APA SALAHNYA TIDAK MENJADI GURU?


Ketika saya asyik menulis untuk postingan perdana di blog yang sudah lama terbengkalai, tiba-tiba suaran si Jason Mraz dengan “I’m yours”-nya berkumandang dari nokia E-63-ku. Hm,.. nomor tidak dikenal, siapa ya di jam-jam segini, tidak mungkin si ayah telpon di bawah pukul 12.00.
Oh,.. rupanya suara seorang perempuan muda. Ia mengaku bekas mahasiswa saya, yang saya lupa namanya, karena saya pikir dia tidak menyebutkannya dengan jelas, tapi saya pun hanya mengiyakan saja dan langsung bertanya keperluannya. Sekarang ini dia bekerja sebagai staf marketing di sebuah bank swasta di Solo. Rupanya ia berusaha untuk menjadikan saya sebagai salah satu target marketnya, tapi sayang malang tak dapat ditolaknya dan untung belum dapat diraihnya. Saya masih berdomisili di Bandung. Karena alasan itu, akhirnya cerita bergulir ia tidak lagi fokus pada tujuan pertamanya, tetapi mulai melenceng untuk mencoba membuat kesan pada saya tentang keberhasilannya bekerja sebagai seorang staf marketing di bank tersebut yang menurut asumsinya pribadinya sudah tergolong sukses. Kesuksesan yang ia coba jelaskan pada saya adalah bahwa ia mendapatkan gaji pertama sebesar 1,7 juta rupiah dan sekarang katanya sudah menjadi dua kali lipat, selain itu ia berpotensi akan menjadi pimpinan di (divisinya barangkali, I guess).
Saya sempat heran juga, bagaimana mungkin seorang perempuan begitu lugasnya menjawab besaran gaji yang diperolehnya. He.he.. hal ini terjadi tanpa komando, ketika dia bercerita tentang bagaimana dia lebih memilih bekerja di bank dari pada menjadi guru karena menjadi guru gajinya sangat kecil dan menurut dia menjadi guru itu kurang menantang, jam kerjanya singkat, tidak bisa bertemu banyak orang, yang menurut dia semua itu dia dapatkan dengan bekerja sebagai staf marketing di sebuah bank swasta di Solo. Saya jadi penasaran, memang berapa sih gaji pertama yang kamu terima? Nah itulah asal mula, munculnya angka 1,7 juta di paragraf atas.
Lalu dia bercerita lagi, kalau kawan-kawannya dan beberapa dosen menyayangkan mengapa ia menjadi tidak menjadi guru. Dia juga bercerita bahwa salah satu dosennya sebut saja Pak M, menganjurkannya untuk sekolah lagi mengambil S2. Dia bilang, ya nanti kalau saya sudah punya uang banyak uang mungkin akan sekolah lagi untuk mengasah cara berpikir saya. Dia juga mengulang lagi kalau menjadi guru sepertinya tidak cocok untuk dia, karena dia punya bakat banyak bicara (yang menurutnya dibutuhkan sebagai seorang marketing) khususnya bicara bohong!
Dia juga sempat bertanya tentang kabar saya, pernikahan saya, bahkan gossip tentang siapa suami saya yang beredar luas di kalangan mahasiswa. (finally, I know that gossip). Tapi lama-lama saya bosan mendengar ocehannya, karena tidak jauh-jauh dari betapa bangganya ia menjadi staf marketing di bank karena gajinya lebih besar dari pada menjadi guru apalagi kalau wiyata bakti yang gajinya amat-amat kecil. Saya hanya bilang, memang tidak ada salahnya tidak menjadi guru, apalagi kalau tidak punya jiwa mendidik. Karena saya menjadi bosan dengan ocehannya, jadi saya dengarkan saja apa yang dia bicarakan dan kembali menekuri tulisan untuk posting perdana saya. Sampai suatu titik, ia tersadar bahwa saya hanya diam.
“halo. Halo bu”
“ya,..”
“Ibu sekarang sedang apa?”
“Sedang menulis”
“Ya sudah, silahkan melanjutkan kegiatannya bu, saya juga mau keluar nih. Makasih ya bu. siang”
“Ya”
Klik.
Nah, begitu dia menutup telfon, saya langsung mulai menulis sambil berpikir. Memang apa salahnya tidak menjadi guru walaupun lulusan FKIP? Menurut saya sih tidak ada salahnya tidak menjadi guru. Lagi pula saya kok justru bersyukur ya anak yang satu ini tidak menjadi guru, kalau dia menjadi guru jangan-jangan demi menghasilkan uang banyak dia akan menjadikan pendidikan sebagai komoditi perdagangan yang perlu dipasarkan untuk mendapatkan bonus sebesar-besarnya. Apakah salah orang mengharapkan gaji yang besar dari pekerjaannya? Tentu saja tidak! Yang salah adalah ketika berbagai alasan dicari dan digunakan untuk melegitimasi pilihan dari tindakan yang sudah dibuatnya. Bayangkan! Dia menghakimi betapa tidak menantangnya pekerjaan sebagai guru (ini akan saya bahas lebih lanjut). Kalau menurut saya, lebih bijaksana jika dia bilang, sepertinya saya kok tidak punya jiwa pendidik ya bu, lagi pula saat ini saya butuh penghasilan yang besar, lagi pula minat saya lebih cenderung pada dunia kerja swasta atau perbankan sehingga rasanya untuk saat ini pekerjaan sebagai marketing bank ini lebih cocok untuk saya.
Dia mengilustrasikan betapa tidak menantangnya pekerjaan sebagai seorang guru dengan menggambarkan aktivitas seorang guru yang kesannya monoton. Pagi berangkat mengajar, pulang sekolah masih siang, lalu tidur siang dan besok berulang lagi. Hari sabtu dan minggu libur, tanpa aktivitas. Sedangkan jam kerja yang dimilikinya sebagai seorang staf marketing sebuah bank saat ini mulai jam 8.00 hingga 17.00 terkadang sabtu dan minggu masuk. Lalu menurut dia, bekerja menjadi guru hanya bisa bertemu orang itu-itu saja tidak bisa berkembang, sedangkan dia saat ini bisa bertemu berbagai jenis orang.
Wahai kamu, kasihan deh kamu! Kok wawasan tentang profesi keguruannya cupet sekali ya?! Hari gini kalau ada guru yang pulang jam 12.00 siang ,lalu tidur siang 3 jam, setelah itu santai di rumah dan besok pagi berangkat lagi dengan rutinitas yang sama, tanpa visi dan misi yang jelas! yah bisa tergerus jaman itu! tidakkah kamu mengetahui justru menjadi guru di bangsa ini, memiliki tantangan yang sangat besar. Baik itu di kota maupun di di pelosok-pelosok negri. Bagaimana tidak? Fakta bahwa kemampuan dasar siswa begitu minim tetapi tuntutan secara umum semakin tinggi atau potensi siswa begitu besar namun fasilitas pendidikan sangat minim, belum lagi kemajuan teknologi yang sangat cepat yang harus diimbangi oleh para siswa-siswa ini, beragamnya sumber informasi yang menanti untuk digali sebagai suatu sarana pendidikan. Belum lagi, masalah prinsip yang teknis misalnya seperti bagaimana membuat siswa bisa memahami konsep pecahan dengan mudah dan cepat? Dan masih banyak lagi tantangan-tantangan lainya..
Berlatar alasan itulah maka menjadi guru jaman ini, haruslah kreatif, inovatif, kompetitif, pantang menyerah dan selalu memperbaharui skill mengajarnya. Lihat saja sekolah internasional yang menjamur di area perkotaan sampai pegunungan, mereka berani hired guru dengan kualitas terbaik, punya skill bahasa asing yang baik, skill menulis yang baik, skill komunikasi yang baik, skill penguasaan teknologi yang baik, dan tentu saja menguasai materi dengan baik pula! Nah, untuk guru-guru dengan kualitas seperti ini, tentu akan berjumpa orang-orang yang beragam pula, baik itu para siswanya, orang tua siswanya ataupun para pakar-pakar dari beragam latar belakang yang biasanya berhubungan dengan peningkatan kompetensi mereka.
Sebetulnya saya masih mau banyak lagi menulis, tapi sekarang ini pinggangnya sudah mulai mengeluh menahan beban perut yang semakin besar. Jadi kesimpulan apa ya? Sebetulnya sebagai salah satu dosen (yang entah saya pernah mengajar dia atau tidak) ada rasa menyesal. Menyesal bukan karena dia tidak menjadi guru, tapi sangat menyesal mengetahui betapa rendahnya dia menilai profesi seorang guru hanya dari besaran gajinya saja. Padahal, baru kemarin sahabat saya, yang kebetulan seorang editor lulusan S2 IPB dan terlibat dalam suatu pelatihan guru di daerah salabintana sukabumi yang kurang lebih punya kesan tentang betapa gaya hidup guru-guru sekarang yang lebih modern dan sejahtera.
Tiba-tiba, saya kok jadi ingat sama si ayah. Beberapa waktu lalu ditawari untuk jadi kepala cabang bank syariah, dengan label yang sama dengan bank tempat dia bekerja, untuk wilayah bandung tapi tidak diambilnya karena si ayah tidak mau bekerja di bank. Saya pikir bekerja itu tidak melulu soal gaji atau penghasilan kan, tetapi mengenai seberapa besar peran kita sebagai mahluk Tuhan dalam memakmurkan bumi yang sudah diciptakan untuk umat manusia ini (ini sih kutipan dari pendapat si ayah he..he..he..) kalau buat saya, bekerja itu terkait dengan panggilan jiwa untuk berkarya sebagai bukti eksistensinya menjadi manusia sekaligus tanggung jawabnya sebagai mahluk Tuhan.
Pertanyaan terakhir: hm,… berapa banyak ya mahasiswa saya yang berpikiran seperti dia?………..

4 thoughts on “APA SALAHNYA TIDAK MENJADI GURU?

  1. Hmm, miris juga saya mendengar ada org yg menganggap ‘rendah’ profesi guru. Menurut saya, begitu rendahnya orang yang menghargai kemampuannya, kelebihannya dsb hanya dengan uang. Mom, i don’t know who is that, Was she mathematic education student? She should be proud of her mathematic. Actually, it’s very difficult to join with mathematic education. In the other hand, how long she spent her study,How difficult it is, to pass the lectur examination.I can’t imagine if our efforts several years ago is not useful. I’am sorry to hear that…

  2. Ampun Bu Guru… ampun… Bukan saya yang telepon, suer… Saya laki-laki muda, jadi punya alibi kalo yang nelpon bukan saya. Lagian saya bukan mantan mahasiswa Ibu, hahahahahahah…

    Kasihan bener sih muridnya Mbak, menganggap enteng profesi ‘guru’, padahal kalo bukan karena guru, mana mungkin dia menjadi marketing di bank swasta tsb, kecuali kalo bank swasta tsb punya nenek moyangnya, hahahahah.

    Kenalin dong Mbak, sama mantan mahasiswinya yg nelpon itu, lumayan kan? Gajinya udah 2X1,7 juta bo…. Guede banget, bisa buat beli rumah mewah di bilangan Kelapa Gading tuh, wkwkwkwkwkwkwkwkwk

  3. Tiada kesalahan tidak menjadi guru,tetapi sekiranya menjadi guru banyak pahalanya jika guru itu ikhlas dalam profesionnya.

  4. @ Sabariah: iya saya sepaham dengan pendapatnya, memang tidak ada salah menjadi guru bila dilakukan dengan sepenuh hati akan menjadi ladang amal bagi kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s