Menghitung Pahala


Menghitung PahalaA : “Ustadz, saya ada pertanyaan terkait dengan masalah itikaf di bulan suci ini”
U : “ya..ya..ya silahkan, apa pertayaannya? Insha Allah saya coba bantu”
A : “Ustadz, manakah yang lebih besar pahalanya antara itikaf di masjid dan menemani istri menjaga anak yang sedang sakit?”
U :” Subhanallah,.. super sekali pertanyaan akhi ini, saya akan coba jelaskan dengan sangat jelas, agar mudah dipahami. Pertama-tama, itikaf pada bulan Ramadhan adalah ibadah muakad yang sangat dianjurkan, tentu sangat baik jika dapat dilaksanakan.
A : “Oh,.. jadi kalau begitu, saya pilih itikaf saja ya ustadz?”
U : “ sabar, saya belum selesai menjelaskan. Menemani istri menjaga anak yang sakit juga sangat mulia, menunjukkan bahwa akhi adalah suami yang bertanggung jawab dan berahlak mulia. Bila akhi dapat melakukan keduanya pasti akan lebih banyak pahalanya dari pada hanya memilhsalah satu saja”
A : “Oh,… ya…ya.. Ustadz, saya mengerti. Tapiiii…. maksud bagaimana mungkin saya bawa anak dan istri itikaf di masjid, sedangkan anak saya sedang sakit, tentu kasihan ustadz kalau anak saya harus ikutan itikaf”
U : “ Lho,… memang siapa yang suruh membawa istri dan anak sakit itikaf di masjid?”
A: “Kan tadi ustazd bilang, sebaiknya memilih kedua-duanya”
U : “Betul sekali, tapi maksud saya itu masjidnya yang dibuat dekat dengan rumah antum, kalau perlu pintunya nempel dengan rumah antum. Dengan begitu, pasti pahalanya jauh lebih besar lagi, dan antum bisa itikaf sambil menemani istri dan anak-anak.”
A : “Oh,..ya..ya..ya.. saya paham ustadz. Tapiii… seandainya ustadz jadi saya yang belum mampu buat masjid di dekat rumah, maka ustadz akan memilih yang mana, itikaf atau menemani sitri?”
U : “Kalau saya jelas, akan memilih menemani istri menjaga anak yang sakit.”
A : “Oh… karena pahalanya lebih besar dari itikaf ya ustadz?”
U : “Bukan.. bukan itu, karena kalau saya memilih itikaf, bisa-bisa ibadah puasa saya bisa berantakan”
A : “Lho kenapa bisa begitu ustadz?”
U : “Ya,.. karena bisa dipastikan istri saya pasti akan marah besar, dan kalau beliau sudah marah, saya bisa puasa tanpa buka dan sahur, bahkan acara ceramah saya pun bisa berantakan sehingga saya akan kehilangan lebih banyak pahala ”
A : “LoL”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s