Feeds:
Posts
Comments

Pertanyan itu tiba-tiba saja muncul dalam pikiran saya seperti sebuah remah makanan yang menyangkut di sela-sela gigi. Mengganjal. Jangan-jangan, sesungguhnya tidak ada alasan yang cukup logis untuk mencintai Negara yang bernama Indonesia ini J. Saya tidak bermaksud provokatif, tapi begitulah buah pikiran saya, terkadang mengalir begitu saja tak bisa dibendung. Untuk itu, saya pikir, perlu mencari jawabannya.

Pada awalnya saya berpikir ulang, sebenarnya sejak kapan saya “merasa” cinta Indonesia, oh mungkin tepatnya bukan itu ya, maksudnya Sejak kapan sebetulnya saya merasa menjadi orang Indonesia? Mungkin saja ini pengaruh dari film seri ACI (Aku Cinta Indonesia) yang dulu merupakan hiburan paling Te-O-Pe-Be-Ge-Te di layar TVRI, satu-satunya staiun televisi di Negara Indonesia.

Saya jadi teringat akan suatu masa remaja, ya kira-kira antara usia 10 – 15 tahun lah,  ketika kala itu saya pernah berpikir betapa asyiknya jika saja saya terlahir menjadi seorang anak blasteran eropa. Berdasarkan fakta yang saya temui kala itu, betapa enaknya jadi anak blasteran, punya lebih banyak kesempatan dan kelebihan, dari bentuk fisika yang jauh lebih menarik hingga kesempatan yang begitu besar menjadi seorang aktris atau actor atau bahkan hanya untuk terkenal dan dikagumi banyak orang saja. Yang jelas sejak masa itu saya mempunyai pemahaman “segala sesuatu yang berasal dari luar negri itu keren, keren, dan keren”. (oh, bukan berarti waktu remaja cita-cita ingin jadi orang terkenal lho….). tidak hingga sekarangpun segala sesuatu yang berbau luar negri, masih menjadi suatu hal yang dianggap keren. Mau bukti? Lihat saja salah satu iklan minuman sari buah yang dengan bangga memamerkan asal dari buah-buah yang digunakan sebagai bahan baku yang tidak satupun menyebutkan buah local. Sungguh menyedihkan!

Kembali ke pertanyaan semula. Mungkin karena saya lahir di indonesia maka sudah semestinya saya mencintai Indonesia ya. Eh, kalau begitu, seandainya saya lahir di Amerika, maka saya harus cinta Amerika?! Akh,… kalau begitu, si Livvy, salah satu siswa saya sewaktu di Al-Azhar 28 Solo, maka akan cinta Inggris, karena dia lahir di Liverpool walaupun ayah-ibunya asli orang jawa.  Oh,… bukan begitu. Mungkin, saya harus cinta Indonesia karena Bapak dan Ibu saya, juga seluruh keluarga besar saya adalah orang Indonesia. Lho,.. kalau memang begitu, berarti mereka yang ayah-ibunya beda asal Negara harus membagi cintanya pada kedua Negara itu donk. Akh,.. pasti tidak mudah, ada Negara harus di madu.

Mungkin juga, terlepas dari asal usul oarng tua ataupun tempat saya lahir, karena saya tumbuh, besar, dan menetap di Indonesia sehingga saya harus cinta Indonesia. Seperti juga karena saya tumbuh dan besar di bekasi, sehingga saya cinta pada kota itu, walaupun saya sendiri tidak lahir di kota itu. Namun setelah saya hijrah untuk menuntut ilmu dan bekerja di kota Solo, saya juga jadi cinta kota itu. Mungkinkah cinta pada Negara sama dengan  cinta pada suatu kota?

Hm,.. seperti anak yang sudah dijodohkan sejak dalam kandungan saja, hanya mengenal dia saja yang pantas untuk dicintai, begitulah sepertinya cinta pada Indonesia yang selama ini saya rasakan. Kalau sekarang saya ingin meredefinisi perasaan cinta saya pada Indonesia, maka saya akan mencintai Indonesia karena saya memang ingin mencintai negri ini, tak perlu alasan apapun. Bukankah cinta memang begitu? Bila kau masih menemukan setidaknya satu saja alasan atas dasar cinta yang kau miliki, maka cinta itu masih perlu dipertanyakan kemurnian dan ketulusannya.

Pertanyaan selanjutnya yang masih perlu direnungkan tentu adalah, bagaimana seharusnya mencintai Indonesia? :)

(Gerlong, januari 2010. Menunggu Popo pulang)

Berbicara tentang suatu proses berpikir secara umum, terdapat banyak hal yang terlibat dalam proses tersebut sejak awal. Diantaranya adalah peran ingatan atau memori serta perosesan informasi. Sudah semestinya perlu diketahui konsep tentang model ingatan dan pemrosesan informasi agar dapat melakukan analisa lebih jauh suatu proses berpikir.

Sebelum mengupas lebih lanjut tentang kedua hal tersebut, perlu mengenalkan lebih dahulu konsep yang juga juga terkait dengan keduanya. Yaitu, konsep tentang persepsi. Menurut Suharnan, 2005  persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus(rangsangan) yang diterima oleh alat indera  seperti, mata, telinga dan hidung. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa persepsi adalah proses penginterpretasian informasi yang diterima menggunakan alat indera.

Ada 3 aspek yang relevan dalam persepsi  yang berhubungan dengan kognisi manusia yaitu, pencatatan indera, pengenalan pola dan perhatian. Aspek pertama, pencataan indera adalah sebuah sistem ingatan yang dirancang untuk menyimpan sebuah rekaman mengenai informasi yang diterima oleh sel-sel reseptor. Pencatatan indera juga dikenal sebagai ingatan sensory yang dibedakan menjadi dua macam yaitu, iconic yaitu sistem pencatatan indera terhadap informasi visual, gambar dan benda konkrit dan echonic yaitu  sistem pencatatan indera terhadap informasi berupa suara.

Aspek kedua, pengenalan pola adalah proses transformasi dan pengorganisasian informasi yang masih kasar agar mempunyai makna atau arti tertentu. Aspek ini lebih dalam dari hanya sekedar menyimpan informasi yang masuk melalui reseptor, dengan kata lain dapat pula dikatakan bahwa aspek pengenalan pola ini adalah sebuah upaya untuk menata informasi yang masuk sesuai dengan karakteristik yang menonjol untuk ditempatkan sesuai dengan jenisnya.

Perhatian adalah aspek yang ketiga,  yang diartikan sebagai proses pemusatan aktivitas mental atau proses konsentrasi pikiran dengan mengabaikan rangsangan lain yang tidak berkaitan. Aktivitas ini menuntut pemusatan konsentrasi pikiran pada hal-hal yang menonjol dari sebuah informasi dan bekerja secara intens terhadap informasi tersebut dengan mengabaikan hal-hal yang tidak terkait.

Ingatan atau memory merujuk pada proses penyimpanan atau pemeliharaan informasi yang telah diperoleh seorang individu sepanjang masa. Hampir semua aktivitas manusia baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor pasti melibatkan ingatan. Oleh karena itu ingatan menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai proses yang dialami manusia.(Ellis dan hunt, 1993; Matlin, 1989).

Berikut adalah tiga model ingatan yang berkaitan dengan pemrosesan informasi; yang pertama adalah model yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffrin yang membedakan ingatan jangka pendek (Short Term Memory) dan ingatan jangka panjang (Long Term Memory), yang kedua adalah model ingatan yang diajukan oleh Craik dan Lockhart yang menekankan pada tingkatan proses informasi didalam ingatan dan yang ketiga adalah ingatan episodik dan ingatan semantik (dalam Suharnan, 2005).

Model ingatan menurut Atkinson dan Shifrrin didasarkan kepada pemrosesan informasi. Berdasarkan model ini, informasi yang diterima kemudian diproses melalui pencatatan indera menuju pada ingatan jangka pendek, dan akhirnya sampai pada penyimpanan yang lebih permanen di dalam ingatan jangka panjang. Menurut model ini informasi dimasukkan dan di oleh melalui 3 tahap( Huitt, W ;2003).


Gambar 1. Diagram Model Ingatan Pemrosesan Informasi

Pemindahan informasi dari ingatan indera (ingatan sensori)menuju pada ingatan jangka pendek akan dikendalikan oleh perhatian. Jika proses informasi dalam ingatan jangka pendek sudah dikendalikan, maka informasi itu akan melakukan fungsi ingatan. Proses pengendalian yang paling penting dalam ingatan jangka pendek adalah rehearsal atau repetition, yaitu pengulangan informasi dalam pikiran.

Sedangkan menurut model pemrosesan informasi, orang dapat menganalisis informasi menurut cara-cara yang berbeda, dari proses yang paling dangkal hingga yang paling dalam (tentang makna). Menurut Craik dan Lockhart suatu proses pengulangan informasi (rehearsal) dibedakan menjadi pengulangan untuk pemeliharaan dan untuk elaborasi atau pendalaman. Pemrosesan informasi pada tingkat yang lebih dalam akan meningkatkan kinerja penggalian kembali informasi di dalam ingatan(recall) karena adanya faktor yang menonjol (distinctiveness) dan pemerincian (elaboration).

Model ingatan episodik dan semantik diperkenalkan oleh Endel tulving(Matlin, 1989). Ingatan episodik menyimpan informasi mengenai kejadian-kejadian dan hubungan-hubungan masing-masingkejadian itu, bersifat temporer dan berkaitan dengan perubahan peristiwa. Sedangkan ingatan semantik adalah pengetahuan yang terorganisasikan mengenai segala sesuatu yang ada dalam kehidupan. Ingatan semantik ini berkaitan erat dengan perngertian, konsep, ide dan fakta.

Paragraf-paragraf di atas memaparkan tentang beberapa dasar dalam bidang psikologi kognitif. Pada awal perkembangan psikologi kognitif, para penganut paham behavioristik menganggap bahwa metode-metode penelitian psikologi kognitif tidak ilmiah. Namun, ketika muncul perkembangan era komputer dimana program-program komputer dapat dipelajari meskipun proses kinerjanya tidak terlihat dapat menjadi dasar yang kuat untuk menolak pandangan para penganut paham psikologi behavioristik.

Seiring berkembangnya bidang psikologi kognitif, tren tentang pengertian belajar dalam dunia pendidikan juga ikut berkembang. Peneliti dan pakar banyak bermunculan dalam upaya membahas topik yang berkaitan dengan “proses belajar” ditinjau dari sudut pandang psikologi kognitif yang cenderung condong kepada pengertian “proses berpikir”. Berbagai teori bermunculan. Namun, pada akhirnya pertanyaan besar muncul, “Bagaimana memanfaatkan teori-teori tersebut dalam dunia pembelajaran kita dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar khususnya di negara Indonesia tercinta ini?”

Pertanyaan besar itu sudah semestinya memicu para peneliti dalam bidang pendidikan untuk mencoba menjawabnya. Last but not least, rasanya perlu juga dipikirkan mana yang lebih penting ya, meneliti bagaimana karakteritik pola pikir masyarakat Indonesia secara umum atau  meneliti karakteristik pola pikir para pemimpin Negara Indonesia ini ya? Agar dapat diketahui dimana letak anomalinya sehingga bangsa yang amat kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia ini tidak jua menjadi bangsa maju setelah merdeka puluhan tahun. ^_*

(Gerlong, 22 Januari 2010)

Older Posts »