Bersyukur itu memang tidak mudah!


img_20170104_085418_hdr

Akhir-akhir ini disaat saya sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan penulisan disertasi, teteh di rumah mulai sering tidak masuk. Meskipun tidak langsung, tapi tetap saja ini menjadi hambatan bagi ibu dengan tiga anak kecil. Uti jelas akan sangat repot tanpa bantuan teteh. Mulailah drama-drama melow yang menyertai karena tentu saja rasa lelah yang tidak dapat dihindarkan. Serinya kalau sudha terasa lelah, kita mudah banget mengeluh. “Ya ampun, teteh sudah mulai males-malesan kerja nih, ya sudah kalau ndak banyak ndak masuk ndak perlu penuh toh memang perjanjiannya dibayar per hari”. “kamu itu sih terlalu baik, ndak masuk tetap dibayar, belum lagi dikasih ini-itu, barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi semua dikasihkan dia, lama-lama jadi ke-enakan deh”. Saya pun jadi terpancing juga akhirnya, “ ya sudah cari saja gantinya, ti”.

Selang beberapa hari, sambil tanya sana-sini rupanya Uti mendapatkan cerita yang lebih kurangnya sama, keluhan tentang asisten rumah tangga. Ketika cerita-cerita tersebut diceritakan kembali kepada saya, tetiba saya jadi merasa sangat bersalah karena kurang bersyukur. ART saya ini, jujur, tidak suka ngerumpi, tidak pernah sekalipun pinjam uang, yang jelas da sangat amanah, masa hanya karena akhir-akhir ini sering tidak masuk saja, kami suah mengeluh. Memang pekerjaan beliau kadang kualitasnya belum seperti yang kami inginkan, tapi ya mana ada sih ART yang benar-benar sempurna. Setelah itu, saya blang ke mama yang masih berburuk sangka bahwa hari itu disaat hujan dan angin kencang kemungkinan besar teteh tidak masuk, “Ma kalau kita berpikir negatif tentang dia, nanti akan jadi nyata lho, Insya Allah teteh hari ini masuk kok” dengan santainya sambil dalam hati saya sepenuhnya bersyukur dapat ART yang baik dan amanah. Ternyata tidak sampai 10 menit kemudian teteh datang menggunakan jaket tebal untuk pertama kalinya. Baru kali ini saya lihat orang asli kebun hui kedinginan J ternyata bukan hanya saya yang menggigil pagi ini.

Ikhlas, sabar, dan syukur adalah kunci dalam kehidupan, yang sering sekali mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan. Namun sesulit apapun pasti bisa dilakukan asalkan ada kemauan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s