PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAHKU


Malam ini rupanya perenungan saya membawa pikiran saya menggali memori masa SMU dulu. Selepas memberikan nilai diakhir semester, saya biasakan diri untuk merenung. Sekadar mengasah nurani saya sebagai manusia yang kebetulan diberi amanah untuk mendidik calon-calon pendidik. Saya teringat kembali pada sosok guru matematika saya ketika di SMU dulu.

 Beliau sosok guru matematika yang idealis untuk masalah penilaian. Ketika itu, beliau memiliki suatu system sendiri yang dipraktikkan di semua kelas yang diajarnya. Namanya, Sarmani Abbas, terkenal dengan panggilan “Pak Abbas”. Beliau merupakan sebuah prototype guru yang disiplin, tegas, dan ,berwibawa. Beberapa siswa mungkin lebih setuju menyebut beliau sebagai “guru killer”. Salah satu contoh kejadian yang dapat menggambarkan figure beliau sebagai guru adalah, suasana ketika upacara bendera berlangsung, siswa-siswa bisa jauh lebih tertib ketika mendengarkan beliau berpidato dibandingkan dengan mendengarkan sang kepsek berpidato lho…

System yang terapkan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah kami, sering disebut “system drill”. Sistemnya sebetulnya agak rumit lho, namun dengan disiplin yang ketat system ini bisa berjalan dengan baik di sekolah kami. System ini mengharuskan setiap siswa memiliki sebuah kartu presensi, yang wajib dibawa setiap pelajaran matematika. Kartu presensi ini gunanya untuk menghitung jumlah kehadiran dan merekam jumlah poin bonus yang diperoleh siswa pada acara “drill”. “Drill” adalah sebuah tes matematika lisan yang dilaksanakan diawal jam atau diakhir jam pelajaran matematika dengan memberikan soal-soal secara lisan untuk dikerjakan selama 10 detik.

Nah, yang agak rumit adalah ada system yang diatur sedemikian rupa dalam kelas berdasarkan hitungan urutan tempat duduk, biasanya ke kanan depan atau belakang. Siswa-siswa (biasanya dalam satu banjar urutan tempat duduk) yang tidak juga bisa menjawab dengan benar setelah soal yang ketiga, maka wajib membuat soal dengan topic yang sesuai dengan materi “drill” sebanyak 5 buah. Nah,.. dari 5 soal yang dibuat dan dikumpulkan akan dipilih acak oleh beliau untuk ditanyakan kembali dalam bentuk ujian lisan di meja/ruang beliau. Kalau siswa tersebut gagal menjawab kembali, maka siswa tersebut dihukum lari 2 kali keliling lapangan. Nah, jika seorang siswa bisa mempeoleh 3 poin dalam “drill” lisan (yang jelas perlu kerja keras untuk mendapatkannya :)) maka bisa dipastikan nilai diraport tidak akan merah.

Demikian pula untuk system ujian. Ada nilai minimum lulus. Waktu saya kelas 2, nilai minimum lulus masih 50, nah waktu saya kelas 3 nilai minimum lulus naik 10 poin. Jika siswa tidak lulus terdapat penjenjangan nilai untuk menentukan berapa banyak soal yang harus dibuat sebagai hukuman sekaligus latihan ulang untuk materi yang sama. Jika nilai minimum kelulusan adalah 60, maka bagi siswa yang mendapat nilai 51-59 cukup membuat 5 soal saja, siswa yang mendapat nilai 41- 49 membuat soal 10 buah, 31-39 membuat 15 buah, 21-29 membuat 20, 11-19 membuat 25, dan yang terakhir jarus membuat 30 soal. Sayangnya tidak berhenti sampai disini, seperti biasa diluar jam pelajaran (biasanya di jam istirahat atau pulang sekolah) siswa-siswa yang tidak lulus ini harus mengumpulkan soal ini ke meja beliau untuk dilakukan tes lisan dengan memilih salah satu soal dari soal-soal yang sudah dibuat tersebut.

Nah, yang paling mendebarkan adalah, jika pada tes lisan ini siswa salah menjawab, maka setiap 5 soal harus menebusnya dengan lari sebanyak 2 keliling. Jadi bisa dibayangkan berapa keliling lapangan kalau siswa yang membuat 30 soal gagal menjawab pada tes lisan. Dan lebih dari itu proses remedial ini tidak memberikan kontribusi skor sama sekali lho… (maksudnya setelah membuat soal begitu banyak dan bahkan sampai lari maksimal 6 keliling itupun tidak menjamin terus jadi lulus….) Beliau biasanya hanya memberi 4 soal dalam 2 tipe saja untuk ujian dan kami harus menyelesaikannya dalam waktu 60 menit kalau saya ndak salah. Kawan sebangku bisa dipastikan mendapat tipe soal yang berbeda. Bila ada siswa yang mencontek, selesai ujian langsung digelandang ke ruangan beliau. Perlu dicatat ya,.. seringkali pada saat ujian kami tidak diawasi oleh beliau, tapi dengan satu trik dan teknik tertentu beliau bisa mengetahui siapa saja siswa yang mencontek di kelas. Biasanya paling banyak yang lulus dalam satu kelas tidak lebih dari 25 % saja. Bahkan di kelas unggulan pun tidak jauh berbeda. Mendapat nilai merah untuk matematika sepertinya waktu itu ya biasa tidak terlalu heboh. Mungkin banyak yang mahfum karena menganggap matematika memang tidak mudah. Oya,.. waktu saya masih kelas 2 bahkan ketika ada siswa yang mendapat nilai 10 dalam ujian maka akan dilakukan ujian ulang untuk mempertahankan nilai 10 itu. Alhamdulillah ketika saya kelas 3 kebijakan ini dihapuskan, (karena saya pernah satu kali beruntung mendapat nilai 10).

 Beliau memang kesannya cukup keras, kadang membuat siswa segan bahkan ada pula yang takut. Jangan heran, bila salah satu teman saya langsung memutuskan untuk pindah ke kelas IPS untuk menghindarinya karena begitu takutnya pada beliau, setelah kesan pertama mendapat hardikan mengenai pakaiannya yang kurang rapi. Tapi, ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari beliau. Pelajaran pertama yang langsung saya ambil ketika masih SMUdulu adalah “jangan pernah katakan tidak bisa sebelum mencoba dan berusaha dengan keras”. Ya, pada proses drill lisan di kelas, beliau tidak bisa menerima jawaban “ tidak bisa” dari siswanya, lebih baik dijawab asal saja dari pada memberikan jawaban “tidak bisa”. Pelajaran kedua dan seterusnya, yang baru saya dapatkan dari proses merenung barusan adalah “untuk bisa memahami matematika itu diperlukan kerja keras” jelas itu terbukti. “Serumit apapun suatu system, dengan disiplin dan ketegasan sebetulnya dapat berjalan dengan baik”. Nah, pelajaran terakhir,.. adalah “lari mungkin bisa membuat otakmu bekerja lebih keras lagi dan keberuntunganlah benar-benar ada😀” ya, karena lari memang bisa menjadi hukuman yang dengan keras sekali untuk dihindari. Satu-satunya kemungkinan untuk menghindari drill adalah keberuntungan. Jika soal ketiga sudah terjawab lebih dulu oleh kawan yang duduk di depanmu maka batas siswa yang membuat soal adalah siswa yang duduk dua kursi di depanmu😀.

Beliau juga adalah seorang yang sangat teguh dengan prinsipnya. Pernah suatu kali ada kasus seorang siswa, (waktu itu beliau adalah kakak kelas saya) yang terpaksa harus lari sebanyak 6 keliling hingga pingsan dan masuk rumah sakit. Menurut cerita dari seorang guru yang kebetulan diajak menjenguk kala itu, beliau menjenguk ke rumah sakit, berbicara dengan orangtuanya, namun tidak sejenggkalpun mundur untuk menerapkan system yang sudah dimilikinya. (sebetulnya jika ada siswa yang memang memiliki riwayat penyakit khusus seharusnya menemui beliau secara langsung dan menkomunikasikan hal tersebut).

Dari semua cerita di atas, tidak heran matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang paling menakutkan sekaligus paling menantang bagi siswa-siswa kelas 1 pada zaman saya….. Ternyata perenungan saya tentang “nilai-nilai dalam pembelajaran matematika” selepas memberi nilai tadi siang, membawa saya bernostalgia kembali ke masa SMU tempo doeloe….

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat kepada guru-guru kami. Amiin…

7 thoughts on “PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAHKU

  1. Amiiin.

    semoga kita pun bisa menjadi guru yang menginspirasi bagi siswa2 kita ya, Mba.
    Di tempat saya kuliah saat ini ada dosen yang sangat menginspirasi. Dedikasi Beliau terhadap pendidikan begitu tinggi. Beliau memposisikan diri sebagai orang tua yang selalu siap membantu persoalan mahasiswanya. Misalnya jika ingin bimbingan hari sabtu pun Beliau bersedia ke kampus, padahal kita kuliah senin-jum’at saja. Belum lagi, kita bebas bertanya sampai kita paham dan mengerti, bahkan dengan pertanyaan konyol sekali pun.

    Ketika memberi nilai pun sangat adil. Berdasarkan perubahan pemahaman kita. Jika kita berubah dari 0 menjadi 5 akan lebih baik daripada 8 menjadi 10.

    Beliau mengajar tidak hanya materi2 akademik juga untuk urusan hidup. Misalnya jika tidak jadi mengambil mata kuliah tertentu setelah PRS, maka kita pamit dengan dosennya, tidak hilang begitu saja. Beliau pun sangat perhatian dan berempati dengan urusan-urusan mahasiswanya. Entah itu orang tua mahasiswanya yang sakit, atau pekerjaan.

    Satu lagi Mba, Beliau selalu tersenyum…

  2. maaf, mo tanya.. bagaimana cara utk bisa terhindar dari remedial beliau? kan sya klo ngga slah, prnah ada teman saya yang kena remedial.. itu dia kena sampai berkali-kali, kasihan .. sudah disuruh remed, disuruh buat soal juga_+

  3. Oh, beliau masih menerapkan sistem ini ya sampai saat ini, cara untuk tidak remedia ya harus dapat nilai minimum, nah untuk dapat nilai minimal dibatas lulus harus belajar keras, berlatih mengerjakan soal-soal terus dan jangan menyerah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s