Hamil Menggantung


Ya,… memang begitulah istilahnya “Hamil menggantung”. Saya juga baru tahu istilah ini pada kehamilan ke dua.  Padahal sejak kehamian pertama dulu, usia kandungan baru masuk bulan ke-7, tapi posisi perut saya sudah berada di bawah sekali. Sampai-sampai saya dikira salah menghitung usia kandungan oleh dokter. Apalagi waktu itu berat badan bayi baru sekitar 2,5 kg untungnya, ketika saya pindah ke Bekasi dan periksa di SPOG dr. Kalsah, beliau mengatakan bahwa ketuban masih sangat cukup dan plasenta belum ada pengapuran, jadi kemungkinan besar memang usia kandungan belum cukup untuk lahir. Akhirnya anak pertama saya bisa lahir normal di minggu ke-41, dengan berat badan 3,1 kg dan panjang 50cm.

Pengalaman melahirkan anak pertama saya, sungguh mudah jika dibandingkan dengan cerita-cerita beberapa teman dan kerabat. Proses kelahiran dilalui bertiga di klinik tante, yang menjadi bidan.  Saya, suami, dan tentu saja tante. Mungkin karena proses melahirkan di tolong oleh orang-orang terdekat, membuat saya merasa nyaman sehingga sekali mengejan bayi-nya langsung keluar. Bahkan mama, driver, dan, beberapa orang  yang ada di ruang depan heran karena tidak terdengar suara saya teriak-teriak tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi🙂

images[2]Nah, pada kehamilan ke dua, saya mengalami hal serupa terkait posisi perut yang terlihat sudah sangat turun padahal waktu usia kandungan baru masuk minggu ke-36. Memang normalnya bayi akan lahir di sekitar minggu ke 38 hingga 40. Namun, di minggu ke-36 posisi bayi masih sungsang, letaknya horizontal. Ketika hamil ke dua ini saya periksa ke SPOG dr. Tina Dewi yang berpraktek di Hermina Pasteur. Beliau mengatakan bahwa memang pada kehamilan ke dua terkadang bayi baru akan masuk panggul sesaat sebelum lahir, jadi saya tidak perlu cemas. Namun demikian saya tetap berusaha untuk banyak sujud, jalan kaki, dan berenang. Ini sesuai dengan saran bidan Nur, yang punya RBHB (Rumah Bersalin Hidup Berkah) yang ternyata lokasinya dekat dari rumah. Omong punya omong, saya dapat informasi tentang RBHB itu ketika tidak sengaja browsing di internet dengan topik, “tempat melahirkan di bandung”. Ternyata lokasinya cukup dekat hanya sekitar 10-15 menit dari rumah kalau diantar Popo, dan lebih cepat sedikit kalau naik angkot parompong, itu lho yang berwarna ungu. Ketika kali pertama saya survey ke sana bersama Popo, saya sih langsung jatuh cinta dan merubah pikiran saya untuk pindah tempat bersalin dari Hermina ke sini. Letaknya memang di dataran tinggi, udaranya masih sejuk. Tempatnya sih sederhana, tapi tingkat kebersihannya saya kasih nilai 9 dari skala 10. Sehingga saya langsung booking kelas VIP I, di depan kamar ini terhampar padang rumput hijau yang luas. Ruangan pun didesain seperti bungalow, dengan tempat tidur springbed, bukan tempat tidur khusus orang sakit lho… tapi yang membuat saya tertarik sesungguhnya adalah metode REFRESH yang ditawarkan, yaitu pakai akupuntur untuk membantu mengurangi nyeri persalinan. Jadilah sejak minggu ke-37 saya periksa di dua tempat, setiap senin atau jumat  di akupuntur di RBHB dan setiap sabtu saya jumpa dokter Tina yang memeriksa saya hanya 5 menit tapi saya menunggunya kadang sampai 2 jam.

 Alhamdulillah ketika periksa di minggu ke 38 dan minggu ke-39 berdasarkan hasil pantauan ultrasonografi yang dilakukan dokter Tina, bayi saya kepalanya sudah dibawah, dan berdasarkan pemeriksaan bidan Nur kepala bayi sudah masuk panggul tapi baru sebagian kecil saja, jadi tinggal menunggu sang mulesdatang saja. Selai itu semua kondisi terkendali, letak plasenta di depan, tidak terdapat lilitan plasenta, ketuban dan plasenta bagus, berat badan bayi sudah 3,5 kg. Bermodalkan informasi itu, saya santai menunggu proses kelahran tapi sudah tidak ke kampus lagi, karena kalau saya ke kampus sepertinya semua mata memandang dengan cemas, sepertinya saya akan segera lahir karena posisi perut yang sudah sangat di bawah. Tapi, ketika dapat undangan kuliah umum dari Prof. Peter Charles Taylor dari Curtin University, saya pingin dateng ke kampus dengan alasan jenuh di rumah terus. Setibanya di kampus, benar saja komentar teman-teman seperti dugaan saya, heran dan kelihatan lebih cemas dari saya, mungkin mereka khawatir kalau-kalau saya mules-mules di kampus jadi kan mereka ikutan panik. Saya sih dengan entengnya menjawab, tenang aja rumah sakitnya deket kok J

Tapi yang lebih heran lagi adalah, ketika tiba-tiba Pak Turmudi, sebagai ketua prodi SPs Pendidikan matematika meminta saya menjadi moderator, lima menit sebelum acara dimulai. Jadilah, si bumil duduk di podium di samping prof. Peter, yang ternyata bisa menerbangkan pesawat, menyelam di laut dan menjadi tukang kayu, selain jadi seorang professor pendidikan itu. Oya, waktu itu kami diskusi tentang topik “constructivism”, tapi sekarang saya sedang tidak akan cerita soal itu ya… karena ya … karena saya gak mau aja.

Kembali ke cerita sebelumnya, meskipun sudah rajin saya olah raga, tapi teryata pada minggu ke-40 ketika saya periksa ke dokter eh si bayi yang terlalu aktif di perut ini posisinya keluar dari panggul lagi dan dengan santainya memposisikan tubuhnya melintang di perut saya. Waktu periksa itu, hari sabtu. Jadilah sang dokter, saya, dan suami, menjadi heran, dan sedikit cemas. Hal lain yang membuat kami cemas adalah berat badan bayi yang diprediksi sama si USG sudah 3,7 kg. Meskipun demikian sang dokter tetap menyarankan kepada kami untuk menunggu seminggu lagi, karena ketuban dan plasenta masih bagus. Hiks..hiks… jadilah kami pulang dengan berbagai pikiran yang bercampur-campur. Agar pikiran kami menjadi jernih kembali, jadilah kami memutuskan untuk segera minta bantuan para pakar dan ahli yang kompeten. Pakar pertama, tentu saja tante saya yang bidan, dan pakar ke dua adalah saudara kembar suami, sang DSA. Berdasarkan pertimbangan kedua pakar itu, kesimpulannya kami hari senin akan cari “second opinion”.

Jadilah hari senin kami ke RBHB, dan bidan Nur mengatakan bahwa jenis kehamilan saya adalah hamil menggantung, perut saya bagaikan istana bagi sang bayi. Sebenarnya beliau bisa saja membantu untuk memutar letak janin, namun pada kasus saya, karena bayi cukup besar dan letak plasenta di depan, beliau tidak berani melakukannya. Lalu setelah konsultasi pula dengan DSOG di sana, seperti saran tante saya, kami memilih opsi operasi. Berhubung saya punya suami yang kerjanya tukang rapat, jadinya kami memutuskan untuk operasi saat itu juga, karena besok selasa adalah hari libur dan senin itu suami sudah membatalkan semua acaranya, selain pada minggu ia harus ke Surabaya dan juga ke Negara tetangga. Maka sore itu pukul 14.30 operasi dilaksanakan dan sekitar pukul 15.00 saya sudah bisa mendengar suara anak ke dua kami. Dia, anak ke dua kami, perempuan, berat badannya sekitar 3,5 kg, tapi waktu saya lihat di surat keterangan lahir rupanya berat badannya 3,45 kg dengan panjang 49cm.

Nah,. Kalau ibu-ibu sekalian atau Bapak-Bapak sekalianpunya istri yang ketika hamil mengalami hal yang serupa, yaitu bahwa usia kandungan belum tua tapi posisi perut sudah sangat di bawah, maka bisa saya katakan bahwa itu adalah kasus hamil menggantung. Catatan yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Kasus hamil menggantung tidak melulu berujung pada operasi, saya memilih opsi ini pada kehamilan ke dua lebih dikarenakan saya tidak cukup sabar untuk menunggu bayi hingga minggu ke-41, sudah kangen berat sama adik bayi, begitu kata anak pertama saya. Alasan lainnya adanya kemungkinan suami akan menunaikan tugasnya, yang menurut saya mulia, demi perannya sebagai suami, ayah, dan pegawai di tempatnya bekerja, pada minggu ke-41 padahal hanya beliau yang bisa menemani saya bersalin.
  2. Biasanya dokter akan bilang, perut ibu tipis sekali, bahan dokter Tina bilang pada saya bahwa saya harus kerja ekstra keras untuk mengembalikan perut ke kondisi semula. Tapi faktanya, perut saya lebih cepat kempes daripada perut teman saya yang kebetulan dioperasi pada hari yang sama. Untuk hal ini, saya percaya pada kata-kata dokter Kalsah, yang mengatakan bahwa kalau perut saya tipis, nanti cepat kembali ke kondisi semula.
  3. Pada kasus hamil menggantung, khususnya setelah kehamilan pertama, meskipun kita sudah melakukan saran dokter atau bidan untuk sujud, jalan kaki, bahkan berenang, posisi bayi bisa saja tidak segera mau masuk panggul, karena memang perut seperti istana, begitu lentur sehingga bayi bisa bergerak bebas. Yang paling penting ketika mulas datang kepalanya sudah ada di bawah.

Wah, ternyata banyak juga tulisan saya tentang hamil menggantung, jadi perlu dicatat ya hamil mengantung bukan berarti, si bumil bergelantungan di pohon ataw tiang listrik lho…. Tapi perut si ibu yang menggantung di tubuhnya si bumil lah……

 Cimahi, kamis 28  nov 2013.

4 thoughts on “Hamil Menggantung

  1. Makasih infonya Mba..Aku juga mengalami hal yang sama di kehamilan kedua ini..sempat mengira dokter mengada-ada waktu bilang aku hamil menggantung..makanya akhirnya googling dan menemukan kasus2 yang sama kayak aku..

  2. Iya Mba Rizka, karena kasusnya mungkin agak jarang jadi saya ingin share agar bisa memberi manfaat bagi yang memiliki kasus sama🙂 Semoga lancar waktu melahirkan nanti🙂

  3. Haloo.. thankyou sharingnya yaaa..

    Saya juga hamil menggantung di kehamilan pertama ini.
    Kira-kira, berapa besar kemungkinan bisa lahiran normal ya mba?
    Saya masih takut untuk operasi soalnyaa.. hehe, thanks

  4. Dear Linces,

    Selamat atas kehamilannya ya, semoga debay dan ibunya sehat selalu dan proseslahirannya lancar🙂
    Karena saya bukan dokter, tentu tidak bisa memperkirakan bisa normal atau tidak, tapi sebagai sesama perempuan dan Ibu yang sudah tiga kali melahirkan, saya hanya bisa mengatakan bahwa berpikir positif sejak awal akan sangat membantu lancarnya proses persalinan, selain itu jangan lupa meminta pada Tuhan dan bertanya pada hati kecil sejujurnya apa yang Linces inginkan, IA akan terkabul.

    Waktu anak pertama saya sangat yakin akan bisa normal, walau beberapa dokter bilang sudah lewat tanggal, dengan doa akhirnya bisa terkabul. waktu hamil ke dua, sejujurnya dalam hati kecil ini rupanya penasaran sama caesar, jadi usaha tiap pagi jalan terus dan olahraga rutin tetap saja ujungnya memilih SC karena suami harus ke luar negri saat HPL🙂

    So,… santai saja dan berpikir positif, normal dan SC sama saja yang penting bayi dan bunda sehat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s