Akhir Semester III (bag 2)


nilai APA ARTI SEBUAH NILAI?

Jika mahasiswa protes karena nilainya kurang itu sih biasa, namun saya punya satu pengalaman ketika mengajar mahasiswa saya di Solo. Saya senantiasa memberikan waktu pada mahasiswa untuk meneliti hasil kerja mereka yang sudah saya nilai, dan mereka boleh protes jika ada yang tidak sesuai. Satu hari ada seorang mahasiswi menemui saya, dan mengutarakan bahwa nilainya berlebih! Bayangkan! Memang nilainya cukup tinggi. Dia begitu jujurnya melapor kembali pada saya bahwa saya kurang teliti dalam menjumlah skornya sehingga jawabannya lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Subhanallah,…. Dia malu dan takut kalau tidak jujur, karena selama ini senantiasa mengedepankan kejujuran. Sebuah pelajaran berharga bukan?! Mahasiswa saya ini tidak peduli pada nilai, namun bukan berarti dia mengabaikannya terbukti dengan iktiarnya di dalam kelas. cerita ini sengaja saya pilih sebagai paragraph intro untuk mengulas kejadian yang terjadi pada sahabat-sahabat saya di kelas. Beranikah kita menilai diri sendiri dengan lebih jujur?!

“Apa arti sebuah nilai?” hm,.. sepertinya sok idealis ya kalimat ini keluar dari bibir seorang pelajar atau mahasiswa. Namun, jangan keliru membuat persepsi lho atas kalimat tersebut. Bagi saya pribadi nilai itu penting tapi bukan yang terpenting hingga rela melakukan segala hal demi mendapatkannya. Sejak dulu Bapak senantiasa menanamkan pada saya prinsip ikhtiar dan tawakal dalam segala hal, yang dilihat dan dinilai Allah itu adalah proses ikhtiarnya sedangkan hasil ikhtiar adalah hak prerogative Allah semata, apapun hasilnya terimalah karena itu adalah yang terbaik bagi kita. Percayalah! Jadi, puas dan tidak puasnya diri atas sebuah usaha tidak terletak pada hasil semata. Pada dasarnya yang melekat dengan diri itulah hasil tempaan suatu proses, nah jika dia melalui proses yang benar akan terpancar dari kemampuannya bukan hanya sekedar nilai yang merupakan cap semata. Bukankah akan lebih malu jika mempunyai nilai yang bagus tapi ternyata tidak mencerminkan kemampuan yang sesungguhnya?! Nah, kejadian diakhir semester yang menimpa sahabat-sahabat saya yang mengambil matakuliah semester I lalu, bisa menjadi cermin bagi kita untuk melakukan refleksi. Beberapa teman saya, mengambil matakuliah semester I yang masih memungkinkan untuk diperbaiki nilainya. Salah satu matakuliah yang diambil adalah kelas SA, yang dianggap sebagai topic tersulit dalam matematika. terdapat dua kelas dengan dua dosen berbeda untuk kelas ini. Pada akhir perkuliahan ternyata hasil yang diperoleh sungguh mengejutkan, beberapa justru ada yang menurun nilainya. Ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini tentu mengecewakan, sayapun ikut kecewa mendengar salah satu sahabat saya yang sudah berkerja keras dan berguru pada saya ikut mengalaminya. Kekecewaan itu bukan hanya sekedar tidak meningkat nilainya namun karena tidak sinkronya perolehan nilai dengan usaha yang dilakukan teman-teman. Sehingga akhirnya timbul fitnah yang berhembus kian kemari, baik untuk para dosen ataupun sesama teman, walaupun ini tidak terlihat frontal namun tetap saja dapat dirasakan hawa ketidakharmonisan. Bahkan dibumbui statemen-statemen mengejutkan yang muncul dari salah satu staf administrasi kampus memperluas jangkauan fitnah diantara kami para mahasiswa dengan para dosen. Memang bersifat laten, namun hal ini tidaklah sehat sahabat, terutama dilingkungan akademik seperti kampus dimana obyektifitas semestinya dikedepankan. Saya pribadi tidak dapat berbuat banyak kecuali membesarkan hati kawan-kawan dan mencoba berdiri di tengah dan mencoba bersikap obyektif untuk masalah ini. Hm,… banyak kepala banyak pula sifat-sifatnya….. dalam beberapa kasus seringkali idealisme sesorang dianggap mengabaikan toleransi, padaha mereka berusaha untuk mengikuti kata hati yang diyakininya.

Sebetulnya masalah seperti ini analog dengan masalah-masalah di tempat-tempat dan suasana lain menurut saya. Kebetulan, pada kasus ini sesuatu yang berharga yang dicari adalah nilai. Semua orang pikirannya terpusat pada nilai. Di lain tempat nanti, sesuatu yang menjadi berharga mungkin berupa uang, harta, jabatan, kekuasaan atau apapun itu, namun pastinya masih serupa. Terfokus pada hasil akhir suatu proses yang sering kali menimbulkan konflik baik frontal maupun laten sehingga mengganggu keharmonisan dalam bermuamalah. Kebijaksanaan dan kesadaran akan hakekat tujuan hidup amat dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah seperti ini dalam bermuamalah. Seringkali, idealisme seseorang dianggap mengabaikan toleransi, namun tanpa idealisme orang akan mudah limbung dalam menentukan langkah. Sungguh tidak mudah bukan?! Namun begitulah kehidupan diciptakan agar manusia senantiasa terjaga dan tidak lena.

Semoga sedikit ulasan ini dapat mencairkan ketegangan dalam menghadapi masalah kawan-kawan di kelas.

4 thoughts on “Akhir Semester III (bag 2)

  1. Luar biasa kisahnya Mbak…

    Nampaknya saya harus banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi Mbak Ida di Solo sana.

    Kebetulan saya juga terlibat dalam mengembangkan bimbel untuk anak-anak SMA. Saya sangat merasakan bahwasanya anak-anak zaman sekarang memang mengalami pergeseran dalam memaknai belajar. Kebanyakan mereka sangat ‘result oriented’ sehingga tidak memaknai yang namanya belajar adalah merupakan proses.

    Tetapi apa yang terjadi pada anak-anak tersebut nampaknya tumbuh dari budaya masyarakat yang secara umum juga mengalami pergeseran. Masyarakat dunia sekarang secara umum menyukai hal-hal yang instan dan serba cepat. Seperti produk bubur ayam pun sekarang ada yang instan, tinggal seduh. Entah ini sebuah kemajuan atau bukan, tetapi realitanya demikian.

    -SJW-

  2. Iya Mas Jarwo,…..

    Saya sependapat bahwa budaya “yang penting hasilnya” yang sudah memasyarakat berdampak buruk bagi pendidikan kita, ………
    Jika tidak hati-hati bimbel dapat menjerumuskan anak-anak juga lho Mas Jarwo. Kebanyakan motivasi belajar anak tertuju pada perolehan nilai semata, sehingga seringkali prosesnya terabaikan, analog dengan hal ini motivasi orang sekolah juga sekedar dapat ijasah dan gelar saja sehingga esensi dari belajar itu menjadi blur. orang akan cenderung menggunakan segala macam cara untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Padahal, salah satu peran dari pendidikan adalah memperkenalkan berbagai macam cara yang ada bahkan jika perlu mereka diajak membuat caranya, namun setelah itu mereka harus dapat memilih cara yang terbaik, benar dan tidak merugikan orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

    Efisiensi dan efektifitas itu memang perlu namun yang penting diingat adalah bahwa hal tersebut tidak muncul secara tiba-tiba melainkan melalui serangkaian proses yang mesti dilewati. Nah,… kesadaran seperti ini yang semestinya dibangun.

    Bubur ayam instan sih belum sedasyat imaji saya Mas Jarwo, saya pernah berimajinasi bahwa suatu saat manusia dapat membuat sebuah tablet kecil yang merupakan saripati makanan. sehingga 1 tablet tersebut dapat memenuhi kebutuhan makan minimal untuk satu hari dengan kandungan gizi lengkap dan seimbang sehingga manusia pada akhirnya tidak perlu makan sehari tiga kali🙂 he..he..he….
    terdengar konyol memang, tapi bukan mustahil suatu hari nanti imaji ini menjadi terbukti……

  3. Sepakat Mba, bahwa bimbel jika tidak hati-hati akan menjerumuskan anak-anak. Makannya bimbel yang saya dan temen2 bidani memiliki motto: “mengutamakan kepahaman”, mencoba melawan arus bimbel2 yang ada meskipun nampaknya progressnya kurang signifikan. Saya dan temen2 bismillah saja lah…🙂

    Kalo tablet seperti yang Mbak Ida maksud sudah terealisasi Mbak. Ini dilakukan oleh para austronot yang meluncur ke ruang angkasa. Mereka makan memang saripati dari makanan (istilahnya 4 sehat lima sempurna) yang berupa tablet. Ide ini nampaknya muncul dari film “Dragon Ball”, dimana di film anak-anak tersebut ada sebuah makanan yang bernama ‘kacang ajaib’ yang dapat mencegah lapar selama berhari-hari dan menambah kekuatan. Jangan-jangan Mbak Ida suka nonton film itu yah? hehehehe😀

    -SJW-

  4. Ok deh,.. semoga Sukses ya dengan bimbingan belajarnya yang mengusung tema berbeda. Meretas jalan memang tidak selalu mudah bukan?! tetapi untuk sebuah idealisme seringkali menjadi satu-satunya pilihan🙂

    Soal tablet itu, Ida terinsprirasi sudah sejak jaman SMU dulu. Seringkali kalau sudah asyik belajar suka males makan sampai-sampai harus didulang sama Bapak atau Mama. Nah,… disaat-saat itulah tiba-tiba muncul ide tentang tablet nutrisi tersebut🙂 Subhanallah,… ternyata sudah ada yang menemukan ya sekarang. Boleh juga tuh Mas dicoba pada saat shaum biar waktunya ndak banyak terbuang karena makan begitu banyak menu yang dihidangkan saat berbuka ,…..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s