HUKUM DI NEGERI KABAYAN


Suatu hari ketika seorang maling sedang beraksi di sebuah rumah, terjatuh dari plafon sehingga meninggal di tempat. Keluarga sang maling tidak terima atas kematiannya. Keluarga sang maling menuntut si pemilik rumah yang disatroni itu. Si pemilik rumah dihadapkan ke pengadilan. Dihadapan si hakim, pemilik rumah berargumentasi bahwa ia tidak bersalah, yang salah adalah si tukang pembuat rumah yang ceroboh memasang plafon. Lalu, sang hakim memanggil si tukang pembuat rumah untuk dihadapkan di meja hijau. Sang tukang pun, berargumentasi bahwa ia memang teledor ketika memasang kayu untuk plafon, namun hal itu dikarenakan ketika ia sedang memasang plafon, lewatlah seorang perempuan cantik berbaju kuning, sungguh menggoda sehingga ia tak dapat berpaling darinya. Dari argumentasi sang tukang, si hakim memerintahkan untuk segera menghadapkan si perempuan berbaju kuning. Di depan hakim, si perempuan berbaju kuning, berargumentasi bahwa ia tidak bersalah, karena ia sebenarnya ingin memakai baju pink, namun sang tukang wenter ternyata tidak memenuhi keinginannya, justru mewarnai bajunya dengan warna kuning. Hakim pun memerintahkan petugas untuk mencari tukang wenter. Ketika tukang wenter diadili, ia mengakui bahwa ia melakukan kesalahan telah mewarnai baju si perempuan dengan warna kuning bukan warna pink, atas pengakuannya tersebut ia dijatuhi hukuman mati.

Ketika algojo sudah siap di tempat jagal, sang wenter siap dihukum gantung. Kebetulan si tukang wenter adalah pria bertubuh tinggi, tingginya hampir dua meter. Si algojo yang otaknya hanya pas-pasan ini, berkali-kali berusaha menggantung si tukang wenter, namun tidak berhasil karena tiang gantungan kurang tinggi. Kemudian si algojo melapor kembali ke sang hakim.

“Wahai tuan hakim, saya tidak bisa mengeksekusi si tukang wenter karena tiang gantungnya kurang tinggi”
“Dasar Bodoh! Kalau begitu cari dong tukang wenter yang pendek”
“baik yang mulia”

Sang algojo pun mencari tukang wenter yang tingginya pas dengan tiang gantungan. Setelah dapat, segera dihadapkan ke hadapan si hakim. Dengan penuh keyakinan sang hakim membuat keputusan dan mengetok palu,
“saya putuskan tukang wenter bertanggung jawab dan bersalah maka harus dihukum gantung!”
Sang algojo dengan percaya diri akan melakukan eksekusi. Sesaat sebelum dieksekusi, sang algojo memberikan kesempatan pada tukang wenter pendek untuk berbicara. Tukang wenter hanya mengucapkan sebuah kalimat saja,

“Wahai algojo, apakah kesalahan saya sehingga saya harus mati ditiang gantungan ini”
Dengan yakin dan penuh wibawa sang algojo menjawab,
“kesalahan terbesar kamu adalah menjadi tukang wenter yang pendek!”

(Saduran cerita kang Ibing yang dituturkan kembali oleh Popoku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s