Berwisata ke Tangkuban Perahu

Published January 12, 2012 by Momo Morteza

Hari sabtu pagi, dipenghujung bulan januari 2009, saya, Ana dan adik lelakinya, Adam berkesempatan menikmati keindahan taman wisata alam gunung Tangkupan Perahu. Kami bertiga berangkat dari gerlong pukul 6.00 pagi telat 30 menit dari jadwal yang kami rencanakan. Dari gerlong kami naik angkot lembang-ST.Hall, Rp. 3000,- sampai terminal Lembang. Duh,… dasar kami tidak mudeng, ternyata sebetulnya ada angkutan langsung dari terminal ledeng ke subang yang pastinya lewat gerbang Tangkuban Perahu dan ongkosnya Cuma Rp. 5000,- murah bukan?! Namun, kami mengetahuinya ketika pulang J. Lucunya lagi, kami tidak tahu kalau ternyata terminal lembang itu hanya sebuah pasar, jadi ketika angkot sudah mau putar balik kami masih belum turun sampai akhirnya ditanya sang sopir, akhirnya sang sopir men-stop sebuah angkot jurusan cikole, dengan inilah kami akhirnya tiba di tangkupan perahu. Dalam angkot saya dan Ana duduk di belakang dengan seorang kernet sedangkan Adam duduk di  bangku depan, sebelah sopir. Kami melewati jalur cikole, pusat perkemahan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan deretan pohon pinus dalam hutan yang tidak seberapa lebat, semakin ke atas udara semakin dingin, walau begitu saya menikmatinya, saya buka satu kaca untuk menyesap udara pagi pegunungan, maklum masih pagi. Dari balik pohon-pohon pinus di selatan tergambar pemandangan menakjubkan, gugusan gunung berwarna kebiru-biruan yang dihiasi putihnya awan. Walau pagi itu mendung masih bergelayut pasca hujan gerimis semalam, namun tak sedikitpun pesona keindahan alam ini berkurang.

Kami tiba di daerah kawah utama, kawah Ratu sekitar pukul 7.30. angkot berhenti tepat di dekat pagar kawah, sangat dekat. Awalnya kami berencana untuk jalan kaki dari Cikole ke atas, namun karena angkot terusa saja melaju dan jujur ya, kami ndak tahu kalau ternyata itu inisiatif sang sopir semata untuk mendapatkan bayaran lebih. Awalnya sang sopir mematok ongkos Rp 47.500 per orang dari lembang sampai kawah sudah termasuk harga tiket Rp. 12.000, namun setelah tawar menawar kami boleh membayar Rp. 120.000 untuk bertiga. Hm…. Saya sendiri tidak tahu pasti berapa ongkos sebetulnya dari gerbang bawah sampai kawah, tapi yah sudahlah…. Walau demikian kami merasa beruntung diantar angkot tersebut sehingga tiba di lokasi masih sangat pagi. Masih sepi hanya ada kami dan serombongan pemuda yang sudah asyik membidik keelokan alam pagi dari bibir jurang.

Subhanallah,…. Sungguh keindahan yang tak terbantah dan kecantikan nan amat eksotik. Kami bertiga benar-benar takjub menyaksikan pagi di sini. Hamparan pegunungan biru bergradasi, hutan puspa, saninten dan kihujan memberikan nuansa hijau berbaur dengan putihnya awan bersinergi dengan warna permukaan tanah yang membentuk nuansa dari berbagai material hasil erupsi gunung yang konon ceritanya terbentuk karena kemarahan Sangkuriang kepada ibunya, Dayang Sumbi. sebuah lukisan pagi yang sempurna terhampar di depan mata walau matahari belum lagi memberikan cahayanya. Brr… entah angin lembah atau angin gunung yang berhembus menembus tiap helai benang dari baju yang kami kenakan. Dingin! Tangan kami sampai-sampai mati rasa. Walau saya sendiri sudah berkali-kali ke tempat ini sejak usia tujuh tahun tapi baru kali ini saya dapat menyaksikan lukisan pagi dari tempat ini.

Dari gambar sketsa kawah gunung tangkupan perahu yang sudah dimodifikasi oleh Stehn tahun 1929 setidaknya terdapat 10 kawah yang terdapat di gunung ini yaitu, kawah Ratu, kawah domas, kawah upas, kawah baru, kawah siluman, kawah jung dan kawah pangguyangan badak, kawah jaran, kawah ecoma dan kawah badak. Hari itu kami berkesempatan melihat tiga kawah saja, kawah Ratu sebagai kawah utama, kawah Upas yang sudah mati dan membentuk danau kecil serta kawah domas yang menghasilkan sumber air panas serta aman untuk berinteraksi diatasnya. Setelah perlahan lukisan pagi memudar kami mulai menjelajah kawah pertama, kawah Ratu, kawah yang terletak dikawasan utama taman wisata alam gunung tangkupan perahu ini. Dulu kawah ini masih sangat aktif dan bau belerang sangat menyengat namun sekarang ini sepertinya kawah ini hampir mati dan bau dari gas-gas yang bisa membayakan ini; CO2, H2S, HCL, SO2 dan CO sudah banyak berkurang. Kemudian perjalanan kami lanjutkan mendaki jalan setapak ke kawasan kawah Upas yang terletak di sebelah barat kawah Ratu dan Ecoma. Kawah Upas kami nikmati dibibir jurang dimana terdapat titian batas antara kawah Ecoma dengan kawah Upas. Di kawah Upas pun sepertinya sudah mati karena tidak lagi mengeluarkan asap, terlihat dikejauhan kerlip dari air jernih dalam danau kecil yang terdapat di dasar kawah. Indah! Setelah puas menikmati keindahannya dan potret sana sini perjalanan kami lanjutkan ke sumber air kahuripan. Awalnya saya dan Adam tertarik untuk menjelajahi jalan setapak dalam hutan namun Ana memilih untuk meniti jalan umum saja guna sampai ke sumber air kahuripan, jalannnya jauh lebih menanjak memasuki hutan yang lebih lebat. Setibanya di sana, ternyata sumber air ini sudha dibuat dalam bentuk MCK sederhana dan airnya dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air kepada masyarakat yang mengais rejeki di kawasan wisata ini.

Dari sini, perjalanan kami lanjutkan ke kawah domas dengan jalur kembali ke timur kemudian turun sejauh 12Km dari pelataran kawah Ratu ke arah utara timur laut. Jalan menurun dengan tangga-tangga terbuat dari batang kayu pakis yang ujungnya masih tumbuh tunas dan daun-daun hijau sedikit melemahkan lutut saya. Sejak dulu perjalanan turun selalu lebih sulit saya tempuh dibandingkan mendaki. Nafas kami sudah mulai tersengal-sengal dan langkah semakin lambat, namun tetap saja masih sanggup mendahului rombongan turis dari Kuala Lumpur yang berada di depan kami, kira-kira di KM 6 kami istirahat sejenak di persinggahan dan sempat menyaksikan kawah Domas dikejauhan mengepulkan asap putih berbaur dengan kabut pekat yang tiba-tiba saja datang. Adam sempat membeli telur untuk kami rebus dibawah nanti. Setelah tenaga dan semangat kami pulih, perjalanan terasa lebih cepat kami tempuh sesaat sebelum tiba dilokasi ternyata kami disusul oleh dua turis dari Arab Saudi yang menyapa kami dengan salam, rupanya mereka menempuh jalur yang berbeda dengan kami, yang akan kami tempuh saat pulang nanti. Setibanya di kawah, segera kami menjelajah kawah, menapak batu-batu dengan hati-hati, karena jika lalai kaki dapat terpercik air panas yang bermunculan dan mengalir diantara sela-sela batu. Di bagian depan tersebut terdapat tiga sumber air panas besar yang sudah dikelilingi batuan agar kita bisa melihat lebih dekat, dua sumber air panas yang tenang dan satu sumber air panas yang bergolak seperti air mendidih, disini kami memasak telur yang tadi kami belik di atas. Sebetulnya kami ingin terus mendaki ke  atas dan memutari kawasan kawah seperti dua orang turis Arab dengan guide-nya namun tertinggal saja kami sebentar tiba-tiba kabut dan asap berbaur menutup jalan di depan kami, akhirnya kami putusakan untuk turun kembali dan menanti telur matang. Ups, dasar saya yang kurang sabar, begitu diangkat ternyata telurnya baru setengah matang,… he..he…he…  kami sempat mencoba untuk bermain air di sumber kolam air panas yang tenang,.. hm,… rasanya enak sekali hangatnya pas untuk mandi,… andainya air mandi saya hangatnya seperti ini tiap hari,.. hm,… pasti saya rajin mandi he..he..he.. tak berapa lama setelah membasuh tangan kami, ternyata kami merasakan tangan kami menjadi lebih halus. Serius lho,… sampai-sampai kami balik lagi ingin membasuh wajah dan memutuskan untuk mengambil air dan kami bawa pulang, barangkali karena kandungan belerang yang cukup tinggi dalam air ini sehingga kulit kami menjadi lebih halus. Setelah sekian lama, akhirnya rombongan turis kuala lumpur tiba juga menyusul kami, beberapa diantaranya langsung merendam kaki mereka di sumber air panas ketiga yang juga tenang, rupanya mereka  memang ingin memanfaatkan air belerang ini untuk pengobatan kulit, sang guide mengambil tanah gosong yang terdapat di atas bukit untuk dijadikan masker di kaki mereka yang sakit.

Puas bermain-main air panas dan uap belerang kami akhirnya naik dan pulang, rupanya dua turis Arab tadi sudah di depan kami. Kami mengambil jalur berbeda karena memang ingin sekalian turun ke bawah untuk pulang, entah berapa kilo meter jalan setapak yang kami lewati menembus hutan yang pekat dan basah. Namun jalannya tidak seberapa curam dan tak berundak-undak. Jalan ini tembus pada parkiran bawah, memang khusus parkiran untuk kawah domas saja. Dari sini, untuk bisa ke jalan raya utama, kami masih harus berjalan kaki beberapa kilometer lagi hingga tembus di jalan raya Lembang-Subang.Ck..ck… jangan kalian tanya bagaimana rasanya, pagal-pegal, capek pasti karena entah berapa kilometer sudah yang kami tempuh. Tapi semua itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan, lukisan alam dari kuas-kuas Yang Maha Sempurna tlah membius penglihatan kami. Dan kami ingin kembali lagi dan lagi………..

Jika ingin lihat photo-photonya silahkan klik disini

SURAT PERNYATAAN

Published January 5, 2012 by Momo Morteza

SURAT PERNYATAAN

Assalamu’alaikum.Wr.Wb

Dengan ini saya ******* menyatakan bahwa tugas workshop 1 yang terkirim pertama kali adalah hasil copy paste materi yang diperoleh dari internet. Terutama materi yang berkaitan dengan no 1 dan 2. Saya hanya membaca hasil pencarian di internet mana yang sesuai langsung mengopinya. Terima kasih saya ucapkan kepada Bu Farida yang masih memberi kesempatan kepada saya untuk memperbaiki tugas ini. Hasil ini sama isinya dengan apa yang saya kirimkan pertama, hanya mungkin bahasanya agak kurang pas, sulit dipahami dan dan tidak sesuai dengan EYD. Materi no 1 dan 2 saya baca beberapa kali, apa yang menurut saya penting, saya tuliskan dengan bahasa saya sendiri. Jujur saja bu, sampai semester V ini dalam menyusun suatu makalah atau tugas dari dosen, saya hanya mencari materi di internet tinggal pakai saja. Dan saya yakin, itu banyak dilakukan oleh mahasiswa. Ya karena, kita tinggal mengerjakan tugas, tugas sampai ke tangan dosen dan dosen pun banyak yang yang tidak tahu, kurang tahu atau tidak mau tahu bagaimana mahasiswanya dalam mengerjakan tugas. Sehingga kita merasa nyaman saja terhadap apa yang kami lakukan. Untuk itu, saya mengucapakan banyak terimakasih kepada bu Farida yang telah memberikan nasihat dan pelajaran kepada saya agar diri ini menjadi lebih baik lagi. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran bagi saya selama megerjakan tugas ini. Pelajaran itu misalnya:

1.Belajar menghargai karya orang lain dan karya diri sendiri

Ini saya rasakan, ternyata untuk meyusun tulisan saja sulit dan butuh waktu yang tidak sedikit.

2.Belajar menulis, mengali potensi, dan belajar mencurahkan ide dengan tulisan.

Ternyata untuk mengungkapkan sesuatu dengan tulisan lebih sulit daripada mengucapkan langsung. Belum tentu apa yang kita tuliskan bisa dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, kita belajar memilih kata kata agar apa yang kita maksudkan bisa diterima orang lain.

3. Belajar memberikan kesempatan kepada orang lain yang untuk memperbaiki

dirinya.

4.Belajar memanfaatkan waktu, ternyata waktu yang tersedia, kita akan selalu

merasa kurang jika dibandingakan dengan tugas-tugas yang harus kita lakukan.

5.Belajar peduli kepada orang lain, jika ada orang di sekeliling kita yang

melakukan kesalahan, maka bentuk kepedulian kita adalah mengingatkannya

Mungkin itu saja yang bisa saya ungkapkan,bu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk menjadi yang lebih baik.Aamiin. Jika banyak salah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wassalam.

Begitulah surat pernyataan yang saya terima lewat email, plus dengan attachment tugas yang sudah diperbaiki dan ditulis ulang. Selain surat tersebut, terkait dengan kejadian yang sama, saya didatangi seorang mahasiswi yang dengan penuh keberanian mengakui kesalahannya telah menyelesaikan tugas dengan hanya copy-paste dari berbagai sumber di internet tanpa meraciknya kembali dalam tulisannya dan bahkan tidak menuliskan sumber-sumber yang telah dicopy-nya tersebut.

Kejadian-kejadian seperti ini begitu berarti dan sangat berharga. Saya sendiri menjadi berpikir bahwa barangkali karena keteledoran atau keacuhan yang mungkin tidak disengaja dapat membentuk nilai-nilai yang tidak seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Seandainya saja, hal ini terus berlanjut hingga mahasiswa lulus. Barangkali mereka akan bersikap sama seperti ketika dosennya mengajar, sehingga siswa-siswanyapun akan memiliki sikap yang sama dengan sang guru ketika menjadi mahasiswa. Bayangkan berapa banyak sudah pribadi yang memiliki sikap sedemikian rupa?….

Dari kisah tersebut, saya teringat kembali pepatah “guru kencing berdiri maka murid kencing berlari”……. Jika pepatahnya demikian maka “dosen kencing…….” Ada yang tahu jawabnya? :)

Akhirnya sebagai pengajar, sudah semestinya untuk banyak-banyak bertaubat…. Terima kasih pada para mahasiswa yang sudah memberikan banyak pelajaran berharga sepanjang perkuliahan kita. Semoga ada ilmu yang kalian dapatkan, dan semoga ilmu tersebut kelak dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi diri kalian dan sesama, tentulah ada salah yang diperbuat tanpa disadari, janganlah ditiru agar dosa saya tidak tumbuh menjadi pohon ekponensial, dan jangan lupa berikan maaf kalian dengan ikhlas :) .

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL

Published December 8, 2011 by Momo Morteza

salah satu komponen yang harus dikuasi guru adalah menentukan tingkat ketuntasan belajar siswanya, oleh karen itu dibutuhkan instrumen sebagai pembandingnya. Untuk itu, guru harus membuat kriteria ketuntasan minimal atau yang biasa dikenal dengan KKM. berikut adalah paparan bagaimana menentukan KKM untuk suatu mata pelajaran :
Pertemuan 10

Membuat Rancangan Penilaian Hasil Belajar

Published November 9, 2011 by Momo Morteza

Salah satu bagian utama pada proses penyusunan persiapan pengajaran baik terintegrasi dalam silabus maupun RPP adalah merancang penilaian hasil belajar. berikut adalah ulasan tentang materi tersebut, yang disarikan dari bahan-bahan sosialisasi KTSP Dekdikbud tahun 2006. materi ini merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasi mahasiswa FKIP pada mata kuliah perencanaan program pembelajaran matematika.
Pertemuan 9