Doyus, Domba Jayus


Pada suatu masa, terkisahlah seorang anak muda yang memilih untuk menjadi gembala. Ia menggembala ratusan ekor domba. Domba tersebut di gembala hingga ke berbagai penjuru dunia.

Domba-domba tersebut di gembala ke padang-padang rumput yang rimbun, untuk memperoleh makanan yang banyak. Bukan hanya itu, agar domba-dombanya merasa nyaman selalu, sang gembala pun tak segan untuk bernyayi untuk mereka. Sang gembala juga senantiasa mencarikan tempat berteduh yang layak, agar domba-dombanya merasa aman ketika tidur.

Tidak heran jika domba-dombanya gemuk dan berbulu lebat. Bila tiba waktunya, sang gembala akan mencukur bulu domba yang sudah lebat untuk di jual. Bulu-bulu domba tersebut akan diolah menjadi benang-benang wol, dan di sulam menjadi baju-baju hangat.

Dari ratusan domba yang dimiliki sang gembala, terdapat seekor domba yang memiliki bulu lebat, halus, dan putih. Nama domba tersebut adalah “Doyus”.  Awalnya, dari ratusan domba-domba sang gembala, Doyus bukanlah salah satu domba terkenal, namun satu peristiwa telah membuat Doyus menjadi selebritis mendadak di kalangan para domba.

Peristiwa tersebut berawal, ketika sang gembala mulai memilih domba-domba yang bulunya sudah lebat untuk di cukur. Hal ini merupakah salah satu upah bagi gembala yang telah menjamin makanan dan keamanan bagi domba-dombanya. Bagi sang gembala, bulu-bulu domba tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjadi upahnya, toh ia tidak memakan daging dombanya, selain itu, bulu-bulu domba akan tumbuh kembali seiring dengan berlalunya waktu.

Biasanya, saat-saat pemilihan ini menjadi sekidit gaduh, pasalnya sang gembala tidak mendata dengan baik, mana saja domba yang sudah pernah dicukur dan mana yang belum pernah dicukur. Sang gembala memilih dombanya, cukup dengan melihat ketebalan bulu dombanya saja. Kebiasaan sang gembala adalah  memilih  tepat 30 ekor domba untuk dicukur.

Selama ini, Doyus, yang memiliki bulu halus, lebat dan putih bersih, belum pernah sekalipun dicukur bulunya. Ia selalu saja dapat bersembunyi di antara semak-semak yang tinggi agar tidak terlihat oleh sang gembala. Ia tidak mau bulu-bulu yang indah itu dicukur, karena dengan begitu, akan terlihat warna kulitnya yang merah muda, menurutnya,  itu amatlah jelek. Selain itu, tidur tanpa bulu yang lebat, terasa tidak nyaman karena ia dapat merasakan, permukaan tempat tidur yang kasar, dan tentu saja hilangnya kehangatan tidur malamnya.

Sayangnya, pemilihan kali ini dilakukan di lapangan terbuka dengan rumput yang amat tipis, sehingga tidak ada tembat bagi Doyus untuk bersembunyi. Akhirnya Doyus terpilih menjadi salah satu domba yang bulunya harus dicukur.

Sang gembala, membawa domba-domba yang dipilihnya ke desa terdekat, sedangkan sisa dombanya ia biarkan merumput di sana. Karena ia pergi tak akan lama.

Di separuh perjalanan ke desa, tiba-tiba Doyus menjatuhkan diri tepat di atas lumpur. Selepas hujan semalam, memang beberapa badan jalan tertutup lumpur, dan  terlihat beberapa genangan air dipinggir jalan, walhasil beberapa bagian tubuh Doyus dipenuhi lumpur kotor.

Melihat salah satu domba pilihannya berbulu kotor, sang gembala bingung, tentu saja pembeli tidak ingin membeli bulu-bulu domba yang kotor. Untuk kembali ke padang rumput dan memilih domba yang lain, membutuhkan waktu setengah perjalanan, tentu terlalu lama, hanya untuk menukar seekor domba saja.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencuci bulu Doyus saja. Sayangnya di dekat situ, tidak ada aliran sungai, yang ada hanya genangan-genangan air  yang kecil saja. Tanpa pikir panjang, sang gembala membawa Doyus ke salah satu genangan air dipinggir jalan. Ia langsung menceburkan Doyus ke dalam kubangan air itu. Apa yang terjadi kemudian? Keluar dari kubangan air itu, ternyata seluruh tubuh Doyus bahkan bertambah kotor, tertutuo dengan lumpur.

Sang gembala menjadi semakin bingung. Mengapa tubuh Doyus justru semakin kotor?

Sedikit air di permukaan genangan memang terlihat jernih, namun perlu diingat bahwa di bagian bawah, tanahnya telah menjadi lumpur karena tekanan air hujan. Sehingga ketika Doyus diceburkan ke dalam kubangan, yang terjadi lumpurnya tertekan dan naik ke permukaan, sehingga air bercampur dengan lumpur. Tentu saja, mana mungkin bisa membersihkan sesuatu yang kotor dengan air kotor?!

Sejak saat itulah, Doyus menjadi amat terkenal di kalangan domba-domba pengembala. Karena kelicikannya, sang gembala mengalami kerugian tenaga dan waktu.

Kartasura, 14 November 2010

Special for my cute baby: Morteza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s