Kisah tentang si Boy


Pernah mengajar siswa kelas 1 SD? Saya pernah. Di salah satu SD Islam Internasional di Solo. Satu kelas terdiri dari 25 siswa, dengan kemampuan akademik yang cukup heterogen. Saya punya salah satu siswa istimewa. Sebut saja, namanya si Boy. Ia adalah anak bungsu seorang pengusaha sukses. Sejak kecil, lebih dekat dengan baby sitter-nya. Beruntung, si pengasuh walaupun orang desa, cukup cerdas, telaten, dan sangat menyayanginya. Sayangnya, pola asuh dalam keluarga tersebut menyebabkan si Boy, menjadi anak yang sangat manja dan tidak mandiri. Sejak TK ia menjadi dikenal sebagai anak yang lambat dalam belajar.
Hm,… untungnya ketika saya mulai menjadi guru kelasnya dan berusaha untuk menggali lebih jauh kemampuan si Boy,.. rupanya stigma guru TK-nya agak kurang tepat. Pada dasarnya ia adalah anak yang kritis dan cerdas. Bagaimana saya bisa berpendapat begitu? Ya,.. karena setiap saya memberikan soal-soal secara lisan ia dapat menjawab dengan benar dan cepat, masalah timbul ketika masa ujian tiba, ia harus menjawab semua pertanyaan dalam bentuk tulisan, dan rupanya yang menghambat ia adalah proses menulis jawaban. Ia tidak telaten menulis. Faktanya, ia sudah bisa menulis, hanya saja butuh waktu yang lama karena konsentrasinya dalam menulis jawaban sering kali buyar hanya karena hal-hal sepele.
Ketika terdapat kasus ini, maka setiap kali waktu ujian, ia diberikan tempat tersendiri, tidak dicampur dengan teman sekelas, dengan ditunggu oleh guru pendamping, akhirnya proses menyelesaikan soal dapat tepat waktu. Dan hasilnya cukup mencengangkan banyak orangtua siswa yang sudah mengenalnya sejak di TK. Si Boy, bahkan dapat mendapat nilai 90 bahkan 100 untuk beberapa mata pelajaran.
Tentu saja ini menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah. Sesungguhnya, saya yakin bahwa si Boy memang anak yang cerdas dan kritis. Suatu kali, ketika sesi penguatan untuk berlatih menulis selesai dengan saya. Si Boy,… dengan seriusnya bertanya pada saya,
“Bu Ida,… saya mau tanya,.. crayon itu dibuat dari apa ya?”
Bluk! Saya sempat kaget dengan pertanyaannya. Jujur! Saya tidak tahu jawabannya. Seketika saya berpikir keras untuk memberikan jawaban yang tepat…
“Hm,.. bahan pembuat crayon ada banyak sayang, Ibu belum tahu semuanya, memangnya kenapa ya?”
“Kalau aku bakar, crayon ini bisa nyala ndak ya?”
Nah Lo! Harus jawab apa lagi nih?…
“Kalau ingin tau, ya dicoba saja. Nanti di rumah bilang sama si Mba untuk mencoba membakar salah satu crayon ya, trus perhatikan bisa menyala atau tidak, tapi harus minta bantuan si mba lho ya… memang kenapa Boy ingin mencoba membakar crayon?”
“Hm,.. soalnya crayon itu, kayaknya kalau dipegang seperti lilin bu rasanya”
Nah, kejadian itu salah satu indikasi Boy anak yang kritis.
Kejadian lain, yang memberi banyak hikmah buat saya adalah tentang makna hukuman. Suatu kali, ketika saya sedang menjelaskan di depan kelas, si Boy tidak dapat tertib di kelas. Karena merasa kewalahan, guru pendamping saya akhirnya memberikan hukuman untuk si Boy agar keluar dari kelas hingga saya selesai menjelaskan pelajaran di dalam kelas.
Namun apa yang terjadi? Rupanya si Boy,.. justru sangat senang diberi hukuman ini, ia justru merasa bebas. Ia menjelajah ke kebun untuk mencari belalang. He..he…he.. guru pendamping saya kewalahan dan tidak dapat membujuknya kembali masuk kelas. Akhirnya setelah selesai menjelaskan di kelas, saya mencari si Boy di kebun belakang sekolah. Saya mendapati ia sedang memegang belalang hijau. Tiba-tiba ia berseru dan berlari ke arah saya dengan antusias bukan dengan rasa bersalah atau penyesalan.
“Bu Ida,.. Bu Ida,… aku dapat menangkap belalang. Bu Ida aku mau tanya,..”
Belum lagi saya sempat bicara, ia mulai melontarkan pertanyaan
“Bu,.. belalang itu ternyata makan daun. Aku lihat belalangnya lagi makan daun. Kalau belalang ini aku masukkan ke dalam air, masih bisa loncat ndak ya?”
“Oya,.. Boy dapat daun ini”, ia menunjukkan selembar daunt alas, “Daunnya kok ndak basah kena hujan ya Bu?” kebetulan saat itu belum lama hujan berhenti. Spontan saja saya menjawab,
“Ibu akan jawab pertanyaan Boy, kalau sudah di dalam kelas”
Dengan santai dan riang, ia mengekor saya ke dalam kelas sambil memegang seekor belalang dan sehelai daun alas.
——————————————-*******——————————————————
Ketika ia mengetahui saya akan pindah dari sekolah,… ia jatuh sakit beberapa hari. Ibunya menemui saya dan mengatakan betapa sedihnya Boy harus berpisah dengan saya. Saya juga begitu terpukul,……… pengalaman ini sungguh sangat bernilai……. Saya sempatkan menjenguknya di rumahnya… dan sejak saat itu saya belum pernah berjumpa dengannya lagi….

One thought on “Kisah tentang si Boy

  1. ehem. ini sebenernya tentang si Boy ato tentang Teh Ida yang ditangisi siswanya? Qiqiqi.

    Tapi hebat juga ya baby sitter bisa ngadepin si Boy😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s