Pragmatis vs Idealis


idealismeBarusan saya, bertemu MR. Joshua Sabandar untuk berkonsultasi tentang rencana tesis yang saya buat. saya membawa dua konsep. Saya menunggu beliau sejak pukul 13.00 siang tadi. sahabat saya bilang, hari ini beliau tidak mau menemui mahasiswa untuk konsultasi. tapi saya bergeming untuk menunggu beliau, dan saya yakin beliau mau menerima. Sok penting dan sok Pe-de J. Padahal biasanya jika beliau sudah wanti-wanti begini pertanda mood-nya sedang tidak baik. Hm,… mungkin seperti inilah pribadi-pribadi dibawah rasi bintang Gemini.

Benar saja, pukul 2.30 beliau akhirnya datang juga. tetap segar dengan setelan kemeja kelabu dan jeans hitam dengan sepatu lars besar. hm,.. Saya suka gaya beliau, sangat fashionable! Alhamdulillah,… ternyata prasangka saya benar. Beliau mau menerima saya.

langsung saya dengan sangat hati-hati saya serahkan tulisan ide proposal ideal saya yang hanya terdiri 2 lembar saja. Ya, cukup 2 lembar sebagai point latar belakang saja. Disana tertulis ketertarikan saya untuk mengkaji kemampuan komunikasi matematis guru matematika berkaitan dengan issue profesionalisme yang sekarang sedang digembar-gemborkan terkait dengan program sertifikasi guru dan dosen yang berimplikasi kepada peningkatan kualitas kesejahteraan. kemudian saya jelaskan pula bahwa saya sudah membawa satu bendel proposal jadi dengan genre dominan di kampus ini. eksperimentasi! saya menggabungkan model Pembelajaran Van Hiele dengan setting kooperatif ditambah penggunaan media manipulasi maya yang disoroti dari sudut pandang kemampuan abstraksi siswanya. weh! kedengarnya ruwet bianget, padahal ini cuma seni menggabungkan saja. sebetulnya saya tidak seberapa tertarik membuat penelitian ini, namun apa daya ? kita harus cepat selesai kan? Pragmatis! jangan idealis! pesan itu masih terngiang-ngiang di telinga.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, subhanallah,... ternyata Pak Yos, begitu panggilan sayang para mahasiswanya, amat tertarik dengan ide idealis yang saya ajukan, sebelum beliau katakan, hal itu terlihat dari ekspresi wajahnya dengan kerut-kerut di dahinya disertai senyum yang di kulum. Namun demikian, beliau cukup realistis memandang permasalahan ini sehingga menyarankan saya untuk berkonsultasi lebih dulu dengan dosen PA (pembimbing Akademik). jika PA saya oke dengan judul pragmatis saya maka judul pragmatis saya akan menjadi judul tesis saya. Namun jika tidak setuju maka Pak Yos bersedia menjadi Pembimbing tesis saya. Yah,.. kebetulan dosen PA saya adalah salah satu dosen yang amat sibuk. Beliau mengemban amanah di DIKTI sehingga lebih banyak berada di Jakarta daripada di Bandung. Beliau juga seorang yang punya “quantitative research minded” sekali, inilah yang menyebabkan saya tidak mengajukan ide idealis saya pada beliau karena arah dari penelitian itu cenderung pada qualitative research. Setelah itu, saya dan Pak Yos panjang lebar berdiskusi tentang ide idealis yang saya ajukan. Beliau menawarkan kepada saya untuk melanjutkan mengkaji ini secara parallel dengan rencana tesis yang pragmatis itu. Beliau menawarkan saya untuk berkolaborasi dalam menulis makalah dan jurnal tentang ini, agar kelak dapat digunakan sebagai persiapan ke depan sebagai ide untuk bahan disertasi karena untuk mengkaji ide idealis saya dibutuhkan sebuah penelitian intensif dan waktu yang tidak sebentar sehingga kemungkinan studi akan terhambat untuk lulus sesuai rencana. Wah,.. senang sekali rasanya. Tapi tentu saja ini menjadi tidak sederhana. Hari ini banyak petuah yang beliau berikan pada saya, beliau mengajarkan kepada saya bagaimana harus bersikap bijaksana ketika berhadapan dengan situasi real. Bagaimana beliau melihat potensi mahasiswa, membangun motivasi dan mengarahkan sungguh sangat bijaksana. Saya, yang awalnya sempat merasa tidak nyaman dengan membuat pilihan antara bersikap pragmatis dan idealis menjadi tersadar bahwa mungkin keduanya bisa dilaksanakan secara parallel sehingga rasa bersalah tlah menjadi seorang pragmatis menjadi berkurang dan semangat idealis tidak mati total. Hari ini, aku mendapat hikmah besar. Alhamdulillah,…

Terngiang-ngiang sebuah quotation yang beliau ucapkan. “Akan selalu tersedia guru bagi murid yang berkemauan belajar dimanapun dan kapanpun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s