudah dipanggil Bu Ida,……semoga menjadi doa yang baik agar segera menjadi seorang Ibu yaa,…he..he..he) kejadian ini meninggalkan kesan bagi saya atas sosok Yasmine untuk pertama kalinya. Kali kedua saya bertemu beliau adalah ketika saya membantu Teh Maisya, sahabat saya, membawa kasur masuk ke rumah nomor 6 . Waktu itu Yasmine ternyata sudah menjadi penghuni kos rumah nomor 6, sekali lagi ada kejadian yang membekas dalam benak saya. Setelah mendapat kasur tebal dari kos saya, kasur lipat Teh Maisya saya tawarkan padanya karena saya lihat kasur beliau tipis padahal kondisi kesehatannya sepertinya buruk. Tapi beliau malah memejamkan mata dan bertanya,

“kenapa buat saya?” ya saya jelaskan donk karena sepertinya dia yang membutuhkan.

“ya udah taruh saja di situ” akhirnya beliau menerima tawaran tersebut. Dan saya pulang tanpa menghiraukan keadaan lebih jauh.

Rupanya menurut DKM masjid, Yasmine ada di RSHS alias Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung setelah pingsan di masjid beberapa jam lamanya. Nah, sekarang ini tidak ada personil DKM yang dapat menunggunya lagi sehingga pihak DKM mencoba menghubungi kos, tempat beliau tinggal. Kebetulan ketika bertamu ke rumah nomor 6 tidak ada yang merespon sehingga mencoba ke rumah nomor 10 dan bertemulah ia dengan saya. Ternyata, akhwat ini juga orang yang selama ini merawat Yasmine kebetulan kenal dengan Mba Emma, sosok yang setahu saya mengenal baik Yasmine. Akhirnya akhwat DKM ini meminta bertemu Mba Emma yang kebetulan masih di kampus. Setelah saya menelfon Mba Emma, saya menemani akhwat DKM ini menunggu. Saat inilah beliau bercerita perihal Yasmine dari A sampai Z pada saya. Berdasar pada cerita beliau saya menduga Teh Yasmine mengalami gangguan psikologis. Mungkin disebabkan oleh gangguan fisiknya juga. Setibanya, Mba Emma di kos, kami berdiskusi untuk mencari solusi bagaimana caranya membantu Yasmine yang masih terbaring di RSHS. Stst…. Menurut informasi yang diperoleh Teh Tika dan Mba Emma Yasmine menderita tumor otak berdasar cerita dari yang bersangkutan sehingga kami menduga beliau akan di rawat agak lama.Langkah pertama yang kami lakukan adalah membuat jadwal untuk menunggu beliau di RSHS. Kebetulan saya dapat jatah jaga hari sabtu pagi, rencananya mau ditemani Mba Pipit, sedang malam itu jatah jaga jatuh pada Mba Emma dan Mba Tuti malam hingga pagi pukul 7.00. Ketika saya coba konfirmasi dengan teman-teman di rumah nomor 6 ternyata mereka tidak ada yang bisa dan mau menjadi relawan penunggu. Belum genap malam berlalu, Mba Emma sudah kembali ke kos ba’da magrib untuk mengabarkan keadaan terkini perkembangan teh Yasmine. Ternyata, setelah dirawat dua malam menurut tim dokter beliau sudah bisa keluar Rumah sakit esok pagi. Wah,.. planning kami berubah lagi. Saya kembali ke rumah nomor 6 untuk kordinasi, dan berupaya mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya tentang asal-usul beliau yang disembunyikan rapat-rapat selama ini. Saya, mencari kepingan puzzle informasi data diri dan keluarganya. Namun nihil! Sehingga akhirnya kami sepakat untuk berdiskusi dengan Bapak/Ibu kos bersama. Dan diperoleh keputusan untuk mendelegasikan beliau ke tempat yang lebih layak agar mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya dan secara halus tidak diperkenankan untuk kembali ke kos kami lagi karena kondisi fisik dan psikologis yang tidak memungkinkan. Keputusan Bapak/Ibu kos sudah bulat pagi itu. Sesuai intruksi bapak/Ibu kos dan hasil rembukan kami semua, pagi itu, saya dan kawan-kawan hunting tempat-tempat yang mungkin dapat menampung beliau via telfon. Dari panti social independen hingga milik departemen social kami hubungi. Beberapa pesantren alternative juga dicoba, sampai akhirnya setelah lelah mencari sana sini tidak berhasil hingga pukul 9.30an padahal Yasmine sudah keluar dari rumah sakit sejak pukul 8.00 dan sedang menunggu untuk dijemput di lobby didampingi oleh Mecca dan Mba Laila. Dari rekomendasi 4 orang teman saya, kami dianjurkan mencoba ke suatu pesantren yang cukup ternama di daerah Tasik. Awalnya, saya sempat ragu, namun setelah konfirmasi kepada beberapa teman, akhirnya berani juga untuk mencoba alternative terakhir ini, berharap besar bisa membantu Yasmine menemukan tempat yang sesuai dengan beliau dan dapat memberikan pertolongan untuk dirinya agar kondisi beliau membaik.

Awalnya, Akhwat DKM menjanjikan kami sebuah kendaraan yang dapat digunakan untuk mengantar beliau ke tempat tujuan mana saja yang memungkinkan. Selain mencari berbagai alternative tempat tinggal untuk Yasmine, awalnya kami dianjurkan untuk mengantarnya ke alamat yang kami kira adalah alamat keluarganya di Indramayu, namun hal ini sepertinya sulit dilakukan karena jarak yang cukup jauh dan minimnya informasi tentang keluarga Yasmine sehingga validitas alamat tersebut masih sangat rendah. Terlebih lagi sikap melihat sikap beliau yang sangat antipasti terhadap keluarganya, Kami tidak berani mengambil resiko ini. Sehingga mengambil keputusan untuk membawanya ke Tasik saja. Pihak DKM saat itu tidak dapat menyediakan seorang Sopir sehingga kami harus mencari kawan yang dapat menyetir mobil. Awalnya kami berusaha untuk melobi Bapak/ibu kos barangkali bisa meminjamkan salah satu sopir ataupun mobilnya sekalian agar tidak harus repot berurusan dengan DKM lagi yang sepertinya sudah ingin segera terbebas dari masalah ini, namun sayang usaha kami menemui jalan buntu karena satu dan lain hal tidak dapat terlaksana, kami hanya mendapatkan perintah dan ultimatum dari pemilik kos untuk segra membereskan masalah ini secepatnya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,…. (kayak proklamasi aja ya,…. J) Setelah berembug alot, akhirnya kesempatan untuk beramal sholeh itu kami jatuhkan pada dua sosok ikhwan yang kebetulan kami kenal baik, Mas Andi dan Bang Adam.

Bada Dhuhur kami rencana berangkat, setelah sebelumnya berkumpul terlebih dahulu bersama pihak DKM untuk memastikan mobilnya. Sayangnya, ternyata mobilnya DKM tidak appropriate untuk digunakan, akhirnya Mas Andi ambil mobil di kantor dan kami berangkat sekitar pukul 14.00. setibanya di lobby RSHS, suasana haru terjadi. Awalnya, saya dan Mba Pipit berkenalan dulu dengan Yasmine, kemudian acara perpisahan dengan Mba Laila dan Mecca yang menemaninya sejak pagi. Kami dilepas dengan jabatan tangan dan pelukan ukhuwah yang hangat dari mereka. Serasa mau pergi berlaga di medan perang saja,… he..he..he…. so dramatic! Tepat adzan Ashar berkumandang ketika Avanza hitam kami meninggalkan halaman parkir RSHS menuju tol Purbaleunyi. Melihat kondisi Yasmine dari dekat, emosi saya meluap bahkan hampir saja lupa dengan semua cerita yang sudah saya dengar tentang beliau dan asumsi-asumsi yang sudah saya buat sebelumnya. Tubuhnya terlalu kurus untuk perawakan dengan tinggi sekitar 170cm, kulitnya terlalu pucat dan mata sipitnya terlalu bening untuk seorang penderita low-vision (Ups,… ini versi beliau lho,….) yang lihai menulis tanpa kacamata tebal dan besar-nya itu.

Memasuki tol Pasteur, kami berhenti di rest area untuk sholat Ashar. Saya sempat menuntunnya ke Musholla walaupun tetap berusaha untuk menjaga jarak sebisa mungkin, tarik-ulur seperti bermain layangan. Mba Emma-lah yang setia mendampingi beliau baik di dalam mobil ataupun di luar. Selesai sholat Ashar, kembali saya merenung dan berpikir ulang, “apakah ini jalan keluar terbaik?” , saya bertanya kepada para Ikhwan perihal ini, berdasarkan pendapat mereka, saya menjadi lebih yakin untuk melangkah. Kebersamaan kami menghapuskan kekhawatiran-kekhawatiran saya yang sempat timbul sejak awal. Bismillah,…. Kami berangkat.

Sebetulnya sejak awal, yasmine sudah bertanya perihal tempat yang akan kami tuju. Saya membaca rasa penasaran dalam kalimat-kalimatnya. Kami hanya memberikan penjelasan bahwa beliau akan kami antarkan ke tampat yang lebih baik. Sepanjang perjalanan tol Pasteur-Cileunyi, rupanya beliau sudah dapat menduga kea rah mana kami akan membawanya. Yang awalnya keceriaan mulai bergeser sedikit demi sedikit, setelah beliau mengetahui tempat tujuan kami. Rupanya beliau punya cukup informasi tentang pesantren Suryalaya. Inilah titik pertama saya melihat beliau menggunakan kecerdasannya dalam membuat prediksi. Ups! Harus lebih hati-hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s