Berwisata ke Tangkuban Perahu


Hari sabtu pagi, dipenghujung bulan januari 2009, saya, Ana dan adik lelakinya, Adam berkesempatan menikmati keindahan taman wisata alam gunung Tangkupan Perahu. Kami bertiga berangkat dari gerlong pukul 6.00 pagi telat 30 menit dari jadwal yang kami rencanakan. Dari gerlong kami naik angkot lembang-ST.Hall, Rp. 3000,- sampai terminal Lembang. Duh,… dasar kami tidak mudeng, ternyata sebetulnya ada angkutan langsung dari terminal ledeng ke subang yang pastinya lewat gerbang Tangkuban Perahu dan ongkosnya Cuma Rp. 5000,- murah bukan?! Namun, kami mengetahuinya ketika pulang J. Lucunya lagi, kami tidak tahu kalau ternyata terminal lembang itu hanya sebuah pasar, jadi ketika angkot sudah mau putar balik kami masih belum turun sampai akhirnya ditanya sang sopir, akhirnya sang sopir men-stop sebuah angkot jurusan cikole, dengan inilah kami akhirnya tiba di tangkupan perahu. Dalam angkot saya dan Ana duduk di belakang dengan seorang kernet sedangkan Adam duduk di  bangku depan, sebelah sopir. Kami melewati jalur cikole, pusat perkemahan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan deretan pohon pinus dalam hutan yang tidak seberapa lebat, semakin ke atas udara semakin dingin, walau begitu saya menikmatinya, saya buka satu kaca untuk menyesap udara pagi pegunungan, maklum masih pagi. Dari balik pohon-pohon pinus di selatan tergambar pemandangan menakjubkan, gugusan gunung berwarna kebiru-biruan yang dihiasi putihnya awan. Walau pagi itu mendung masih bergelayut pasca hujan gerimis semalam, namun tak sedikitpun pesona keindahan alam ini berkurang.

Kami tiba di daerah kawah utama, kawah Ratu sekitar pukul 7.30. angkot berhenti tepat di dekat pagar kawah, sangat dekat. Awalnya kami berencana untuk jalan kaki dari Cikole ke atas, namun karena angkot terusa saja melaju dan jujur ya, kami ndak tahu kalau ternyata itu inisiatif sang sopir semata untuk mendapatkan bayaran lebih. Awalnya sang sopir mematok ongkos Rp 47.500 per orang dari lembang sampai kawah sudah termasuk harga tiket Rp. 12.000, namun setelah tawar menawar kami boleh membayar Rp. 120.000 untuk bertiga. Hm…. Saya sendiri tidak tahu pasti berapa ongkos sebetulnya dari gerbang bawah sampai kawah, tapi yah sudahlah…. Walau demikian kami merasa beruntung diantar angkot tersebut sehingga tiba di lokasi masih sangat pagi. Masih sepi hanya ada kami dan serombongan pemuda yang sudah asyik membidik keelokan alam pagi dari bibir jurang.

Subhanallah,…. Sungguh keindahan yang tak terbantah dan kecantikan nan amat eksotik. Kami bertiga benar-benar takjub menyaksikan pagi di sini. Hamparan pegunungan biru bergradasi, hutan puspa, saninten dan kihujan memberikan nuansa hijau berbaur dengan putihnya awan bersinergi dengan warna permukaan tanah yang membentuk nuansa dari berbagai material hasil erupsi gunung yang konon ceritanya terbentuk karena kemarahan Sangkuriang kepada ibunya, Dayang Sumbi. sebuah lukisan pagi yang sempurna terhampar di depan mata walau matahari belum lagi memberikan cahayanya. Brr… entah angin lembah atau angin gunung yang berhembus menembus tiap helai benang dari baju yang kami kenakan. Dingin! Tangan kami sampai-sampai mati rasa. Walau saya sendiri sudah berkali-kali ke tempat ini sejak usia tujuh tahun tapi baru kali ini saya dapat menyaksikan lukisan pagi dari tempat ini.

Dari gambar sketsa kawah gunung tangkupan perahu yang sudah dimodifikasi oleh Stehn tahun 1929 setidaknya terdapat 10 kawah yang terdapat di gunung ini yaitu, kawah Ratu, kawah domas, kawah upas, kawah baru, kawah siluman, kawah jung dan kawah pangguyangan badak, kawah jaran, kawah ecoma dan kawah badak. Hari itu kami berkesempatan melihat tiga kawah saja, kawah Ratu sebagai kawah utama, kawah Upas yang sudah mati dan membentuk danau kecil serta kawah domas yang menghasilkan sumber air panas serta aman untuk berinteraksi diatasnya. Setelah perlahan lukisan pagi memudar kami mulai menjelajah kawah pertama, kawah Ratu, kawah yang terletak dikawasan utama taman wisata alam gunung tangkupan perahu ini. Dulu kawah ini masih sangat aktif dan bau belerang sangat menyengat namun sekarang ini sepertinya kawah ini hampir mati dan bau dari gas-gas yang bisa membayakan ini; CO2, H2S, HCL, SO2 dan CO sudah banyak berkurang. Kemudian perjalanan kami lanjutkan mendaki jalan setapak ke kawasan kawah Upas yang terletak di sebelah barat kawah Ratu dan Ecoma. Kawah Upas kami nikmati dibibir jurang dimana terdapat titian batas antara kawah Ecoma dengan kawah Upas. Di kawah Upas pun sepertinya sudah mati karena tidak lagi mengeluarkan asap, terlihat dikejauhan kerlip dari air jernih dalam danau kecil yang terdapat di dasar kawah. Indah! Setelah puas menikmati keindahannya dan potret sana sini perjalanan kami lanjutkan ke sumber air kahuripan. Awalnya saya dan Adam tertarik untuk menjelajahi jalan setapak dalam hutan namun Ana memilih untuk meniti jalan umum saja guna sampai ke sumber air kahuripan, jalannnya jauh lebih menanjak memasuki hutan yang lebih lebat. Setibanya di sana, ternyata sumber air ini sudha dibuat dalam bentuk MCK sederhana dan airnya dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air kepada masyarakat yang mengais rejeki di kawasan wisata ini.

Dari sini, perjalanan kami lanjutkan ke kawah domas dengan jalur kembali ke timur kemudian turun sejauh 12Km dari pelataran kawah Ratu ke arah utara timur laut. Jalan menurun dengan tangga-tangga terbuat dari batang kayu pakis yang ujungnya masih tumbuh tunas dan daun-daun hijau sedikit melemahkan lutut saya. Sejak dulu perjalanan turun selalu lebih sulit saya tempuh dibandingkan mendaki. Nafas kami sudah mulai tersengal-sengal dan langkah semakin lambat, namun tetap saja masih sanggup mendahului rombongan turis dari Kuala Lumpur yang berada di depan kami, kira-kira di KM 6 kami istirahat sejenak di persinggahan dan sempat menyaksikan kawah Domas dikejauhan mengepulkan asap putih berbaur dengan kabut pekat yang tiba-tiba saja datang. Adam sempat membeli telur untuk kami rebus dibawah nanti. Setelah tenaga dan semangat kami pulih, perjalanan terasa lebih cepat kami tempuh sesaat sebelum tiba dilokasi ternyata kami disusul oleh dua turis dari Arab Saudi yang menyapa kami dengan salam, rupanya mereka menempuh jalur yang berbeda dengan kami, yang akan kami tempuh saat pulang nanti. Setibanya di kawah, segera kami menjelajah kawah, menapak batu-batu dengan hati-hati, karena jika lalai kaki dapat terpercik air panas yang bermunculan dan mengalir diantara sela-sela batu. Di bagian depan tersebut terdapat tiga sumber air panas besar yang sudah dikelilingi batuan agar kita bisa melihat lebih dekat, dua sumber air panas yang tenang dan satu sumber air panas yang bergolak seperti air mendidih, disini kami memasak telur yang tadi kami belik di atas. Sebetulnya kami ingin terus mendaki ke  atas dan memutari kawasan kawah seperti dua orang turis Arab dengan guide-nya namun tertinggal saja kami sebentar tiba-tiba kabut dan asap berbaur menutup jalan di depan kami, akhirnya kami putusakan untuk turun kembali dan menanti telur matang. Ups, dasar saya yang kurang sabar, begitu diangkat ternyata telurnya baru setengah matang,… he..he…he…  kami sempat mencoba untuk bermain air di sumber kolam air panas yang tenang,.. hm,… rasanya enak sekali hangatnya pas untuk mandi,… andainya air mandi saya hangatnya seperti ini tiap hari,.. hm,… pasti saya rajin mandi he..he..he.. tak berapa lama setelah membasuh tangan kami, ternyata kami merasakan tangan kami menjadi lebih halus. Serius lho,… sampai-sampai kami balik lagi ingin membasuh wajah dan memutuskan untuk mengambil air dan kami bawa pulang, barangkali karena kandungan belerang yang cukup tinggi dalam air ini sehingga kulit kami menjadi lebih halus. Setelah sekian lama, akhirnya rombongan turis kuala lumpur tiba juga menyusul kami, beberapa diantaranya langsung merendam kaki mereka di sumber air panas ketiga yang juga tenang, rupanya mereka  memang ingin memanfaatkan air belerang ini untuk pengobatan kulit, sang guide mengambil tanah gosong yang terdapat di atas bukit untuk dijadikan masker di kaki mereka yang sakit.

Puas bermain-main air panas dan uap belerang kami akhirnya naik dan pulang, rupanya dua turis Arab tadi sudah di depan kami. Kami mengambil jalur berbeda karena memang ingin sekalian turun ke bawah untuk pulang, entah berapa kilo meter jalan setapak yang kami lewati menembus hutan yang pekat dan basah. Namun jalannya tidak seberapa curam dan tak berundak-undak. Jalan ini tembus pada parkiran bawah, memang khusus parkiran untuk kawah domas saja. Dari sini, untuk bisa ke jalan raya utama, kami masih harus berjalan kaki beberapa kilometer lagi hingga tembus di jalan raya Lembang-Subang.Ck..ck… jangan kalian tanya bagaimana rasanya, pagal-pegal, capek pasti karena entah berapa kilometer sudah yang kami tempuh. Tapi semua itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan, lukisan alam dari kuas-kuas Yang Maha Sempurna tlah membius penglihatan kami. Dan kami ingin kembali lagi dan lagi………..

Jika ingin lihat photo-photonya silahkan klik disini

2 thoughts on “Berwisata ke Tangkuban Perahu

  1. sebaiknya diberitahukan kepada para wisatawan yang ingin pergi ke tangkuban perahu jangan menggunakan angkot. sering terjadi pemerasan dan penculikan. hal ini dibiarkan oleh pemerintah setempat karena ada konsian korbannya ya turis yang naif..sudah banyak korban..tapi dipelihara…sebagai warga setempat saya malu…semoga mereka para oknum mendapat balasan setimpal…. gunakan travel resmi atau mobil pribadi.

  2. Saya mendengar object wisata Tangkuban Perahu emang jadi ajang pemerasan oleh preman2 dan aparat tidak berkutik. Sebagai orang asli bandung saya sangat prihatin dgn ulah orang2 ini, jangka panjang object pariwisata di jabar khususnya Tangkuban Perahu akan di kenal sebagai object yg indah tapi pengelolaannya sangat brengsek. Perlu langkah nyata dari aparat terkait…. saya warga bandung dan lainnya tentu mengharap ada perbaikan segera…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s